Minggu, 07 Juni 2009

AGAMA HINDU DAN BUDDHA DI MATA SEORANG MUSLIM


Saya berpikir beberapa kali untuk menulis ini karena khawatir tulisan ini disalahpahami oleh orang yang membacanya. Khawatir bila ada saudara saya yang muslim menilai tulisan ini sebagai bentuk pengakuan saya terhadap agama Hindu dan Buddha sebagai keyakinan sehingga tidak mustahil mereka akan men”cap” saya murtad. Sementara saya takut ada pula orang Hindu dan Buddha yang melihat ada kesalahan fatal dari tulisan saya dan menganggap itu sebagai suatu pelecehan.

Maksud dari tulisan ini semata hanya ingin “menyambungkan” rasa sebagai sesama pemeluk beragama yang ingin lebih memaknai agama sebagai media penyatu dan pendamai antar umat manusia, bukan sebaliknya. Sehingga apabila saya mencoba untuk memandang Agama Hindu dann Buddha dari perpektif saya sebagai muslim maka saya harap ini dipandang sebagai usaha saya mencoba menjawab beberapa pandangan negative orang non Hindu/Buddha terhadap Agama Hindu/Buddha dan berpotensi terjadinya kesalahpahaman.

Tulisan ini juga tidak bemaksud untuk membela atau menyalahkan agama tertentu (kapasitas saya jauh dari kemampuan untuk itu) tapi lebih sebagai ungkapan dari pemahaman saya terhadap agama yang menurut saya paling banyak disalahpahami oleh penduduk Indonesia yang mayoritas muslim. Oleh karena itu jangan heran dalam tulisan ini tidak ada istilah atau ungkapan yang bernuansa suatu agama. Hanya kata dan bahasa sehari-hari.

Semoga bermanfaat bagi semua pihak.

Beberapa Pandangan Keliru Tentang Agama Hindu

Pada waktu saya kecil, ada beberapa hal yang mengganggu saya tentang agama Hindu. Pandangan atau kesalahpahaman ini tidak terlepas dari kurangnya informasi yang saya dapatkan tentang Agama Hindu dan Budha. Ditambah dengan penjelasan dari orang lain (guru atau orang tua) yang semakin menenggelamkan saya ke jurang salah paham.

Namun setelah membaca beberapa buku tentang Agama Hindu dan Budha, pandangan saya terhadap kedua agama ini mengalami pencerahan dan pemahaman yang lebih mendalam. Dengan pandangan baru ini, saya bisa lebih memahami mengapa Agama ini bisa berkembang dan menjadi salah satu agama yang banyak dianut di dunia ini.

Beberapa pandangan yang salah dari masyarakat non Hindu tentang agama Hindu diantaranya ialah :

1. Hindu adalah agama seribu Tuhan/Dewa.

2. Hindu adalah agama bumi/ciptaan manusia.

3. Reinkarnasi .

4. Kasta.

Dan berikut adalah pandangan saya tentang keempat masalah diatas :

1. Hindu adalah agama seribu Tuhan/Dewa.

Saat remaja saya memandang Hindu adalah agama yang politeis, yaitu agama yang percaya pada banyak Tuhan. Bahkan dibeberapa buku ada yang mengatakan Dewa yang disembah di India bisa mencapai ribuan nama dan bentuk.

Setelah menyimak dari ”hanya” beberapa buku, saya menangkap bahwa agama Hindu pun hanya memiliki satu Tuhan !! kalaupun ada seribu nama dan bentuk, itu semua hanyalah interpretasi dari umat Hindu dalam menggambarkan sifat-sifat Tuhan. Tuhan ada sumber dari segala fenomena alam, baik yang bersifat baik, putih, buruk atau hitam. Dunia tercipta dalam harmonisasi keberlawanan dan itu memunculkan sebuah fenomena keberbedaan tersendiri yang ditangkap oleh umat Hindu.

Misalnya ada Dewa Wisnu sebagai perwujudan dari sifat Tuhan yang pemelihara, ada Dewa Shiwa yang menggambarkan sifat Tuhan yang mengakhiri segala sesuatu dan dewa Brahma yang menggambarkan sufat Tuhan sebagai pencipta. Namun yang sering salah dipahami, orang menganggap bahwa ketiga Dewa tersebut adalah tiga ”wujud” yang berbeda dan terpisah. Padahal, ketiga sifat pokok diatas adalah merupakan satu sifat dari Tuhan yang satu.

Begitu pula dengan banyak Dewa/Dewi lainnya. Karena Tuhan adalah sumber dari segala bentuk dan sifat maka Tuhan pun pasti memiki sifat maskulin dan feminin yang digambarkan dalam bentuk Dewa/Dewi lengkap dengan sifat-sifatnya.

Mungkin hal ini sama dengan konsep Trinitas dalam Agama Kristen dan 99 Nama Baik bagi Allah dalam Islam. Mungkin....maaf kalau salah!

Yang sering disalahpahami juga adalah bentuk-bentuk Dewa yang disembah umat Hindu. Dengan berbagai bentuk dan corak, patung Dewa/Dewi ini sering disalahpahami sebagai bentuk ”banyaknya Tuhan” agama Hindu. Misalnya ada dewa dengan empat muka menghadap berlawanan, Dewa Bertangan empat, enam atau delapan yang memegang berbagai alat.

Tuhan Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Maha penguasa. Semua sifat ini pun digambarkan dalam bentuk interpretasi manusia melalui simbol dan seni tertentu untuk menggambarkannya. Jumlah kepala, tangan, perkakas, ekspresi dan bentuk adalah gambaran manusia tentang sifat Tuhannya. Umat Hindu sangat terkenal dengan kemampuannya dalam bidang karya seni karena mereka terbiasa untuk mengeksplorasi ketuhanan dalam dirinya dalam setiap ciptaannya. Merupakan sebuah ”kebanggaan” dan ”memiliki nilai ritual” apabila umat Hindu menciptakan sesuatu khususnya yang berhubungan dengan ritual, karena proses penciptaan manusia yang tergambarkan melalui karya seni juga merupakan representasi dari hakekat ”Tuhan” dalam diri setiap umat Hindu. Jadi saya melihat proses penciptaan dari rasa seni umat selalu memiliki nilai ”ibadah” sehingga proses penciptaan lebih terasa leluasa dan bebas mengekspresikannya ke dalam bentuk Dewa/Dewi mereka.

Jadi anggapan kalau Agama Hindu itu memiliki ”seribu” Tuhan tidaklah tepat. Karena mereka sebenarnya hanya memiliki satu Tuhan dalam beribu makna dan simbol dari sifat-sifat ketuhannya.

2. Hindu adalah agama bumi/ciptaan manusia.

Saya tidak tahu betul siapa sebenarnya yang membagi agama ke dalam dua bagian yaitu agama bumi atau ciptaan dan hasil perenungan manusia dengan agama langit yaitu agama yang berasal dari Tuhan. Yang jelas pasti dikotomi itu bukan berasal dari pemeluk agama Hindu maupun Buddha.

Pembagian agama ”manusia” dan agama ”Tuhan” bagi saya tidak berdasar sama sekali. Karena hakekatnya semua tindakan manusia dan alam ini tidak akan pernah terlepas dari campur tangan Tuhan, dan tidak ada campur tangan Tuhan yang mutlak langsung kepada manusia tanpa melalui media dan bahasa manusia.

Jangankan pada tataran penciptaan sebuah agama yang luhur, lengkap dan indah, bahkan ketika seseorang menulis satu huruf ”A” di sehelai kertas, Apakah aktifitas orang tersebut semata-mata hanya tulisan manusia saja tanpa ada campur tangan dari Tuhan? Atau sebenarnya Tuhan juga berperan dalam aktifitas yang dilakukan orang itu. Bukankah orang itu bisa menulis huruf karena manusia sebenarnya memiliki ”ilmu Tuhan” dalam dirinya? Bukankah ”sebab” Tuhan yang membuat tangan, otak, syaraf dan ototnya mampu bergerak untuk menulis huruf itu? Bukankah, setiap desah dan hembusan nafas manusia pun tidak pernah lepas dari tangan Tuhan?

Lantas apa alasannya bila ada yang menganggap bahwa Agama Hindu dan Budha itu adalah agama ciptaan manusia? Alangkah hebatnya manusia bila bisa menjadi pesaing Tuhan dalam menciptakan ”agama” tanpa campur tangan Tuhan didalamnya!

Adapun agama yang mengklaim sebagai agama Tuhan atau langit, bukankah juga melibatkan manusia, tangan, mulut dan pikiran manusia untuk bisa diterima bumi dan manusia? Sehigga tidak mustahil ”keterlibatan” sifat-sifat manusia atau naluri kemanusiaan menjadi ada di dalam perkembangan dan peluasan agama apapun juga.

Keyakinan saya akan tidak perlunya dikotomi agama bumi dan langit juga karena alasan yang nyata, yaitu ”TUHAN SAJA MEMBIARKAN DAN MEMBEBASKAN SEMUA AGAMA UNTUK BERKEMBANG DAN MENYEBAR DI DUNIA INI, PADAHAL KALAU HANYA SATU AGAMA YANG TUHAN KEHENDAKI MAKA, TIDAK SULIT BAGI-NYA UNTUK MEMBINASAKAN DAN MENGHANCURKAN AGAMA YANG TIDAK DIA KEHENDAKI

Jadi bagi saya, pen-dikotomi-an agama bumi dan langit sangat bisa jadi berpeluang menciptakan kasta dan kelas dalam meng-”klaim” kebenaran. Pembagian ini telah membuat Agama Hindu dan Buddha dalam kelas nomor dua dan dianggap sebagai agama kuno, pagan dan politheism karena agama itu seolah diciptakan oleh manusia jaman dahulu ketika perkembangan pengetahuan belum sehebat jaman sekarang.

Oleh karena itu maka kita harus memandang semua agama sebagai agama Tuhan karena memang Tuhanlah sumber dari segala ilmu, kebenaran, kebijakan dan pengetahuan. Dengan demikian semua agama adalah setara dalam kedudukannya dibumi dan dilangit.

3. Reinkarnasi

Dianggap aneh dan mustahil karena berbeda dengan anggapan banyak kepercayaan yang mempercayai bahwa kehidupan ini bersifat linier. Lahir-hidup-mati dan diakhiri dengan ”final” di Sorga atau Neraka. Sementara dalam rainkarnasi sifat hidup itu sendiri adalah dinamis dan siklikal.

Dalam reinkarnasi kematian manusia bukanlah akhir dari kehidupan itu sendiri, namun menjadi pemberhentian sementara sebelum memasuki kehidupan berikutnya yang diseesuaikan dengan karma dalam kehidupan sebelumnya.

Dalam reinkarnasi, jumlah jiwa di alam raya ini akan tetap, namun dalam bentuk dan perwujudan yang berbeda. Dalam reinkarnasi, semua benda di alam raya ini memiliki jiwa dan ruh dari hasil perputaran jiwa dan karma. Bahkan nilai sebuah pohon sama tingginya dengan manusia karena memiliki sifat ketuhanan yang sama, walaupun dalam bentuk manusia adalah sebuah kesempatan terbaik untuk memperbaiki karma itu sendiri.

Masalah kepercayaan mana yang paling benar tentang kematian, akhirnya semua agama dan kepercayaan menyerahkan kepada satu hal yang disebut dengan ”Keyakinan” masing-masing disesuaikan dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Toh karena memang tidak ada satu agama pun yang bisa membuktikannya secara empiris dari rahasia kematian. Untuk itu, tidak alasan kita saling melecehkan dan menghina kepercayaan orang lain khususnya dalam menyikapi kematian. Bahkan dengan membandingkannya kita bisa memiliki alternatif dalam menyongsong kematian.

4. Kasta

Sasaran tembak berikutnya yang paling banyak disorot adalah kasta. Sebuah status atau strata sosial yang dilatarbelakangi oleh agama. Ada yang menganggap bahwa kasta adalah bentuk pejajahan atau hegemoni dari bangsa Arya terhadap bangsa Dravida.

Kalau kita lihat kasta sebagai sebuah sebab, maka kita akan melihat kasta sebagai sebuah kesenjangan sistematis yang dibuat manusia untuk menguasai manusia lainnya. Namun akan berbeda pandangan kita kalau melihat kasta sebagai sebuah akibat.

Akibat dari ”karma” yang dilakukan manusia selama hidup dan harus dibayar dikehidupannya yang lain dalam bentuk menjalani kehidupan dalam kasta rendah atau tinggi. Jadi kita akan memandang kasta sebagai ”hukuman” atau ”pahala” bagi kehidupan manusia sebelumnya. Karena kasta hanyalah salah satu bentuk kehidupan lain yang akan diterima manusia sebagai akibat dari apa yang pernah dilakukan pada kehidupan sebelumnya. Bahkan manusia sendiri hanyalah sebagai salah satu bentuk wujud dari berbagai bentuk wujud kehidupan yang akan dialami manusia selama jiwanya masih tergantung di dunia ini. Tumbuhan, hewan dan kehidupan tanpa raga juga menjadi bentuk yang tidak mustahil dialami setiap jiwa.

Begitulah uraian singkat saya tentang Agama Hindu dari sudut pandang non Hindu. Bukan pembelaan bukan pula bentuk rasa ”sok tahu” dari orang yang baru membaca buku, bukan! Tapi merupakan sebuah refleksi dan hasil renungan untuk bisa memberikan sebuah wacana lepas bagi semua pemeluk agama dalam upaya menjembatani komunikasi dan rasa menghargai antar pemeluk agama. Dalam tulisan ini saya tidak berani untuk mencari-cari persamaan atau memaksa mencari ”kesamaan” antar agama, karena memang tidak ada pemeluk yang mau disamakan dengan agama lain, khususnya dalam meng-klaim kebenaran paling hakiki, khususnya yang berhubungan dengan kepercayaan dan keyakinan beragama.

Kekurangan kita selama ini (diseluruh dunia), adalah keengganan untuk mempelajari dan memahami agama lain karena alasan khawatir mengganggu keimanannya sendiri. Padahal sebenarnya, kekhawatiran itu tidak berasalan selama kita yakin bahwa agama apapun pada hakekatnya berasal dari satu Tuhan, dan agama apapun yang kita anut telah berada dalam jalurnya masing-masing menuju Tuhan.

Mahatma Gandhi pernah menolak pemeluk agama Kristen yang ingin pindah agama ke Hindu dengan alasan bahwa keinginannya untuk mencari jawaban tentang Tuhan tidak akan berhasil bila kita tidak benar mencarinya....! Tuhan ada disetiap agama. Padahal di lain pihak begitu banyak orang yang dengan ”kasar” merebut keimanan orang lain untuk berpindah agama. Berbagai upaya dan usaha dilakukan oleh ”oknum” beragama untuk berlomba menambah kuantitas pemeluknya bahkan dengan sesuatu yang dangkal, kering dan mentah seperti melalui pemberian harta, iming-iming ataupun intimidasi.

Seandainya semua agama tidak lagi mempermasalahkan kuantitas pemeluk namun lebih mengutamakan penerapan dan pelaksanaan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari, mungkin jalannya sejarah akan berbeda. Darah dan nyawa tidak akan diobral untuk dikorbankan atas nama Tuhan atau atas nama membela kebenaran hakiki, karena sebenarnya kebenaran mutlak itu hanyalah milik Tuhan semata. Manusia hanya bertugas untuk mencarinya, mencapainya sesuai dengan interpretasi manusia yang serba relatif dan terbatas ruang serta waktu.

Semoga ini bisa menjembatani dialog berikutnya untuk saling memahami. Semoga....

Bandung, 4 Juni 2009

14 komentar :

Komentar mengatakan...

Yth. Bp. Imam Wibawa Mukti
Saya sebagai orang Hindu sangat berterimakasih atas pandangan anda tentang Hindu, dengan berdasarkan konsep yang saya (maaf saya nilai ) sebagai suatu dasar perenungan yang cukup sempurna bagi saya. memang demikianlah Hindu, bahkan anda lebih menyempurnakan pemahaman itu dalam kasta sebagai suatu sebab dan kasta sebagai akibat, malah kalangan Hindu saja tak mampu memahaminya demikian. Semoga kedamaian akan selalu berpihak pada kita, orang yang mau memahami kehidupan ini bukan sekedar toleransi tapi jauh di atas toleransi itu.
Hormat Saya: Ida Bagus Gde Parwita

mademega mengatakan...

Yth. Bapak Imam Wibawa Mukti
Saya adalah seorang penganut hindu sampai saat ini. Saya pernah kuliah di IKIP Muhammadiyah Jakarta. Maaf kalau ditinjau dari pandangan Islam, Bapak Imam ini termasuk orang yang thauhidnya harus dibenahi, karena menurut pandangan Islam, Islam adalah agama wahyu satu-satunya yang paling benar di mata Allah/Tuhan, dan bagaimanapun baiknya amal perbuatan seseorang tidak akan diterima Allah/Tuhan jika yang bersangkutan belum masuk Islam.
Justru pandangan inilah yang membuat saya masih memeluk agama Hidu, karena tidak masuk di akal saya, katanya Allah/Tuhan maha pengasih, maha penyayang, maha pengampun, eee malah-malah kok Allah/Tuhan diskriminatif.
Kembali ke masalah paparan Bapak Imam tetang agama hindu, saya yakin seyakin-yakin dunia ini akan damai kalau semua orang non Hindu/non Budha memiliki wawasan keagamaan seperti Bapak Imam.
Hormat saya : I Made Mega

jimmy tahir mengatakan...

permisi saya seorang pemeluk agama budha..
Terima kasih sebelumnya sudah berbagi pandangan
Mungkin bagi pemeluk agama muslim yang lain, pendapat anda bisa" di cekal habis-habisan,karena penjelasan anda mengenai kasta, seakan" anda yakin dengan hukum karma yang di mana tidak di perbolehkan bagi agama agan sendiri...
Berikut,, saya amat setuju dengan pendapat anda .. Bila agama yang lain adalah salah,, adalah hal yang mudah bagi tuhan untuk membinasakannya ,ini adalah pernyataan yang tidak akan bisa di cekal dari sudut manapun.. ...
Di sini anda berusaha meluruskan,, bahwa semua aga itu di kehendaki tuhan..

Namun dari pandangan saya sendiri.. Adalah terlepas dari pandangan agama manapun,, karena saya punya keimanan pada diri saya sendiri. Agama terbenar dan di anut semua orang di dunia ini adalah hati nurani dan fikiran mereka masing" karena melalui fikiran kita bisa melihat hati nurani kita , dengan hati nurani kita bisa melihat kebenaran tanpa pandang bulu ..

Antisosialer mengatakan...

Seandaikan semua pemeluk agama mau pengertian seperti anda,saya yakin negara ini akan damai dan sejahtera dalam kehidupan beragamanya..saya sebagai salah satu warga Hindu di Indonesia mengucapkan banyak terima kasih telah mengerti dan setidaknya mau memahami cara kami dalam menjalankan kepercayaan kami..
Ida Sang Hyang Widhi wasa pasti melihat semua perbuatan anda dan mmberikan berkahnya..

Guli Mudiarcana mengatakan...

ulasannya lumayan, tetapi masih ada sedikit kekeliruan, akibat derasnya gempuran kaum adharma yang ingin menyesatkan umat Hindu.

masalah kasta, kesalahan yang disengaja guna menyesatkan masyarakat dunia terhadap agama Hindu. Dalam kitab Weda tidak ada istilah kasta yang ada adalah Catur Warna yang terbentuk akibat interaksi dinamis tiga sifat bawaan (TRIGUNA) dan Perilaku sehari hari (KARMA)

Baca selengkapnya di:

http://dharmagupta.blogspot.com/2012/04/kasta-dan-catur-warna.html

Anonim mengatakan...

Seandainya ada lebih banyak manusia ber"otak" dan lebih ber"akal"
mungkin pertikaian dengan unsur agama bisa berkurang.
Hanya sedikit melengkapi, benar dalam hindu hanya ada satu tuhan. Dan dewa - dewi hanyalah bentuk manifestasi tuhan. (semacam penggambaran sifat2 tuhan), dan hindu tidak menyembah patung. Patung dibuat hanya sebagai simbol tuhan karena keterbatasan manusia untuk menggambarkan sifat2 tuhan yang jauh diluar daya pikir manusia.

soal kasta, saya kurang tau tuh.
Sebagai seorang umat hindu, saya berterimakasih karena masih ada umat lain yang mampu menghargai keyakinan kami.

Salam.

Alex Wiguna mengatakan...

yang jelas jangan hapus budayamu, itulah agamamu yang adi luhung,

Tofik Hidayat mengatakan...

Setiap agama ada perantara/orang yg sbg penerima wahyu dan menyampaikan wahyu ke umat/manusia lain utk di sebarkan. Seprti Buddha yaitu Si Dharta Gautama, Kristen dg Isa/yesus, Nasrani dengan Musa, dan Islam dg Muhammad. Siapa penerima wahyu bgi agama Hindu??

Anonim mengatakan...

Maaf, menurut saya pendapat anda tentang Sidharta Gautama menerima wahyu itu sedikit salah. Sidharta Gautama tidak menerima wahyu, melainkan mencapai kesadaran tertinggi/mencapai pencerahan atas usahanya sendiri.

deep blue sea mengatakan...

Semoga Tuhan selalu menentramkan hati setiap umat penyembah Tuhan diatas bumi ini agar kedamaian tercipta dan kebencian mereda diantara setiap umat penyembah Tuhan apapun agamanya.

Mohammad Alpani mengatakan...

Saya ingin share / dialog dengan saudara I Made Mega. kalau tidak keberatan ini alamat email saya : alpani.bataM@gmail.com

Anonim mengatakan...

abang Tofik :D maaf sebelumnya Di Hindu tentu ada yang menerima wahyu atau mendapatkan pencerahan tertinggi, yaitu Rsi :D dan juga Krisnha sebagai manifestasi Tuhan yang turun kedunia, pernah bersabda di dalam Bhagawad Githa, bahwa apapun agamamu, asalahkan itu membawa kebaikan bersama, membela dharma, ataupun melawan adharma itulah agamaku, entah itu namanya hindu ataupun budha, entah kau memujiku dengan Hare Krisnha ataupun paramashiva.

Anonim mengatakan...

http://mualaf-alhamdulillah.blogspot.com/2012/06/ternyata-sidharta-buddha-gautama-adalah.html?m=1

Yoga Sugama mengatakan...

@tofikhidayat kenapa anda menyudutkan agama hindu??cobalah berpikir jika agama yg kalian anut disudutkan ?? Jadi sebelum commend macem" introspeksi dulu,,,klo anda ingun tahu siapa penerima wahyu dari hindu ,,bacalah buku yang banyak tentang itu...terimakasihhh

Laman