Kamis, 30 Juli 2009

TERORISME, SEBUAH ALTERNATIF PERLAWANAN?


( Menanggapi Pernyataan Nurdin M. Top dan Rekan di Internet Tentang Peristiwa Pem-bom-an Di JW. Marriot dan Ritz Carlton )

Terorisme, pengkhianat, penjahat perang, adalah sebutan-sebutan bagi pihak yang kalah, terpinggirkan dan minoritas dari sebuah system atau lingkungan tertentu. Lebih luasnya lagi, label-label tersebut adalah label bagi orang yang memiliki paradigma dan cara pandang yang berbeda dari kebanyakan orang.
Terorisme, adalah sebuah tindakan nekad yang mengorbankan banyak nyawa orang untuk mencapai tujuan yang lebih sempit, tujuan organisasi atau tujuan pribadi. Itu adalah pengertian dari orang yang merasa dirugikan oleh pelaku terorisme. Tapi apakah itu juga definisi teroris dilihat dari sudut pelaku?
Bagi mereka, terorisme adalah masalah sudut pandang. Masalah anda berada di pihak mana. Masalah keyakinan dan masalah prinsip. Sehebat apapun alasan dan teori kita beberkan, berapa ayat kita ucapkan dan sehebat apapun pendapat kita gulirkan, bagi mereka, kematian mereka adalah syahid!
Saya berpendapat hal ini karena ternyata, pihak yang melakukan tindakan terorisme dan pihak yang mengutuk, kedua-duanya memakai sumber pembenaran yang sama, yaitu Al-Quran. Kedua-duanya memiliki alasan yang kuat karena merasa dirinya menggunakan sumber yang paling absah, paling suci dan paling benar! Sumber mereka adalah perkataan TUHAN yang diyakini sebagai pemegang kebenaran mutlak! Lantas, kalau tindakan para teroris itu juga adalah atas nama Allah, lantas salahkah kita yang mengutuk perbuatan mereka?
Lantas apa yang dijadikan alasan bagi kita untuk mengutuk perbuatan mereka? Salah satunya adalah ketidakjelasan tujuan, sasaran dan cara mereka melakukan perjuangan. Dengan ketidakjelasan perjuangan mereka, khususnya bagi masyarakat, membuat mereka dianggap melakukan sesuatu yang sia-sia. Ketidakjelasan sasaran juga menyebabkan orang yang merasa tidak berhubungan dengan tujuan itu dirugikan. Dan cara mereka yang begitu mudah menilai harga sebuah nyawa menjadi hal yang paling menakutkan nilai-nilai kemanusiaan diseluruh dunia, khususnya pemeluk agama Islam yang masih begitu yakin merupakan agama damai.
Itu pun sebenarnya hanya interpretasi kita yang menolak perbuatan mereka. Bagi mereka jelas, tujuannya adalah menegakkan syareat Islam secara penuh dan kaffah, menurut versi mereka, sasaran jelas yang mereka anggap sebagai simbol lawan Islam, tapi apakah cara itu adalah benar ketika diterapkan di negara yang justru bukan musuh Islam itu sendiri. Bahkan Indonesia adalah negara dengan penduduk yang mayoritas Islam! Ini saja sudah cukup bagi saya untuk mengatakan mereka tidak jelas dalam melakukan strategi dan cara perjuangan, dan mengapa saya berani mengatakan mereka teroris adalah karena sangat mudah dan murah menilai nyawa manusia.
Nurdin M. Top berujar dalam pernyataannya dengan menukil satu ayat dalam Al-Qur’an:
"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui". (QS. Al Anfal : 17).
Mereka menjadikan ayat ini untuk membenarkan tindakan mereka. Namun pertanyaannya adalah siapa yang berhak menentukan, memutuskan dan menetapkan suatu tindakan seseorang atau kelompok itu berhak mengatasnamakan Allah. Ketika ayat ini boleh dipergunakan oleh semua kelompok untuk membenarkan tindakannya mengorbankan manusia lain dan mencabut nyawa orang banyak, maka saya menjadi sangsi bahwa Islam itu adalah agama damai. Dijaman Nabi Muhammad SAW, beliau memiliki hak prerogatif dan hak istimewa dari Allah sebagai wakil dan utusan-Nya untuk menyebarkan agama. Tapi nabi sekalipun tidak pernah mempergunakan ayat ini untuk menghancurkan musuh-musuhnya Islam. Bahkan ketika hendak menguasai kembali Mekkah, Nabi malah memerintahkan seluruhumat Islam untuk tidak merusak pohon, menghancurkan gereja dan sinagog dan melukai wanita serta orang tua. Lantas apa alasan kita untuk mempergunakan ayat ini untuk membenarkan tindakan kita yang merusak kepentingan umat banyak?
Alangkah mudahnya seseorang menukil ayat Qur’an, memilih ayat yang disukainya kemudian menjadikannya pembenaran atas segala perbuatannya. Lantas akan menjadi agama apa Islam ini ketika semua ayat yang berhubungan dengan perang itu dijadikan landasan untuk menghancurkan orang lain?
Untuk memberikan pelajaran kepada suatu kelompok yang memusuhi Islam? Siapa musuh Islam sekarang? Negara? Orang? Sistem? Bangsa? Dan apakah semua itu harus dilawan dengan bom bunuh diri dan menghancurkan serta membunuh orang yang malah tidak ada hubungannya dengan perjuangan kita!!
"Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman". (QS. Attaubah : 14).
Ini juga dijadikan para teroris itu sebagai landasan dalam berjuangnya. Mereka merasa dirinya adalah tangan Tuhan! Masya Allah....sejak kapan Tuhan membutuhkan manusia untuk menunjukkan keberadaan dan kebesarannya? Dan sejak kapan Tuhan mempergunakan tangan manusia untuk membunuh manusia lainnya? Kalau mau, Tuhan tinggal berkata, jadilah....! maka jadi dan tidak perlu sulit untuk melakukannya.
Lantas mengapa Nabi kita dahulu tidak membantai warga Mekkah pada saat semua itu mungkin? Bukankah nabi Muhammad, panutan kita dan acuan standar terbaik bagi tindakan kita saja tidak pernah melakukan tindakan membabi-buta seperti ini? Bahkan kita mengenalnya sebagai sosok yang lemah lembut dan penuh kasih sayang?
Pertanyaan terakhir, apakah tindakan para teroris selama ini, yang mengatasnamakan Islam itu telah banyak memberikan kebaikan kepada Islam itu sendiri? Apakah perbuatan mereka ini telah membuat Islam menjadi lebih baik?

Bandung, 30 Juli 2009 (10.10 wib)

Rabu, 29 Juli 2009

Syahid

Oleh Goenawan Mohamad
Kematian, syahid, kemudian surga …Seandainya hanya itu yang memberi arti manusia, hidup akan terdiri dari pedang dan peluru.
Kematian, syahid, kemudian surga …Seandainya hanya itu yang memberi arti manusia, hidup akan terdiri dari pedang dan peluru.
Di luar itu, segalanya akan hanya sederet surplus: suara anak tertawa di beranda, sapa sabahat di tepi jalan, lagu dari jauh, hujan yang sejuk. Hal-hal itu mesra, indah, berharga, tapi tak akan dibutuhkan. Mereka bahkan akan bisa jadi rintangan, atau pengalih perhatian, jika sejarah kita lihat sebagai sebuah perang besar untuk sebuah tujuan besar.
Ada keyakinan semacam itu dalam banyak gerakan revolusioner. “Revolusi bukanlah sebuah jamuan makan”, begitulah Mao berkata. Maka di tahun 1934, kaum Maois pun hijrah seraya bertempur sampai titik darah penghabisan. Tapi tak hanya Marxisme dan variasi-variasinya. Banyak persamaan dalam pelbagai ideologi yang dibentuk dari kepedihan tapi yang tak berhenti hanya pada kepedihan. Maoisme lahir dari rasa tertindas masyarakat Cina. Dari rasa`tertindas Mesir datang Ma’alim fil Tariq dan sejumlah buah renungan Sayed Qutb dari penjara, sebelum ia mati di tiang gantungan Pemerintah Nasser di tahun 1966. Keduanya bicara tentang sebuah dikotomi.
Bagi Marx dan Mao, sejarah adalah perjuangan kelas. Bagi Qutb, sejarah adalah sebuah jihad agung: Nizam Jahili harus diruntuhkan untuk membangun Nizam Islami. Seperti Marx, ia bicara soal dua sistem, dua nizam: yang satu buruk, yang lain bermutu. Dan seperti Marx, ia yakin yang terakhir itu yang akan menang.
Dengan kata lain, bagi ideologi kepedihan, dunia dan sejarah adalah sebuah satuan dan gerak besar--yang tak mungkin punya hal yang sepele, ganjil, aneka-ragam, dan kacau-balau. Di balik totalitas itu beroperasi sebuah subyek yang utuh, kuat, tanpa cacat.
Subyek itu, bagi Marx, adalah ‘proletariat’ yang dipersatu-padukan oleh ‘kesadaran kelas’ Dengan ‘kesadaran’ itulah – yang kemudian dibangun melalui ‘ajaran Revolusi’—identitas diri dikukuhkan. Qutb juga menunjukkan cara bagaimana identitas diteguhkan buat mereka yang ingin menegakkan sistem ‘Islami’. Dengan memperkuat aqidah dan dengan hijrah, mereka harus memisahkan diri dari dunia sekitar yang tak ‘Islami’. Dengan tafkir, garis pemisah pun ditarik. Mana kawan dan mana lawan dipertegas, dan jihad, kalau perlu dengan kekerasan, harus dijalankan.
Tampak, di balik nada marah tiap ideologi kepedihan ada segumpal optimisme: ‘Kami kini memilih jadi subyek sejarah, dan kami akan memetik kemenangan di hari kemudian’.
Tapi tiap ideologi menyembunyikan ilusi. Di dalamnya orang tak bertanya lagi: benarkah ‘kami’, ‘sang subyek’, sepenuhnya bisa mengendalikan sejarah? Benarkah ‘kami’ tak akan lapuk dan lekang oleh berubahnya ruang dan waktu? Benarkah ‘kami’ akan selamanya utuh, kuat dan padu? Benarkah manusia bisa sehebat itu?
Di titik itu, kaum Marxis berhenti bertanya. Bagi para ahli waris humanisme ini, manusia adalah diri yang sepenuhnya berdaulat. Setidaknya sejak zaman Aufklärung Eropa, humanisme itu pula yang menyebabkan mereka melihat sejarah sebagai garis lurus dalam progresi, dengan akhir yang berbahagia.
Seperti hampir tiap pemikir revolusioner di abad ke-20, Qutb juga tak jauh dari pandangan itu. Ia memang menghendaki sistem yang ‘Islami’: kembalinya posisi Tuhan sebagai pemegang kedaulatan yang sah, ketika hukum-Nya diberlakukan, menggantikan hukum buatan manusia. Tapi seperti dalam humanisme, di sini pun daulat manusia, apalagi sebagai ‘pelopor’ (taliya, menurut Qutb), praktis sama kukuhnya dengan daulat Tuhan. Sebab di bumi, yang cuma satu noktah di dalam bermilyar-milyar galaksi, hakimiyyah Tuhan pada akhirnya hanya diwakili oleh orang-orang. Mereka, dan bukan Tuhan sendiri, yang mengukuhkan status dan keabsahan perwakilan itu. Tapi keyakinan yang berlebihan terhadap manusia sebagai subyek telah alpa untuk mengakui bahwa khalifah Allah di bumi itu pun terbatas – dan bahwa sejarah juga sebuah kisah dengan kegagalan, dengan reruntuhan yang bertimbun.
Tentu, Qutb pun melihat sejarah manusia sebagai kemerosotan, penuh dengan puing. Tapi ia percaya manusia bisa kembali ke era pra-puing, ke ‘zaman keemasan’, di bawah Rasulullah dan ke empat penggantinya di abad ke-7. Qutb menginginkan tajdid, langkah besar kembali ke zaman itu. Tapi tak tahukah ia, dengan masygul, bahkan di ‘zaman keemasan’ itu pun keputusan-keputusan besar—tentang siapa yang akan jadi khalifah, misalnya— ditentukan oleh manusia? Sebab itu ‘kesalahan’ mungkin terjadi dan penentuan khalifah sering disertai sengketa sampai mati?
Kesalahan adalah keniscayaan sejarah. Sebab itu ketika millennium makin tua, ketika Marxisme pun ternyata tak berhasil, orang insyaf bahwa yang harus ditegakkan adalah sebuah sistem yang tahu dirinya akan gagal sebagai sistem. Yang tak tahu diri, tak akan bisa bertahan. Itu sebabnya di pertengahan abad ke-19 Alexis de Tocqueville berpendapat, bahwa Islam ‘tak akan mampu memegang kuasa lama di masa pencerahan dan demokrasi’, justru karena Islam dianggapnya punya ajaran yang total: ‘Qur’an bukan hanya doktrin agama’, katanya, tapi juga ‘petunjuk politik, hukum pidana, hukum perdata, dan teori ilmu’. Baginya, sistem yang membayangkan dirinya lengkap akan terkecoh oleh hidup yang tak hendak di-sistem-kan.
Tapi mungkin De Tocqueville hanya mengikuti satu pendapat. Ia tak melihat kemungkinan Qur’an sebagai sebuah sumber inspirasi klasik bagi sebuah kesadaran yang sayu tentang dunia: bahwa memang tak banyak yang bisa diharapkan dari sejarah, tapi hidup tetap sebuah rahmat, bukan sederet konflik bersenjata.[]
Catatan:
Tulisan ini diambil dari Catatan Pinggir Tempo 42, 22 Desember 2002.

Pernyataan Nurdin . Top yang Menyesatkan itu!

KETERANGAN RESMI DARI TANDZIM AL QO'IDAH INDONESIA
ATAS AMALIYAT JIHADIYAH ISTISYHADIYAH
DI HOTEL RIZT CALRTON JAKARTA


اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه.
أمَّا بعد
Ini adalah keterangan resmi dari Tandzim Al Qo'idah Indonesia untuk ummat Islam dengan Amaliyat Jihadiyah Istisyhadiyah di Hotel Rizt Calrton Jakarta, pada hari Jum'at pagi, tanggal 17 juli 2009 M./24 Rojab 1430 H. yang dilakukan oleh salah satu ikhwah mujahidin terhadap antek-antek Amerika yang berkunjung di Hotel tersebut.
Sesungguhnya Allah menganugerahkan kepada kami jalan untuk menyerang Hotel termegah yang dimiliki oleh Amerika di Ibukota Indonesia di Jakarta, yaitu Rizt Calrton. Yang mana penjagaan dan pengamanan di sana sungguh sangatlah ketat untuk dapat melakukan serangan seperti yang kami lakukan pada kali ini.
"Mereka membuat Makar dan Allah pun membuat Makar. Dan Allah itu Maha Pembuat Makar". (QS. Ali Imron : 54).
Adapun sasaran yang kami inginkan dari amaliyat ini adalah :
1. Sebagai Qishoh (pembalasan yang setimpal) atas perbuatan yang dilakukan oleh Amerika dan antek-anteknya terhadap saudara kami kaum muslimin dan mujahidin di penjuru dunia
2. Menghancurkan kekuatan mereka di negeri ini, yang mana mereka adalan pencuri dan perampok barang-barang berharga kaum muslimin di negeri ini
3. Mengeluarkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin. Terutama dari negeri Indonesia
4. Menjadi pelajaran buat ummat Islam akan hakikat Wala' (Loyalitas) dan Baro' (Permusuhan), terkhusus menghadapi datangnya Klub Bola MANCESTER UNITED (MU) ke Hotel tersebut. Para pemain itu terdiri dari para salibis. Maka tidak pantas ummat ini memberikan Wala'nya dan penghormatannya kepada musuh-musuh Allah ini
5. Amaliyat Istisyhadiyah ini sebagai penyejuk dan obat hati buat kaum muslimin yang terdholimi dan tersiksa di seluruh penjuru dunia
Yang terakhir ….. bahwasanya Amaliyat Jihadiyah ini akan menjadi pendorong semangat untuk ummat ini dan untuk menghidupkan kewajiban Jihad yang menjadi satu-satunya jalan untuk menegakkan Khilafah Rosyidah yang telah lalu, bi idznillah.
Dan kami beri nama Amaliyat Jihadiyah ini dengan : "SARIYAH JABIR"
الله أكبر ولله العزة ولرسوله والمؤمنون
Amir Tandzim Al Qo'idah Indonesia
Abu Mu'awwidz Nur Din bin Muhammad Top
Hafidzohullah

INI PERNYATAAN NURDIN M. TOP YANG BEREDAR DI INTERNET

SUMBER : www.maubaca.com

Saat ini di internet beredar pernyataan resmi dari Noordin M Top tentang pengeboman di Ritz-Calrton, tetapi belum jelas kebenarannya. Berikut pernyataannya tersebut:

Ini adalah keterangan resmi dari Tandzim Al Qo'idah Indonesia untuk ummat Islam dengan Amaliyat Jihadiyah Istisyhadiyah di Hotel Rizt Calrton Jakarta, pada hari Jum'at pagi, tanggal 17 juli 2009 M./24 Rojab 1430 H. yang dilakukan oleh salah satu ikhwah mujahidin terhadap antek-antek Amerika yang berkunjung di Hotel tersebut.

Sesungguhnya Allah menganugerahkan kepada kami jalan untuk menyerang Hotel termegah yang dimiliki oleh Amerika di Ibukota Indonesia di Jakarta, yaitu Rizt Calrton. Yang mana penjagaan dan pengamanan di sana sungguh sangatlah ketat untuk dapat melakukan serangan seperti yang kami lakukan pada kali ini.

Adapun sasaran yang kami inginkan dari amaliyat ini adalah :
1. Sebagai Qishoh (pembalasan yang setimpal) atas perbuatan yang dilakukan oleh Amerika dan antek-anteknya terhadap saudara kami kaum muslimin dan mujahidin di penjuru dunia

2. Menghancurkan kekuatan mereka di negeri ini, yang mana mereka adalan pencuri dan perampok barang-barang berharga kaum muslimin di negeri ini

3. Mengeluarkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin. Terutama dari negeri Indonesia

4. Menjadi pelajaran buat ummat Islam akan hakikat Wala' (Loyalitas) dan Baro' (Permusuhan), terkhusus menghadapi datangnya Klub Bola Manchaster United) ke Hotel tersebut. Para pemain itu terdiri dari para salibis. Maka tidak pantas ummat ini memberikan Wala'nya dan penghormatannya kepada musuh-musuh Allah ini

5. Amaliyat Istisyhadiyah ini sebagai penyejuk dan obat hati buat kaum muslimin yang terdholimi dan tersiksa di seluruh penjuru dunia.


Keterangan lebih Gress dan valis baca:
http://mediaislam-bushro.blogspot.com/

Selasa, 28 Juli 2009

Hidup Setelah Mati

Gelap!
Semua terasa ringan sekali, bahkan bagiku, hukum grafitasi saat ini hanya bayangan "Deja vu". Lupa rasanya bagaimana aku menginjakan kaki di tanah. Aku hentakan kakiku. Tak menginjak!
Aku mencoba menutup mataku untuk membiasakan dalam kegelapan pekat ini.
Gelap!
Aku merentangkan tanganku untuk memegang sesuatu. Lalu sedikit demi sedikit aku langkahkan kakiku. Ringan sekali.
Ya ampun, mengapa aku tidak merasa takut sekalipun? Padahal kalau gelap, yang paling aku takutkan adalah kalau tulang kering kakiku membentur sesuatu. Aku kini merasa nyaman. Kalau kakiku tak berasa menginjak tanah, aku pikir, tak akan ada yang akan membentur kakiku.
Eh...ada titik cahaya di ujung sana! Titik itu terasa dekat sekali, aku masih terus mencoba untuk memahami dan mengingat-ingat, dimana aku sekarang. Tak ada yang aku ingat. Siapa aku? Aku tak merasakan bobot badanku sendiri. Mungkinkah aku hanya sebentuk kesadaran semata?
Titik itu semakin mendekat. Tunggu! cahaya itu yang mendekat karena aku tidak merasakan diriku bergerak. semakin lama semakin cepat! dan
Wussssssssssssssssssssssssssssssssssssss...!
Tiba-tiba aku sekarang ada dibalutan cahaya yang sangat terang, terang tapi tidak menyilaukan! Aku terbang tapi aku tidak melihat tubuhku. Aku hanya merasa semuanya hilang tak berbekas.
Mungkinkah aku hanya bagian dari cahaya ini?
Dalam perjalanan cahaya itu, aku serasa berputar namun tidak memusingkan, aku melesat namun tak merasa lelah, aku terbang namun tidak tidak merasa angin menerpa diriku. Siapa aku? Dimana aku?
Jauuuuuuu..........hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa........
Mataku kembali ku tutup karena aku merasakan sebuah sensasi yang mengejutkan! Sebuah dekapan kuat dari "sesuatu" yang aku tak pahami. meliputi seluruh bagian diriku. Hangat namun sejuk!
Dan aku belum berani membuka mataku.
"BUKA MATAMU KEKASIH SANG PENGUASA"

INDAHNYA AJARAN BUDDHA

Tak ada salahnya kita sedikit mengenal agam lain. Setelah saya menulis sepintas tentang agama Hindu, sekarang saya tertarik untuk menulis tentang agama Budha. Namun karena keterbatasan materi, saya mengutip satu tulisan dari situs yang ada di internet sebagaii bahan dasar bagi kita untuk sedikit mengenal agama Budha.
Jalan Pencerahan yang Unik

Bukan metafisik ataupun ritualistik.
Bukan skeptik ataupun dogmatik.
Bukan penyiksaan diri ataupun pemanjaan diri.
Bukan pesimisme ataupun optimisme.
Bukan eternalisme ataupun nihilisme.
Bukan mutlak dunia ini ataupun dunia lain.
Ajaran Buddha adalah jalan Pencerahan yang unik.
Mengungguli Segala Sistem Lain

Sebagai ajaran moral, ajaran Buddha mengungguli segala sistem etika, namun moralitas hanyalah awal, bukan sebagai akhir dari ajaran Buddha.

Dalam satu pengertian, ajaran Buddha bukanlah filosofi; dalam pengertian yang lain, ajaran Buddha adalah filosofi dari segala filosofi.

Dalam satu pengertian, ajaran Buddha bukanlah agama; dalam pengertian yang lain, ajaran Buddha adalah agama dari segala agama.

Melampaui Agama

Jika definisi dari “agama” adalah kepercayaan mutlak dan pemujaan terhadap suatu sosok ilahi, dengan kewajiban untuk menjalankan upacara dan ritual, ajaran Buddha bukanlah suatu agama. Ajaran Buddha melampaui semua definisi umum tentang agama karena ajaran Buddha mendorong kecerdasan kita untuk bertanya dan meyakini adanya potensi tertinggi dari setiap individu.

Upacara dan ritual hanya sekadar perayaan yang membantu mengilhami kita, namun tidak bisa memberi kita Kebijaksanaan dan kebahagiaan sejati.

Universal

Karena perhatian utama Buddha adalah kebahagiaan sejati bagi semua makhluk, ajaran-Nya dapat dipraktikkan dalam masyarakat atau pertapaan, oleh semua ras dan sistem kepercayaan. Ajaran Buddha sama sekali tidak memihak dan benar-benar bersifat universal.

Kebenaran Tidak Memerlukan Nama

Apakah ajaran Buddha itu agama atau filsafat? Ajaran Buddha tetaplah sedemikian rupa apa pun nama yang disematkan padanya. Nama tidaklah penting. Bahkan nama “Buddhisme” yang kita berikan untuk ajaran Buddha bukanlah hal yang penting. Kebenaran tidak memerlukan nama.

Pemurnian Pikiran

Ajaran Buddha tidak hanya menganjurkan untuk menghentikan semua kejahatan dan melakukan semua kebaikan, tetapi juga mengajarkan pemurnian pikiran—yang merupakan akar dari segala kebaikan dan kejahatan, serta sebab dari penderitaan maupun kebahagiaan sejati. Dewasa ini kita banyak mendengar tentang cara melatih kekuatan pikiran, ajaran Buddha adalah sistem pelatihan pikiran yang paling lengkap dan efektif yang ada di dunia ini.

Kebebasan Berpikir

Dari sisi intelektual dan filsafat ajaran Buddha, tumbuhlah kebebasan berpikir dan bertanya yang tidak ada bandingannya dengan agama atau filsafat besar dunia lainnya. Walaupun Buddha mendorong kita untuk mempertimbangkan ajaran-Nya, namun tidak ada kewajiban atau paksaan apa pun untuk percaya atau menerima ajaran Buddha.

Tidak Ada Perintah

Buddha begitu penuh toleransi, bahwasanya Ia tidak mengerahkan kekuatan untuk memberikan perintah kepada para pengikut-Nya. Sebagai pengganti penggunaan perintah, Ia berkata: “Sebaiknya kamu melakukan ini. Sebaiknya kamu tidak melakukan ini.” Ia tidak memerintah, tapi menasihati.

Kebebasan Bertanya

Ajaran Buddha dipenuhi dengan semangat kebebasan bertanya dan toleransi menyeluruh. Ajaran Buddha adalah ajaran tentang keterbukaan pikiran dan hati yang simpatik, yang menerangi dan menghangatkan segenap semesta dengan sinar ganda Kebijaksanaan dan Welas Asih, memancarkan sinar keramahan pada setiap makhluk dalam perjuangan mengarungi samudera kelahiran dan kematian.

Tidak Ada Rahasia

Menurut Buddha, kebenaran adalah sesuatu yang terbuka bebas untuk ditemukan oleh semua makhluk. Jika kita mempelajari kehidupan dan ajaran Buddha, kita bisa melihat bahwa segala sesuatu terbuka untuk setiap orang. Memang ada ajaran tingkat lanjut tertentu yang memerlukan bimbingan khusus dari para guru yang berpengalaman, namun tidak ada rahasia dalam ajaran Buddha.

Pendidikan Kebenaran

Buddha adalah guru kebenaran terbesar. Ajaran Buddha adalah pendidikan yang sempurna tentang kita dan semesta tempat kita tinggal. Ajaran Buddha adalah ajaran yang melampaui pengetahuan duniawi, mengenai Kebijaksanaan tertinggi menuju perwujudan kebahagiaan sejati.

Menarik untuk dicatat bahwa salah satu universitas pertama di dunia adalah Universitas Buddhis Nalanda di India, yang berkembang pada abad ke-2 sampai ke-9. Universitas ini dibuka untuk pelajar dari seluruh penjuru dunia dan merupakan sekolah dari berbagai pelajar Buddhis terkemuka.

Kebenaran Akan Selalu Menang

Buddha dengan terbuka mengundang pengikut-Nya dan penganut kepercayaan lain untuk menguji ajaran-Nya dari setiap sudut sampai tidak ada ruang keragu-raguan lagi. Buddha tahu bahwa jika seseorang benar-benar yakin bahwa ia mengetahui kebenaran, seharusnya ia tidak takut untuk diuji, karena kebenaran akan selalu menang. Jawaban Buddha terhadap berbagai pertanyaan telah memperkaya ajaran Buddha menjadi bidang keagamaan yang luas.

Mengandalkan Diri Sendiri

Ketika Buddha bermeditasi untuk mencapai Pencerahan, tidak ada dewa yang datang untuk menyingkap rahasia kekuatan spiritual apa pun. Ia berkata, “Saya tidak pernah memiliki guru atau makhluk apa pun yang mengajarkan cara mencapai Pencerahan. Saya mencapai Kebijaksanaan tertinggi dengan usaha, kekuatan, pengetahuan, dan kemurnian sendiri.” Demikian pula, kita dapat mencapai tujuan tertinggi ini melalui usaha yang sungguh-sungguh dalam memperbaiki diri sendiri.

Berdasarkan Pengalaman dan Nalar

Ajaran Buddha adalah satu-satunya ajaran yang dibabarkan bagi umat manusia melalui pengalaman, pencapaian, Kebijaksanaan, dan Pencerahan dari pendirinya. Ajaran ini berakar dari pengalaman, bukan kepercayaan yang membuta. Masalah manusia harus dipahami melalui pengalaman manusia dan diatasi dengan pengembangan nilai-nilai manusia yang luhur. Manusia harus menemukan pemecahan melalui pemurnian dan pengembangan pikiran manusia, bukan melalui pihak-pihak luar.

Jadilah Pelita Bagi Dirimu Sendiri

Buddha tidak pernah memperkenalkan diri-Nya sebagai juru selamat gaib. Ia tidak mengajarkan adanya juru selamat semacam itu. Tak seorang pun yang dapat menyelamatkan kita selain diri kita sendiri. Para Buddha dengan jelas menunjukkan jalannya, namun kita sendirilah yang harus menjalaninya. Ia berkata, “Jadilah pelita bagi dirimu sendiri; andalkanlah dirimu sendiri; jangan mengandalkan pertolongan lain dari luar. Genggamlah erat kebenaran bagaikan sebuah pelita!”

Teladan Sempurna

Buddha adalah perwujudan segala kebajikan yang diajarkan-Nya. Ia mewujudkan seluruh ucapan-Nya dalam tindakan. Tanpa kenal lelah Ia membabarkan kebenaran dan menjadi teladan yang sempurna. Tak pernah Ia menampakkan kelemahan atau nafsu dasar manusia. Kualitas Moralitas, Kebijaksanaan, dan Welas Asih-Nya adalah yang paling sempurna sepanjang sejarah pengetahuan dunia.

Kita Juga Bisa Menjadi Sempurna

Buddha mewakili puncak tertinggi dari pengembangan spiritual yang mungkin dicapai. Ia mengajarkan bahwa semua orang bisa mencapai kesempurnaan sejati. Tidak ada pendiri agama mana pun yang pernah berkata bahwa para pengikutnya juga mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pengalaman yang sama akan kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan seperti dirinya. Tetapi Buddha mengajarkan bahwa setiap orang bisa mencapai kebahagiaan Pencerahan tertinggi yang serupa jika telah mempraktikkan apa yang Ia jalani.
Umat Buddha Bukanlah Budak

Umat Buddha bukanlah budak atau hamba sebuah buku atau siapa pun. Ia juga tidak mengorbankan kebebasan berpikirnya dengan menjadi seorang pengikut Buddha. Ia dapat melatih kehendak bebasnya sendiri dan mengembangkan pengetahuannya bahkan sampai tahap pencapaian ke-Buddha-an oleh dirinya sendiri karena pada dasarnya semua orang berpotensi menjadi Buddha.

Tidak Ada Ketakutan

Buddha adalah tokoh sejarah utama yang mempromosikan bangkitnya keyakinan rasional melawan takhayul keagamaan. Ia membebaskan manusia dari cengkeraman para imam, dan juga yang pertama kali menunjukkan jalan untuk bebas dari kemunafikan dan penindasan keagamaan.

Ajaran Buddha adalah ajaran yang menggunakan nalar dan tidak memakai unsur ketakutan untuk mendesak orang lain dalam segala cara supaya percaya. Ajaran Buddha mengajarkan kita untuk menjadi baik bukan karena takut akan ancaman api neraka atau karena imbalan kerajaan surga.

Tidak Ada Kepercayaan Membuta

Buddha tidak menjanjikan kebahagiaan surgawi, imbalan, atau keselamatan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Bagi-Nya, agama bukanlah suatu tawar-menawar tapi suatu jalan hidup mulia untuk mencapai Pencerahan dan keselamatan untuk diri sendiri dan orang lain. Buddha tidak menginginkan pengikut-Nya untuk percaya kepada-Nya secara membuta. Ia menginginkan kita untuk berpikir dan paham oleh diri kita sendiri. Oleh karenanya ajaran Buddha disebut agama analisis.

Jangan Percaya Begitu Saja

Jangan percaya begitu saja akan apa yang engkau dengar;
Jangan percaya begitu saja akan tradisi, desas-desus, atau banyaknya omongan;
Jangan percaya begitu saja hanya karena hal itu tertulis di dalam kitab agamamu;
Jangan percaya begitu saja pada kewenangan guru-gurumu;
Namun melalui pengamatan dan analisis, jika engkau temukan bahwa suatu hal sesuai dengan nalar dan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi diri sendiri dan semua, maka terimalah dan hiduplah sesuai dengan hal tersebut.

Ilmiah

Umat Buddha tidak pernah merasa perlu untuk memberikan tafsiran baru terhadap ajaran Buddha. Penemuan ilmiah belakangan ini tidak pernah bertentangan dengan ajaran Buddha karena metode dan ajaran Buddha bersifat ilmiah. Asas-asas Buddhis dapat dipertahankan dalam keadaan apa pun tanpa mengubah gagasan-gagasan dasarnya. Ajaran Buddha dihargai oleh para cendekiawan, ilmuwan, pemikir hebat, ahli filsafat, kaum rasionalis, bahkan pemikir bebas, sepanjang masa.

Matang Secara Intelektual dan Spiritual

Buddha berkata, “Dharma yang Kuajarkan hanya dapat dipahami oleh orang yang mampu berpikir.” Hanya mereka yang memiliki kecerdasan untuk menggunakan pikiran dengan jelas dan yang matang secara spiritual, tahu bagaimana menghargai Dharma ini sebagai Hukum Universal.

Agama Masa Depan

Albert Einstein, ilmuwan paling terkemuka pada abad ke-20:
“Agama masa depan adalah agama kosmik. Melampaui Tuhan sebagai pribadi serta menghindari dogma dan teologi. Mencakup baik alamiah maupun spiritual, agama tersebut seharusnya didasarkan pada rasa keagamaan yang timbul dari pengalaman akan segala sesuatu yang alamiah dan spiritual, berupa kesatuan yang penuh arti. Ajaran Buddha menjawab gambaran ini… Jika ada agama yang akan memenuhi kebutuhan ilmiah modern, itu adalah ajaran Buddha.”

Filsafat Tertinggi

Bertrand Russell, pemenang Hadiah Nobel dan filsuf paling terkemuka pada abad ke-20:
“Di antara agama-agama besar dalam sejarah, saya lebih menyukai ajaran Buddha… Ajaran Buddha menganut metode ilmiah dan menjalankannya sampai suatu kepastian yang dapat disebut rasionalistik. Ajaran Buddha membahas sampai di luar jangkauan ilmu pengetahuan karena keterbatasan peralatan mutakhir. Ajaran Buddha adalah ajaran mengenai penaklukan pikiran.”

Psikologi Tertinggi

Dr. C.G. Jung, pelopor psikologi modern menyatakan penghargaannya:
“Sebagai seorang pelajar studi banding agama, saya yakin bahwa ajaran Buddha adalah yang paling sempurna yang pernah dikenal dunia. Filsafat teori evolusi dan hukum karma jauh melebihi kepercayaan lainnya… Tugas saya adalah menangani penderitaan batin, dan inilah yang mendorong saya menjadi akrab dengan pandangan dan metode Buddha, yang bertema pokok mengenai rantai penderitaan, ketuaan, kesakitan, dan kematian.”

Welas Asih Universal

Karena Welas Asih Buddha bersifat universal, Ia memandang semua makhluk besar dan kecil, dari serangga sampai hewan besar, tampak maupun tak tampak, adalah sederajat. Masing-masing mempunyai hak yang sama untuk berbahagia seperti halnya manusia.

Anti-kekerasan

Tidak ada yang dinamakan “perang suci” dalam ajaran Buddha. Buddha mengajarkan, “Yang menang menuai kebencian dan yang kalah hidup sengsara. Barang siapa yang tidak mencari menang dan kalah akan berbahagia dan damai.” Buddha tidak hanya mengajarkan anti-kekerasan dan perdamaian, Ia mungkin satu-satunya guru yang pergi ke medan pertempuran untuk mencegah pecahnya perang.

Tidak Ada Pengorbanan

Buddha tidak menyetujui pengorbanan hewan karena Ia memandangnya sebagai hal yang kejam dan tidak adil bagi siapa pun untuk merusak kehidupan makhluk lain demi keuntungan diri sendiri.

Penyetaraan Derajat

Buddha mengecam sistem kasta. Menurut-Nya, satu-satunya penggolongan umat manusia adalah berdasarkan kualitas perilaku moralnya. Buddha berkata, “Pergilah ke seluruh negeri dan babarkan ajaran ini. Katakan kepada mereka bahwa yang miskin dan yang hina, yang kaya dan yang mulia, semua adalah satu, dan bahwa semua kasta dipersatukan di dalam ajaran ini seperti sungai bermuara di lautan”.

Persamaan Hak Pria dan Wanita

Buddha, yang memandang bahwa kedua jenis kelamin memiliki hak yang seimbang, adalah guru agama pertama yang memberikan kebebasan penuh bagi wanita untuk turut serta dalam kehidupan beragama. Sikap-Nya yang memperbolehkan wanita untuk memasuki Sangha (menjadi biarawati) merupakan hal yang sangat radikal pada zaman itu.

Sistem Parlementer Pertama

Buddha adalah pemimpin pertama yang mendorong semangat musyawarah dan proses demokrasi. Dalam komunitas Sangha, setiap anggota memiliki hak individu untuk memutuskan hal-hal yang umum. Ketika permasalahan serius muncul, pokok persoalan diajukan dan dibahas dengan cara yang serupa dengan sistem parlementer demokrasi saat ini.

Tanpa Penyalahgunaan Politik

Buddha berasal dari kasta kesatria dan bergaul dengan para raja, pangeran, dan menteri. Tapi Ia tidak pernah menggunakan pengaruh kekuasaan politik untuk mengenalkan ajaran-Nya. Ia juga tidak memperbolehkan ajaran-Nya disalahgunakan untuk mendapatkan kekuasaan politik. Ia mendorong para raja untuk menjadi teguh dari segi moral, mengajarkan bahwa negara tidak semestinya diperintah dengan ketamakan tapi dengan Welas Asih dan tenggang rasa bagi warganya.

Peduli Akan Kesejahteraan Ekonomi

Buddha juga peduli terhadap kesejahteraan material para umat awam karena kemapanan ekonomi sampai tingkat tertentu bisa menunjang pengembangan spiritual para umat. Ia tidak menghalangi mereka untuk mencari kebahagiaan duniawi, namun Ia menekankan bahwa dalam pencarian tujuan duniawi, para umat sebaiknya berhati-hati agar tidak melanggar aturan dasar moralitas.

Tidak Ada Penghukuman Abadi

Tidak ada konsep dosa yang tak terampuni dalam ajaran Buddha; tidak ada penghukuman abadi karena neraka pun tidaklah kekal. Buddha berkata bahwa semua perbuatan adalah baik atau buruk disebabkan ada atau tidaknya Kebijaksanaan. Selalu ada harapan sepanjang seseorang menyadari kesalahannya dan berubah untuk menjadi lebih baik.

Agama yang Layak

Buddha mengajarkan bahwa jika agama apa pun mengandung Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Beruas Delapan, agama itu bisa dianggap sebagai agama yang layak. Hal ini karena agama yang benar-benar bermanfaat harus menuju pada pengakhiran total penderitaan (seperti dalam Empat Kebenaran Mulia), menunjukkan dengan jelas jalan yang rasional menuju kebahagiaan sejati (seperti dalam Jalan Mulia Beruas Delapan).

Ajaran yang Ceria

Sebagian orang berpikir bahwa ajaran Buddha adalah suatu agama yang suram dan murung. Tidaklah demikian, ajaran Buddha akan membuat para penganutnya menjadi cerah dan ceria. Apabila kita membaca kisah-kisah kelahiran Bodhisatta (bakal Buddha), kita belajar bagaimana Ia mengembangkan kesabaran dan pengendalian diri. Hal ini akan membantu kita untuk tetap ceria meskipun sedang berada di tengah kesulitan besar dan merasa bergembira terhadap kesejahteraan orang lain.

Tidak Ada Fanatisme

Ajaran Buddha dapat dikatakan bebas dari segala bentuk fanatisme. Ajaran Buddha bertujuan untuk menghasilkan perubahan internal dengan jalan penaklukan diri sendiri; bagaimana mungkin ajaran Buddha dikatakan mencari kekuasaan, keuntungan, atau bahkan bujukan untuk pindah agama? Buddha hanya menunjukkan jalan keselamatan, selanjutnya terserah setiap orang untuk memutuskan akan mengikutinya atau tidak.

Tak Setetes Darah Pun

Semangat toleransi dan pengertian adalah salah satu prinsip yang paling mengagumkan dari budaya Buddhis. Tak setetes darah pun dicucurkan demi penyebarluasan ajaran Buddha sepanjang sejarah 2.500 tahun.

Misionari Pertama

Ajaran Buddha adalah agama misionari pertama dalam sejarah dengan pesan universal bagi keselamatan segenap umat manusia.

Tidak Mengubah Agama Orang

Umat Buddha tidak pernah menarik masuk dengan cara memaksakan pendapat dan keyakinan terhadap orang yang tidak berminat; juga tidak menggunakan berbagai rayuan, tipuan, atau bujukan untuk memenangkan pandangannya. Misionari Buddhis tidak pernah bersaing untuk mengubah agama orang.

Toleransi Luar Biasa

Teladan luar biasa dari toleransi umat Buddha ditunjukkan oleh Kaisar Asoka. Salah satu dekritnya terukir di batu karang, yang masih ada sampai hari ini di India:
“Seseorang seharusnya tidak hanya menghormati agamanya sendiri dan mencela agama lain, tapi juga harus menghormati agama lain karena satu dan lain hal. Dengan bertindak demikian, seseorang membantu agamanya sendiri untuk tumbuh sekaligus memberikan pelayanan bagi agama lain. Dengan bertindak sebaliknya, seseorang menggali kubur bagi agamanya sendiri sekaligus merugikan agama lain.”

Semangat Misionari

Perang suci dan diskriminasi agama tidak pernah mencemari sejarah umat Buddha. Misionari Buddhis tidak berhasrat untuk mengubah orang yang sudah menganut agama yang layak. Umat Buddha berbahagia melihat kemajuan agama lain sejauh agama tersebut membantu orang untuk menjalani kehidupan religius dan menikmati kedamaian, keharmonisan, dan pengertian yang benar. Namun demikian, Buddha juga menganjurkan kita untuk membagi kebenaran dengan orang yang berminat dengannya.

Demi Kebahagiaan Semua

Sabda Buddha kepada murid-murid-Nya untuk menyebarluaskan Dharma: “Pergilah kalian, O Bhikkhu, demi kesejahteraan semua, demi kebahagiaan semua, atas dasar Welas Asih kepada dunia, demi manfaat, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah pergi berdua dalam satu jalan. Babarkanlah Dharma ini, yang indah pada awalnya, indah pada tengahnya, dan indah pada akhirnya, dalam semangat maupun dalam ungkapan. Jalanilah kehidupan suci yang sempurna dan murni sepenuhnya.”

Tetap Hormat

Suatu ketika, seorang pengikut agama lain menjadi yakin bahwa pandangan Buddha adalah benar dan pandangan gurunya adalah keliru, dia memohon kepada Buddha untuk menerimanya sebagai murid-Nya. Namun Buddha memintanya untuk mempertimbangkannya kembali dan tidak tergesa-gesa. Ketika orang tersebut mengungkapkan hasratnya kembali, Buddha memenuhi permintaannya dengan syarat dia meneruskan dukungan dan rasa hormatnya kepada gurunya yang dulu.

Mukjizat Terbesar

Bagi Buddha, mukjizat hanyalah perwujudan fenomena yang tidak dipahami oleh orang pada umumnya. Mukjizat tidak dipandang sebagai ungkapan Pencerahan atau Kebijaksanaan. Walaupun Buddha sepenuhnya menguasai kemampuan batin, Ia tidak pernah menggunakan kekuatan-Nya untuk mendapatkan pengikut melalui kepercayaan membuta dan ketergantungan akan mukjizat. Ia mengajarkan bahwa mukjizat terbesar adalah perubahan orang yang gelap batin menjadi orang yang bijaksana.

Kebahagiaan Dalam Kehidupan Ini Juga

Ajaran Buddha bukanlah semata-mata agama kehidupan lain atau mendatang. Sekalipun menjalankan ajaran Buddha dalam kehidupan saat ini mendatangkan hasil positif yang berkelanjutan sampai kehidupan mendatang, kebanyakan buah dari hal-hal yang kita praktikkan bisa dilihat dalam kehidupan ini juga.

Jalan Tengah

Ajaran Buddha juga dikenal sebagai “Jalan Tengah” karena menghindari dua ekstrem. Ekstrem pertama adalah pencarian kebahagiaan melalui kenikmatan indrawi, yang bersifat rendah, umum, tidak bermanfaat, dan cara orang biasa; ekstrem yang lain adalah pencarian kebahagiaan melalui penyiksaan diri dalam berbagai bentuk pertapaan, yang menyakitkan, sia-sia, dan tidak bermanfaat.

Welas Asih dan Kebijaksanaan

Agama sering memandang rasio dan Kebijaksanaan laksana musuh dari emosi seperti kasih atau iman. Sebaliknya ilmu pengetahuan sering memandang emosi laksana musuh dari rasio dan objektivitas. Dan, tentu saja, dengan kemajuan ilmu pengetahuan, agama mengalami kemerosotan. Ajaran Buddha mengajarkan bahwa untuk menjadi pribadi yang betul-betul seimbang dan lengkap, kita harus mengembangkan baik Kebijaksanaan maupun Welas Asih. Dan karena tidak melulu dogmatis, namun didasarkan pengalaman, ajaran Buddha tidak pernah gentar menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan.

Ehipassiko: Datang dan Lihatlah Sendiri

Kebebasan berpikir itu sungguh penting. Ajaran Buddha dijalankan secara ehipassiko, yang artinya mengundang Anda untuk datang dan melihat sendiri, bukan datang dan percaya begitu saja. Buddha menasihatkan kita untuk tidak mempercayai apa pun secara membuta.

Senin, 27 Juli 2009

MENANGIS DALAM

Kala gelap menyapaku, kusingkap segala kelambu hati dan,
Denting jam mundur “pergi kau!...jangan lagi bicara kebeningan!”
Tubuhku menggelinjang menadah hasrat dan melampiaskannya,
Hanya
Dalam sepi...
Siapa tuhan yang membuatku kemari? Membuka netra dalam silau cahaya! Meremas remuk sisa asa dalam hati,
Bilamanakah kau datang? Mendekapku!
Kini aku menantang ruang,
Melawan waktu,
Merentang masa,
Kau datang dari arah mana?

Bandung, 27 Juni 2009 (23.00 WIB)

ARTI SEBUAH KESETIAAN

“Kenapa kamu terus memaksakan rumah tangga kamu ketika semuanya tidak membuatmu bahagia, Ros….?” Tanya Hamzah kepada wanita disampingnya itu. Wanita yang telah menjadi sahabatnya sejak mereka SMP itu tengah memainkan sedotan di gelas es campur. Tatapannya sayu namun menyiratkan sebuah keteguhan.
“Aku harus sabar Ham…! Tak ada yang lebih mulia bagi seorang isteri kecuali mampu mendampinginya sampai mati.”
“Ah…aku dulu mengenalmu sebagai wanita yang paling mandiri dan tidak pernah takut dengan kesendirian. Aku ingat waktu kamu diasingkan teman-teman sekelas gara-gara kamu menentang usulan OSIS untuk membubarkan ekskul Cheers, padahal kamu bukan anggota Cheers. Aku melihat kamu sendiri menentang segala keputusan sekolah yang melarang temen-temen kita pake jilbab, padahal kamu sendiri ngga dijilbab. Aku perhatikan semuanya” sanggah Hamzah sambil memperhatikan gerakan sedotan itu. Sebuah gerakan yang tidak beraturan dan itu menandakan Rosmi sedang gelisah.
”Kemana kemandirian kamu Ros...?” lanjut Hamzah.
”Itu dulu Ham, ketika aku belum menjadi isteri siapapun, ketika aku masih bisa menentukan apa mauku. Sekarang aku sudah menjadi isteri seorang lelaki yang wajib aku hormati. Terlepas dari sikapnya yang kurang ramah akhir-akhir ini” jawab Ros dengan tenang.
”Sampaikan salamku pada isterimu! Dia beruntung mendapatkan suami seperti kamu yang lemah lembut dan sangat bijak menyikapi sesuatu. Tapi tolong beritahu dia, maksudku menceritakan ini semua padanya, karena aku membutuhkan support darinya, bukan belas kasihan.” Kali ini ucapannya tegas menohok hati Hamzah. Dia sekarang berada ditempat ini karena usul dari isterinya yang juga sahabat Ros. Mereka berdua sangat dekat satu sama lain walaupun tetap mejaga diri untuk tetap saling menghormati satu sama lain.
Ketika mereka sama-sama diam, tiba-tiba sesosok lelaki menghampiri mereka. Gerakannya jelas sangat tidak bersahabat. Dengan berkacak pinggang dia berdiri di depan Ros.
”Jadi ini kerja kamu selama ini hah...selingkuh dengan laki-laki itu!” teriaknya. Ros tertunduk, sementara Hamzah agak mundur melihat lelaki tinggi besar itu.
”Kamu selalu mengatakan kerja! kerja! kerja ! padahal makan berdua dengan lelaki yang bukan suami kamu. Dasar wanita jalang ga tau diri...!!!” teriaknya lagi. Kini tangannya menarik tangan Ros dengan kasar. Ros tidak berusaha menghindarinya. Kini dimatanya terbayang sebuah pengabdian terbesar akan dialaminya kembali. Sebuah rutinitas yang kini dialaminya dalam satu tahun terakhir.
Tangan lelaki itu kini meraih dan menjambak jilbab yang dikenakan Ros. Menariknya sehingga hampir terlepas dari kepala Ros. Namun dengan sigap Ros menahannya.
”Tidak untuk yang ini mas!” katanya bergetar namun terkesan sangat tegas. Sejenak suminya terdiam.
”Maaf Mas, saya kebetulan bertemu disini, kami teman SMP dulu, Mas jangan salah sangka dulu” desah Ros berusaha menerangkan situasi yang sebenarnya. Sementara Hamzah terdiam. Dirinya gemetar menahan marah dan takut. Tangannya berusaha meraih Ros, namun kemudian ditariknya kembali ketika melihat mata lelaki itu melotot kepadanya.
”Diam lu, dasar lelaki buaya bisanya godain isteri orang! Kamu tuh kalau ga laku jangan ganggu isteri orang dong! Tuh masih banyak nenek-nenek yang mungkin kamu mau godain, bangsat!” kembali suaranya mampu membuat tamu lainnya di rumah makan itu mundur dan bergegas pergi setelah membayar tagihannya.
Ditariknya Ros keluar rumah makan itu. Meninggalkan hamzah yang tercenung diam tanpa mampu berpikir apapun. Dia memandang sekeliling dan mendapati tatapan heran dari para pelayan di rumah makan itu. Mereka kemudian berpura-pura kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Hamzah sudah tidak memikirkan tamu-tamunya di rumah makan miliknya ini. Dia hanya memikirkan nasib Ros kini. Apa yang terjadi padanya? Pukulan lagi, tendangan lagi atau mungkin Ros akan dikurung berhari-hari tanpa bisa keluar dari kamarnya lagi?

------oooo------

”Kasian Ros ya Mas...!”
”Ya...!”
”Mas bilang kalau lebih baik dia meninggalkan suaminya yang kasar itu! Lalu...” tak sempat isterinya menyelesaikan perkataannya. Hamzah langsung memotongnya.
”Jangan kau singgung masalah yang satu itu dulu!” potong Hamzah.
”sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana menyadarkan Ros bahwa dia adalah korban dari kekerasan rumah tangga” lanjut Hamzah. Mereka terdiam sejenak. Tiba-tiba Nani bergumam
”Mmmm...gimana kalau saya ke rumahnya Ros?”
”Apa?” jawab Hamzah.
” Dulu dia yang pertama menelpon hanya untuk berbicara kehidupannya. Sekarang saya yang harus menemuinya, menyatakan rasa duka atas tragedi dalam rumah tangganya dan sebisa mungkin aku menyadarkan Ros...gimana Pa?”
”Wah jangan deh, suaminya galak dan terlihat tidak segan-segan untuk melukai siapapun yang menyinggungnya” jawab Hamzah. Ketakutan melintas dalam jiwanya. Teringat bagaimana kasarnya perlakuan Jali, suami Ros di rumah makan miliknya.
Nani beranjak dari kasurnya yang acak-acak itu, sisa-sisa dan saksi dari kegiatan mereka sebelumnya. Sambil menarik selimut untuuk menutupi tubuhnya, dia lantas duduk di depan cermin riasnya. Hamzah sangat mengagumi isterinya itu. Cantik dan putih. Sangat tidak jauh berbeda dengan Ros, hanya kini Ros telah membalut tubuhnya dengan pakaian jilbab, sehingga keindahan tubuhnya tidak lagi terllihat. Hamzah sangat mengagumi kecantikan Ros. Sebelum akhirnya Ros memperkenalkan dirinya dengan Nani. Isterinya kini.
Dan kini, persahabatan mereka memasuki babak baru. Setelah beberapa tahun terpisah, Ros telah berumah tangga dan menghadapi masalah dengan suaminya. Dia akhirnya berbicara dengan isterinya di telepon. Dan itulah yang kemudian membuat dirinya terlibat lagi dalam hidup Ros.
”Ahhhh....Ros....!” Bisiknya.
”Apa pa...papa ngomong apa” tanya isterinya tanpa memalingkan mukanya dari depan cermin riasnya itu. Hamzah terkejut. Sebuah ketidaksadaran telah membuatnya hampir membuka hasratnya.
”Eh, ngga maa...papa setuju mama menemui Ros di rumahnya. Tapi hati-hati. Dan tolong jangan bilang apa-apa tentang usulan mama akan menjadikan dia sebagai isteri kedua papa ya!” jawab Hamzah menyembunyikan keterkejutannya sendiri.

----oooo-----

Entah apa yang ada dalam pikiran Nani saat ini. Kini dia ada di depan pintu rumah sahabatnya. Keraguan menyelimuti ketika mendapatkan keadaan rumah sepi. Namun keraguannya langsung dia tepis. Jasanya dahulu memperkenalkan dirinya dengan Hamzah benar-benar harus dibalas kini. Dengan perhatiannya, dengan kasih sayangnya. Bahkan kalau Ros mau, dia akan ajak sahabatnya itu untuk tinggal bersamanya di rumah Nani.
Tangan Nani lambat menggapai bel rumah tersebut.
Ting tong!
Tak ada jawaban.
Kedua kali. Ting tong!
Terdengar langkah menuju pintu. Hati Nani berdegup kencang. Ini bukan langkah seorang wanita. Langkah ini terasa berat dan semakin mendekat. Nani mendengar suara kunci diputar. Terbuka dan nampaklah sesosok lelaki tegap, tinggi besar dan tubuhnya berkeringat. Jali, pikirnya. Darahnya mendesir hebat.
“Eeee….aaa…ada Ros?” Tanya Nani dengan nada bergetar.
“Ga ada. Ada keperluan apa? Siapa kamu hah?!” bentak Jali.
”Saya...saya temannya Ros, isteri lelaki yang kamu temui kemarin lusa di rumah makan” jawab Nani.
”Ooooo... begitu, kemarin suaminya, sekarang isterinya mau ikut campur urusan rumah tangga orang ya....! Ros sedang belanja sebentar. Ada perlu apa?”
Nani merasa kikuk berdiri di depan pintu dengan lelaki setengah telanjang berdiri dihadapannya. Dia merasa sedang melakukan hal yang tidak pantas. Ketika dia berpikir untuk pulang, pikirannya melarang melakukan itu. Dia akhirnya nekad.
”Bisa bicaranya di dalam saja Mas. Mungkin saya bisa menunggu beberapa saat”
Lelaki itu diam, menatap wajah Nani dan menyusuri tubuh wanita dihadapannya.
”Masuk!”
-----oooo------
Hamzah gelisah. Pikirannya benar-benar diiputi rasa takut. Dimana Nani, pikirnya. Usahanya menghubungi handphone Nani benar-benar mentok. Sementara untuk menyusul Nani jelas dia tidak bisa karena Hamzah tidak menanyakan alamatnya kepada Nani.
Ting tong!
Hamzah menghela nafas lega! Akhirnya isterinya pulang. Bergegas dia menyambut isterinya dan membuka pintu segera.
”Ros...?” Hamzah terkejut karena orang yang ada didepannya adalah wanita yang selama ini senantiasa bergantian berkelebat bersama isterinya. Kini wanita itu ada dihadapannya, ketika isterinya sedang tidak dirumahnya. Namun di rumah wanita yang ada dihadapannya ini, sekarang!
”Maaf mas, saya tidak tahu harus pergi kemana.” lirih suara Ros menusuk telinga Hamzah.
”Ayo masuk Ros!” tawar Hamzah. Ros masuk dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa Rumah Hamzah. Dirinya tak lagi menunggu ijin dari Hamzah. Dirinya benar-benar lelah dengan hidup ini.
Hamzah menuju dapur, membuatkan sebuah sirop dingin dengan lemon di bibir gelas. Dengan tenang, berusaha tenang, Hamzah memberikan gelask itu tanpa mengeluarkan kata-kata. Dia tahu, disaat seperti ini tentunya Ros tidak ingin diganggu. Dia kemudian duduk, memandang wajah sahabatnya yang sedang memejamkan matanya. Kening Ros nampak berkerut menandakan posisi tidurannya bukan posisi yang nyaman baginya.
15 menit. Detik terasa berat dirasakan Hamzah untuk melihat sahabatnya tepat berada di depannya tanpa bisa berbuat apa-apa. Pelukan sayang dan curahan kasihnya benar-benar terhambat nilai agama dan budaya. Kini, dia berada dekat dengan sahabatnya, namun jauh dari kemampuannya untuk menujukkan kasih sayangnya.
“Mas…aku mau pulang ya….!”
Hamzah terperanjat. Lamunannya tentang masa lalu benar-benar membuatnya tak lagi memperhatikan sahabatnya.
“Kenapa, kamu ngga nunggu Nani? Dia ke rumah kamu lho!” Hamzah kaget. Kini dia baru menyadari kalau isterinya sedang berada di rumah Ros tapi orang yang ditujunya tepat berada di depannya. Lantas kemana Nani?
”Aduh mas, kenapa harus ke rumah aku sih, kasian kan Nani. Aku takut dia diperlakukan tidak baik mas....Ayo cepet kita kerumah saya”. Mereka bergegas keluar dari rumah itu. Hamzah merapihkan bajunya yang telah acak-acakan dan Ros merapihkan jilbabnya yang tak karuan posisinya. Ketika mereka akan beranjak, pagar rumah berderit. Hamzah menatap lurus ke arah suara.
Isterinya masuk dengan tenang seolah tidak mengetahui kalau suaminya sangat mengkhawatirkan dirinya. Seulas senyum mengembang dibibirnya.
”Kenapa mas kok kaya yang bingung begitu?” tanya Nani. Nani tidak melanjutkan langkahnya ketika dari balik pintu rumahnya keluar Ros, sahabatnya.
”Ada apa ini sebenarnya, Ros, kamu lagi ngapain di sini? Disaat aku tidak ada dirumah?” tanya Nani lagi. Tatapannya berganti menyapu kedua wajah yang ada didepannya.
”Gada papa kok Nan...Tadi Ros kesini dan langsung duduk di depan. Dia capek kayanya” jelas Hamzah. Jelas wajahnya menunjukkan kekhawatiran kalau-kalau isterinya mencurigai dirinya.

Bandung, 27 Juli 2009. Senin
(Cerpen tapi Bersambung...)

Sabtu, 25 Juli 2009

KIAMAT 2012?


Oleh : Imam Wibawa Mukti*
Bagian 1: Pertanyaan abadi dan asal mula manusia

Landasan Berpikir
Saya tidak pernah mempermasalahkan tentang kiamat atau tidak, hancur atau tidak, bencana global atau bukan. Saya lebih tertarik dengan landasan berpikir dan teori alternative yang digulirkan untuk kemudian menyimpulkan bahwa akan terjadi “kiamat” pada tahun 2012.

Landasan berpikir para penganut atau yang mempercayai akan terjadinya “kiamat” pada tahun 2012 bukan lagi hanya berpijak pada fakta yang bisa diamati oleh akal dan pengetahuan yang ada, tapi juga dengan berlandaskan pada sejarah bumi, manusia bahkan mitos, manuskrip, perkamen atau tulisan-tulisan kuno. Sebuah revolusi pemikiran yang cukup menarik setelah kita dicekoki dengan berbagai rumus, hipotesis dan metode pemikiran yang hampir seragam. Selama ini kita digiring untuk memuja akal dan panca indera dan “dipaksa” untuk menanggalkan insting, nurani, kata hati bahkan agama. Orang-orang yang mengaku kaum rasionalis menganggap bahwa nurani, insting, kata hati, wangsit, wahyu atau agama hanyalah impian, abstrak, tidak logis dan sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Padahal berapa banyak teori, ilmu, rumus atau teknologi yang ada sekarang merupakan wahyu, impian, insting dan hasil insting manusia. Bagaimana Archimides mendapatkan pencerahan ketika putus asa untuk menimbang makota raja. Bagaimana Newton mendapatkan ”wahyu” ketika sedang istirahat dibawah pohon apel, bagaimana da Vinci menggambarkan mimpi-mimpinya tentang jam, pesawat, alat ungkit dan lainnya. Bagaimana agama banyak memberikan inspirasi tentang astronomi, asal mula kehidupan bahkan perkembangan teknologi saat ini. Lantas mengapa sekarang kita masih sombong dengan akal kita yang hanya mampu kita gunakan tidak lebih dari 10% dari kemampuan yang sebenarnya?

Jadi, kalau saya sekarang ingin mengupas tentang ”kiamat” 2012, bukan berarti ingin menjadikan peristiwa itu sebagai sebuah kesimpulan, namun justru menjadi titik awal dari uraian sesuatu yang lebih berharga dan sangat sangat menarik, yaitu tentang asal mula kehidupan dan asal mula peradaban!

Pertanyaan Abadi
Selama ini, saya masih juga mencari jawaban-jawaban dari beberapa pertanyaan abadi umat manusia. Pertanyaan yang akhirnya melahirkan budaya, peradaban dan agama. Begitu banyak pertanyaan yang sampai saat ini belum bisa dijawab dengan pasti, sehingga manusia terus berputar dan berpikir menjawab semua itu dengan segala keterbatasan akalnya. Pemikiran dan perenungan ini menciptakan ilmu, teori atau kesimpulan. Namun tetap tidak mampu menjawab pertanyaan abadi itu. Lantas, teori dan kesimpulan dahulu dijadikan pijakan awal bagi lahirnya ilmu baru dan teknologi baru. Terjawabkah pertanyaan abadi itu? Tidak! Bahkan peradaban dan teknologi yang lahir semakin menjauhkan manusia dari hakekat kelahirannya di alam semesta ini untuk menjawab pertanyaan abadi, namun terjebak pada hasil dan dampak dari perkembangan ilmu dan teknologi. Sangat duniawi, akali dan jasmani.

Kepekaan nurani berganti menjadi kepekaan jasmani untuk memenuhi segala hasrat hewani. Akal budi tertindas oleh logika dan perangkat yang dibuat se-logis mungkin sehingga dapat terukur. Sistem yang berlandaskan kata efektif efisien telah mematikan kemampuan manusia untuk menikmati dan merenungkan hakekat kehidupan dengan ukuran waktu dan hasil. Tak ada ruang bagi waktu untuk lamunan dan mimpi, tak ada waktu untuk memberi ruang bagi kontemplasi dan perenungan mendalam tentang hakekat hidup.

Pertanyaan abadi yang telah menghantarkan manusia dengan segala kemajuan dan kemunduran sekaligus tersebut diantaranya adalah tentang kematian. Apa itu mati, kemana kita setelah mati, mengapa harus mati kalau kita diberi hidup, bagaimana mempersiapkan diri dalam menjemput mati.

Ketakutan manusia akan mati jauh lebih menegangkan ketimbang menyusuri jejak asal mula kehidupan itu sendiri. Bahkan bisa jadi ketakutan manusia akan kematian-lah yang menyusun peradaban setahap demi setahap atau bisa jadi misteri kematian jauh lebih berperan dalam lahirnya agama-agama dibandingkan dengan misteri asal mula dan hidup itu sendiri.

Manusia kemudian terbagi menjadi dua kelompok, yang percaya kehidupan setelah mati dan yang tidak percaya adanya kehidupan setelah mati. Dan hebatnya, kedua aliran ini memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kehidupan itu sendiri.
Pertanyaan kedua adalah asal mula kehidupan. Bagaimana alam semesta ini tercipta, bagaimana manusia bisa ”ada” seperti yang sekarang ini, dan apa tujuan hakiki dari ”keberadaan” kita di dunia ini. Ada ketegangan dalam diri saya setiap melihat film, membaca novel fiksi atau non fiksi, legenda, mitos atau artefak yang bersinggungan dengan asal mula hidup. Ini penting! Penting sekali! Bagi saya, dengan mengetahui asal mula kehidupan, maka kita akan tahu misi atau tujuan dari ”keberadaan” manusia di alam semesta ini. Dan akhirnya, saya bisa tahu kemana kemungkinan saya setelah mati.
Saya bukannya tidak meyakini dogma, firman dan ajaran agama-agama yang ada selama ini. Saya hanya tidak ingin agama saya, ilmu saya selama ini membuat otak dan akal saya terpasung untuk berpikir. Berpikir dalam segala hal termasuk pertanyaan tentang hidup dan mati. Jangankan tentang hidup dan mati, tentang sebuah perintah atau larangan dalam agama pun saya selalu kritisi dengan akal dan pikiran. Dan tak jarang ketika pikiran saya mentok karena keterbatasan ilmu, maka saya kemudian meyakini total ajaran dan perintah agama tersebut. Ketika ada yang mengatakan bahwa laki-laki tidak dilarang poligami, tapi wanita tidak diperbolehkan poligami maka pikiran saya mencoba mencari-cari pembenaran tentang itu, apakah itu sebatas salah penafsiran, akibat dari budaya yang paternalistik, bagian dari sejarah, sunnah Rasul atau memang menyimpan hikmah yang belum terungkap.

Pertanyaan ketiga adalah tentang Tuhan. Mengapa Dia ada, mengapa harus ada, dan mengapa harus menujukkan ”keberadaannya” kepada manusia.

”Kiamat 2012”, Memberikan Alternatif Jawaban.
Dari dulu saya tidak percaya kalau ada isu tentang waktu-waktu akan terjadinya kiamat. Ada orang yang menjadikan hitungan-hitungan dalam agama sebagai acuan dan ada juga yang menggunakan perhitungan astronomi, ramalan nenek moyang maupun hanya sekedar wangsit.

Mungkin baru berita sekarang ini saya agak menyempatkan waktu mencari-cari informasi dari semua hal yang berhubungan dengan kiamat 2012. Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik, diantaranya yaitu digabungkan beberapa fakta ilmiah dengan legenda, mitos dan cerita-cerita dari tulisan masa lampau. Nanti kita bahas sepintas.
Alasan kedua adalah disentuhnya beberapa hal yang berhubungan dengan asal mula manusia.

Dan yang ketiga adalah sedikit membahas tentang ”Tuhannya” orang-orang terdahulu dan memberikan inspirasi bagi lahirnya agama-agama dikemudian hari termasuk agama yang berkembang saat ini.

Keempat, tentang adanya gerakan manusia dalam menyongsong masa depan, dalam hal ini kiamat itu sendiri. Kelima, beberapa teori baru tantang DNA, Evolusi, UFO, alien dan Seleksi alam.

Jadi, terlepas dari benar atau tidaknya kiamat tersebut terjadi, saya lebih tertarik pada landasan berpikir dan teori yang mendukungnya walaupun diselimuti dengan berbagai mitos dan legenda. Mungkin memang itu bagian dari naluri manusia untuk selalu mencari jawab dari mimpi dan ketakutannya sendiri.

”Terima kasih Tuhan, engkau terus memberikan aku pertanyaan-pertanyaan baru seputar kehidupan ini, karena dengan pertanyaan-pertanyaan itulah aku merasa terus hidup, dalam kematianku sekalipun!”(Imam Wibawa Mukti, 25 Juli 2009).

Awalnya...
Kiamat! Sebuah kata yang paling menggetarkan umat manusia dan ada dalam semua agama dan kepercayaan. Situasi dimana alam semesta hancur, hilang dan kembali keasalnya. Ketiadaan! Kehampaan! Keheningan dan kegelapan total!
Benarkah itu akan terjadi 2012? Beberapa buku dan artikel tidak secara eksplisit menyatakan jelas apakah kiamat itu dalam arti hancurnya alam semesta atau hanya kehancuran bumi sebagai mikrokosmos dari alam semesta. Bahkan tersirat bahwa kiamat yang dimaksud hanyalah bentuk seleksi alam dari semakin sesaknya bumi oleh manusia.
Bumi ini tidak pernah bertambah luas dan volumenya, namun manusia sebagai penghuninya hampir menutupi seluruh bagian bumi. Mungkinkah bumi berdiam diri menampung dan menggendong hampir 6 milyar manusia saja? Apakah manusia juga akan mengalami nasib seperti dinosaurus yang dulu pernah mendominasi bumi dengan badannya sanga sangat sangat sangat besar itu? Dan kalau itu benar, seleksi alam seperti apa yang akan manusia alami menjelang kepunahannya?

Lantas, teori apa yang menimbulkan keyakinan pada beberapa orang bahwa 2012 akan menjadi akhir dari peradaban manusia yang sekarang dan diganti dengan peradaban manusia yang benar-benar baru itu?

Tahukah kita?
  • Tentang Teori Evolusi!
  • Tentang DNA!
  • Artefak Peradaban Purba!
  • Siklus Kehancuran Peradaban Manusia!
  • Global Warming Adalah Akibat dan Bukan Sebab!
  • Crops Circle!

Missink Link Dalam Teori Evolusi Darwin!
Tak perlulah saya mengungkapkan siapa dan apa isi dari teori Darwin. Semua dunia sudah mengetahuinya, walaupun mungkin belum benar-benar memahami. Dari beberapa tulisan yang mengulas teori Darwin saya menyimpulkan bahwa Dawin tidak pernah mengatakan manusia adalah keturunan monyet, tapi hanya seketurunan atau memiliki nenek moyang yang sama dengan monyet.

Namun lepas dari segala kontroversi pro dan kontra, teori evolusi darwin tentang asal mula kehidupan telah menjungkirbalikan kepercayaan manusia saat itu. Kepercayaan mayoritas manusia bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam beberapa hari dan telah mewujud seperti sekarang ini.

Dalam buku Origin of Species (1859), Darwin menguraikan tentang keberanekaragaman fisik makhluk saat ini merupakan hasil dari seleksi alam. Hanya makhluk yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya-lah yang bisa bertahan sampai saat ini. Termasuk manusia.

Makhluk hidup yang paling sederhana diasumsikan telah berusia milyaran tahun yang lalu. Sementara manusia pernah diperkirakan muncul 500.000 tahun yang lalu. Namun seiring banyak ditemukannya berbagai fosil yang menunjukan bahwa manusia lebih tua dari itu, para ilmuan semakin bingung. Asumsi berubah total dan merubah anggapan semula dan mengatakan bahwa nenek moyang manusia pernah hidup 25.000.000 tahun yang lalu! Nenek moyang yang secara fisik memiliki kemiripan dengan manusia karena hanya mereka adalah kera yang berdiri tegak. Mereka diyakini telah hidup dan bertahan selama 14.000.000 juta tahun untuk kemudian berubah menjadi hominid (menyerupai manusia) dan butuh 11.000.000 tahun kemudian untuk berubah kembali menjadi homo (manusia).

Jenis pertama dari klasifikasi ini adalah Advanced Australopitecus dari Afrika sekitar 2.000.000 tahun yang lalu. Setelah sekitar 1.000.000 juta tahun, muncul Homo erectus dan ditambah lagi 900.000 tahun atau 50.000 tahun SM baru muncul jenis manusia primitif denan batu sebagai peralatan tercanggihnya.
Sekarang bayangkan! Alat yang dipakai oleh Advance Australopithecus dan Neanderthal yang merupakan manusia modern dan terpisah waktu 2.000.000 tahun ternyata memiliki peralatan dan teknologi yang hampir mirip! 2.000.000 tahun bro! Sebuah rentang waktu yang panjang, dan nenek moyang kita itu hanya mampu memakai batu tajam sebagai senjata!

Lantas dengan sangat tiba-tiba, 35.000 tahun yang lalu muncullah jenis homo sapiens di wilayah Mediterania setalah punahnya jenis Neanderthal akibat perubahan iklim yang ekstrim.

Jenis homo sapiens pertama ini diberi nama Cro Magnon dengan ciri memiliki tubuh layaknya manusia jaman sekarang dan tingkat intelektualitas yang sangat maju dibanding nenek moyang mereka. Mereka hidup di goa, mengenal pakaian, perkakas batu, kayu dan tulang yang sangat halus, membuat lukisan didinding goa, mengenal suatu kepercayaan dan ritual, mereka juga sudah berbicara sebagai alat komunikasi.

Mengapa bisa terjadi sebuah lompatan peradaban yang sangat revolusioner dalam waktu yang sangat singkat? Yang paling mengherankan adalah bukan keterbelakangan peradaban nenek moyang kita dahulu namun justru kemajuan peradaban kita yang sangat pesat! Karena kalau kita melihat sejarah perkembangan manusia dengan peralatan yang dipergunakannya, jika manusia memerlukan waktu 2.000.000 tahun untuk perkembangan batu tajam, maka untuk bisa mengenal alat dari logam paling tidak minimal harus memakan waktu 2.000.000 ahun lagi. Dan perlu 10.000.000 tahun lagi bagi manusia untuk bisa mencapai tahapawal ilmu pengetahuan. Tapi...hanya dalam waktu 50.000 tahun semenjak Neanderthal punah, Homo Sapiens mampu menerbangkan Manusia ke Bulan(?). (Mindkind Evolving, Theodosius Dobhansky)

Ada sebuah penemuan yang membuktikan sebenarnya, ada tahapan evolusi dimana peradaban manusia tidak mengalami kemajuan, bahkan malah menuju kemunduran. Dalam hitungan tahun antara 27.000 SM hingga 11.000 SM ditemukan bukti-bukti kkuat bahwa peradaban dan populasi manusia menyusut nyaris punah karena bencana katastropik. Namun tahun 11.000 SM itulah tiba-tiba muncul peradaban yang diawali dengan kemunculan homo sapiens dan langsung membawa peradaban yang sangat tinggi jauh melebihi nenek moyang sebelumnya pada tataran yang sangat fantastis baik dilihat dari aspek peradaban, budaya, ilmu dan teknologi.

Jadi evolusi dan seleksi alam benar-benar bisa terjadi pada periode Hominids sampai Neanderthal, tapi semenjak munculnya homo sapiens, terlalu naif bila kita mengatakan bahwa mereka adalah hasil dari evolusi yang sangat lambat itu, atau dari seleksi alam yang hampir membuat neanderthal musnah.

Pertanyaannya, siapa homo sapiens itu sebenarnya? Bagaimana bisa mereka melompati waktu evolusi yang lambat dengan kemajuan teknologi, pengetahuan dan peradabannya yang sangat revolusioner? Mungkinkah ada faktor yang turut berperan dalam proses lahirnya homo sapiens dan peradabannya itu?
(Bersambung, DNA kode dari ala, semesta?)
* Disarikan dari beberapa sumber

Jumat, 24 Juli 2009

PUZZLE CINTA

Menyusun keping-keping puzzle masa lalu dalam sebuah frame masa lalau yang kelabu
Angin pun tak urung berbisik,
dimana rindu yang kau titipkan pada helaan nafasku dulu
lupakah kau pada setiap goresan tepi dari masa lalumu

aku mengelinjang menahan luapan emosi
rasa
cinta

Kamis, 23 Juli 2009

Wanita Pun Ingin Bahagia

“Ayo dong Andika, Nadia, cepetan mama kan harus belanja keperluan rumah. Mama harus cepat ke mall-nya!” teriak Melly kepada anak-anaknya. Melly berusaha mengejar anak-anaknya yang sedang asyik bermain ketika semuanya sudah siap berangkat untuk berbelanja kesalah satu mall yang sering mereka datagi untuk belanja bulanan.
”Pa...beneran nih ngga akan nganter mama?” Tanya Melly kepada suaminya yang tengah asyik membersihkan aquarium kesayangannya. Melly terkadang cemburu dengan ikan-ikan itu.
”Mama kan liat papa lagi sibuk. Ngga apa-apa kan pergi ama anak-anak dan bi Inem. Lagian mama kan pegang uangnya cukup, jadi papa rasa mama bisa pergi sendiri.” jawab Fredy, suaminya. Tangannya basah oleh air aquarium kesayangannya. Sudah dua minggu aquarium itu tidak dibersihkannya. Dia khawatir ikan-ikan itu akan mati.

”Ya udah, mama pergi dulu ya pa…kalau mau makan, Inem udah masak makanan kesukaan papa di lemari makan” sambung Melly sambil berusaha menciumpipi suaminya. Namun Fredy menghindar.
”Bau Ma.. papa belum mandi nih”
Melly menghentikan maksudnya, di tahu suaminya akan menolak diciumnya. Suaminya sudah dikenalnya dingin dengan hal-hal yang berbau romantis. Dulu sifat itulah yang disukai Melly,, tapi sekarang dia merindukan keromantisan seorang suami, namun belum juga dia rasakan. Walaupun dia tahu selama ini suaminya masih tetap setia kepada dirinya.
Melly bergegas mengambil tas belanjaannya. dia sudah tidak sabar untuk segera pergi ke mall langganannya.
Dengan menuntun kedua anaknya yang masih kecil-kecil itu, Melly segera masuk ke mobil dan menyuruh Inem untuk menjaga anak-anaknya dibelakang. Di starter-nya mobil dengan tenang namun agak bergetar. Menujukkan sebuah ketidaksabaran yang dicobanya untuk disembunyikan dari suaminya.
Didalam mobil, pikiran Melly benar-benar diisi dengan dentuman sensasi yang sangat membangkitkan gairahnya. Mall-ku...aku dataaa...ng, teriak Melly dalam hatinya. Dia mencoba mengusir bayang-bayang suaminya yang sedingin gunung Jayawijaya itu. Pernikahannya sudah 10 tahun berjalan dan kehidupannya sangat rukun, tenang bahkan nyaris tanpa gejolak. Datar dan lurus.
Suaminya bukan tipe wanita ”normal” pikirnya. Sifat suaminya yang kaku dan tidak romantis membuat hati Melly tenang selama ini dalam mengarungi rumah tangga. Tidak pernah dia menemukan gejala kebohongan dan perselingkuhan suaminya, baik masalah uang maupun masalah kesetiaan.
Lurus...tenang...datar......
”Hmmmmmm....” desah Melly disela kegiatannya mengatur kemudi mobil. Desahannya cukup membuat Bi Inem yang telah menemani nyonya-nya selama 8 tahun agak khawatir. Pengalamannya sebagai seorang wanita yang pernah menjalani pernikahan bisa membaca masalah yang terjadi. Masalah yang terlihat tenang dipermukaan namun penuh gejolak di dalamnya.
Inem adalah salah satu orang yang heran, karena selama dia tinggal dirumah itu, tidak pernah sekalipun mendengar pertengkaran dari induk semangnya. Tidak pernah ada kata-kata kasar, pertengkaran, atau permasalahan yang dia bisa lihat atau dengar. Awalnya semua itu menimbulkan kekaguman, namun akhir-akhir ini dia merasakan bahwa itu tak biasa. Sebuah keluarga tanpa pertengkaran dan masalah adalah sebuah keanehan bagi bi Inem yang hari-harinya dalam berumah tangga selalu diwarnai percekcokan dan pertengkaran. Masalah ekonomi adalah penyebab utama.
Ketika mobil berbelok masuk ke mall itu, hati Melly benar-benar semakin tak menentu. Debaran jantungnya semakin cepat dan keringat dingin mulai menghinggapi tubuhnya yang semampai, putih dan seksi. Sebuah prestasi yang sulit dicapai oleh seorang wanita yang sudah memiliki dua anak. Dilahan parkir itu, Melly langsung berjalan cepat diikuti oleh Andika yang terlihat agak berlari mengejar langkah mama-nya. Nadia dipangku bi Inem yang terengah-engah dibelakang.
”Bu, maaf...kok ke arah tempat mainan anak-anak? Kan kita mau belanja keperluan sehari-hari!” tanya bi Inem yang benar-benar kelelahan mengejar nyonya-nya itu. Dia benar-benar heran dengan Melly yang berjalan seperti dikejar setan dan menuju ke arah yang selama ini justru selalu dihindari. Tempat mainan anak-anak.
”Udahlah bi, sekarang bibi ikut aja, nanti saya terangkan di sana” jawab Melly. Dia menyadari bahwa dirinya benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. Dia harus segera bertindak wajar, supaya bi Inem dan kedua anaknya tidak curiga kepada dirinya.
”Gini bi...sekarang bibi temani anak-anak main di sini. Mereka bebaskan saja menaiki mainan yang mereka mau. Bibi akan saya beri uang yang cukup untuk main anak-anak dan makanan mereka. Biarkan mereka main sepuas-puasnya disini sambil menunggu saya belanja. Bibi ngga usah ikut saya belanja, supaya cepet ya bi....” papar Melly dengan suara yang agak bergetar. Lalu dari tasnya, Melly mengeluarkan uang sebesar 500 ribu rupiah. Sebuah jumlah yang sangat banyak untuk main anak-anak, pikir bi Inem. Tapi dia tidak peduli. Tugas dia hanya menjaga anak-anak nyonya-nya ini. Dan senang karena tidak harus menemani sang nyonya belanja. Karena selain lama, dia juga capek bila harus sambil menjaga anak-anak.
”Ya Nyah....bibi jagain anak-anak. Nyonya belanja aja yang tenang” Jawab Bi Inem segera. Lalu Inem menuntun anak-anak itu menuju sorga anak-anak itu.
”Asiiiiiik, mainan, mainan!!!!” teriak Nadia dan Andika. Mereka berlari menuju mainan yang mereka gemari. Sejenak Melly menatap kedua anaknya itu. Dia merindukan suaminya bermain bersama, bercanda bersama. Dengan dirinya dan anak-anak, namun semua itu tidak pernah mereka alami.
Melly membalikan badannya. Dia segera menuju ke arah swalayan di mall tersebut, namun ketika sudah dekat tiba-tiba Melly berbelok arah menuju tempat makan. Sejenak dia menebarkan pandangannya kesekeliling tempat makan tersebut. Akhirnya dia menemukan sosok yang dikenalnya. Melly tersenyum dan menghampiri lelaki itu. Lelaki itu pun tersenyum kepadanya. Sebuah seyuman yang selama ini mengisi mimpi ditidurnya.
”Maaf ya dik, Mba harus ngurus dulu anak-anak” kata Melly sambil mencium kedua pipi lelaki itu. Lelaki itu membalasnya dengan seyum.
”Ngga apa Mba, saya ngerti kok kalau mba harus mengurusi anak-anak dan papanya ya....!” jawab lelaki itu.
”Gimana, langsung aja yu. Waktu mba terbatas nih” tanya Melly. Lelaki itu bangkit dan langsung menggenggam tangan Melly. Dan berjalan menuju parkir mobil. Melly memberikan kunci mobil itu kepada lelaki disampingnya.
”Kamu yang nyetir ya...!” pintanya.
“Oke mba, buat mba apa sih yang saya ngga kasih”. Tangannya mengambil kunci dari tangan Melly sambil meremas pelan tangan Melly. Menariknya, lalu mencium tangan halus Melly. Melly merasakan getaran yang tidak pernah dia alami sejak Fredy menjadi suaminya.
”Mba cantik banget....seksi lagi....”
”Ah...kamu tuh gombal ya!” cubit Melly mendarat di tangan lelaki muda itu. Lelaki itu mungkin berusia 19 tahun. Muda, ganteng dan romantis. Benar-benar lelaki impian Melly, sekarang!

Mobil meluncur ke sebuah hotel yang tak jauh dari dari mall itu. Melly langsung memeluk tangan lelaki itu dan menyandarkan kepalanya di pundak lelaki itu. Kemesraan dua manusia ini sangat membuat iri tamu hotel. Sepasang kekasih yang harmonis, pikir mereka. Langkah mereka langsung menuju resepsionis dan menghilang dibalik tembok-tembok kamar hotel.

Tiga jam kemudian Melly muncul di tempat mainan itu. Langsung mengajak bi Inem dan anak-anak untuk pulang.
”Udah ma belanjanya....?” tanya Fredy. Melly mengangkat bahu. Menyuruh bi Inem membawa belanjaannya yang tidak sebanyak biasanya.
”Bi, kok belanjaannya sedikit?” tanya Fredy kepada Inem.
”Iya den, abis anak-anaknya main dan Nyonya belanja sendirian. Kasian mungkin nyonya capek tuan” jawab Inem.
Wajah Melly benar-benar cerah sore itu. Fredy merasa Melly sangat cantik hari ini. Fredy melipat koran sorenya. Menyusul isterinya yang sedang rebahan di tempat tidur.
”Ma...mama...capek ya...pengen nih ma...” kata Fredy tanpa basa basi.
”Pa...jangan ah...mama capek nih....ntar-ntar aja ya” jawab Melyy sambil membalikan tubuh dan membelakangi suaminya. Dia tahu suaminya keluar dari kamar. Melly tersenyum. Sebuah senyum kepuasan yang dialaminya siang itu. Di hotel itu. Bersama lelaki itu. Dia tidak pernah menyangka perkenalannya dengan lelaki dari chating dan facebook telah mengisi kekosongan hatinya. Hati yang kering kini telah terisi oleh busa dan gelombang rasa cinta yang hampir mati.
Dia raih HP dari tasnya. Memijit beberapa huruf dan menjalin menjadi sebuh kata di layar HP-nya.
”Terima kasih sayang, minggu depan kita bertemu lagi ya...!” lalu jari lentik itu memijit tombol ”send”. Beberapa saat kemudian HP itu bergetar. Melly tersenyum membaca balasan sms-nya.
”Terima kasih juga Mba, pengalamannya luar biasa”

Bandung, 23 Juli 2009
Untuk para isteri yang senantiasa setia
-Imam Wibawa Mukti-

CINTA

Sandra berlari menuju kelasnya. Badannya menubruk tubuh beberapa temannya yang tanpa sengaja menghalangi jalannya. Begitu sampai dikelas, dia langsung menuju mejanya dan menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Dikeheningan kelas saat istirahat membuat suara isak tangisnya kontras. Dinding-dinding kelasnya haru diam terpaku menyerap kesedihan terdalam dari salah satu penghuninya yang cantik itu.
Sesosok tubuh lelaki diam di muka pintu
Lelaki itu diam menatap kekasihnya yang sedang melepaskan kesedihannya, sendirian. Wajahnya kemudian menunduk lesu tanpa ekspresi. Dilihatnya Sandra sedang menangis dan...
Tepat dibelakang Sandra, seorang lelaki sedang membelai rambut kekasihnya. Lelaki yang tidak pernah dikenalnya. Belaian yang sangat halus, menunjukkan kasih terdalam dari seorang lelaki. Sandi bisa merasakannya, terlihat belaian tangan lelaki itu seolah tidak terasa oleh Sandra. Sandra terlihat tak peduli dengan belaian lelaki itu.
Badannya berbalik hendak meninggalkan kelas tersebut. Tak ada lagi alasan baginya untuk mendekati wanita yang sangat disayanginya itu. Tak ada lagi alasan baginya untuk hanya sekedar menyapa, membelai rambut dan mengucapkan rasa sesalnya. Ini bukan untuk dimaafkan, pikirnya.
”Sandi...!” teriak seseorang dari dalam kelas memanggilnya. Jelas itu adalah suara Sandra. Suara yang setahun ini paling dia harapkan untuk dia dengar. Suara yang selalu mengisi handphone-nya setiap saat dengan canda dan suara manjanya. Suara yang selalu menghantuinya tatkala dia merindukannya.
Sandi berhenti. Hatinya ragu, bisakah dia menjelaskan semua itu! Sebuah peristiwa yang tidak akan pernah bisa dimengerti oleh siapapun, termasuk kekasihnya itu.

Sebelumnya...
Di kantin sekolah itu, Sandi melihat seorang wanita dengan pakaian putih panjang dan lebar. Wajahnya yang pucat pasi jelas menarik perhatinnya. Bukan kecantikannya yang membuat Sandi terpana, tapi keyakinan Sandi bahwa hanya dialah yang bisa melihat wanita itu di pojok kantin sendiri. Lalu lalang teman-temannya jelas menunjukkan mereka tidak menyadari kehadiran wanita itu dan wanita itupun seolah tidak terganggu dengan lalu-lalangnya anak-anak sekolah tepat di depan mukanya. Sandi tahu, kini dia yakin, wanita itu jelas bukan wanita biasa.
Sandi melihat sekelilingnya, meyakinkan dirinya bahwa hanya dirinya yang melihat wanita itu. Wanita yang sulit dikenali usianya karena sangat asing bagi dirinya. Badannya lebih besar dari tubuh teman-teman wanitanya namun memiliki wajah yang sangat kekanak-kanakan. Dengan langkah ragu Sandi mendekat ke arah wanita itu. Sejenak tubuhnya menggigil seolah sedang berdiri tepat di depan lemari pendingian dengan hembusan angin yang mampu mendirikan bulu roma-nya. Sandi tahu ini bukan lagi dunianya yang nyata.
”Siapa kamu? Kenapa ada disini? Dan....” Sandi tidak meneruskan pertanyaanya. Wajah wanita itu benar-benar dingin bukan hanya kiasan semata. Pucat karena kedinginan atau karena ketakutan. Beku dan tanpa ekspresi yang bisa menunjukkan apakah dia sedang sedih, takut, marah atau bingung.
”Aku selalu menunggumu Sandi...!” Sandi bisa mendengar suara itu padahal dia tidak melihat bibir wanita itu bergerak. Bagi Sandi, tubuh wanita itu tidak bergerak ketika dia menyadari wanita itu sudah tepat berada di depannya. Dekat, sangat dekat! Tapi Sandi tidak merasakan adanya hembusan nafas wanita itu. Sandi merasa dirinya benar-benar terpesona oleh misteri sosok cantik didepannya.
”Saaandiiii....!” bisik wanita itu. Bibirnya tetap tidak bergerak.
Tubuh Sandi tiba-tiba terpelanting keras kebelakang. Menubruk teman-temannya yang sedang duduk tepat dibelakangnya. Tiba-tiba dunianya menjadi gelap.

”Sandi...Sandi...kamu kenapa?” teriak Sandra.
”Helen...Heleeeeen...jangan pergi Helen!” ceracau Sandi. Didepan mata Sandi yang terlihat bukanlah Sandra. Tapi sosok wanita di kantin itu. Sandi ingin meraih wajah itu, tapi wajah itu semakin menjauh, menjauh dan melebur dengan wajah-wajah temannya yang sedang berusaha menyadarkannya.
Sandra tertegun. Suaranya tercekat di kerongkongan mendengar Sandi mengucapkan sebuah nama yang asing bagi dirinya. Sandra bangkit perlahan, hatinya hancur mendengar lelaki yang telah mengisi waktu bahagianya selama ini telah mengucapkan nama seorang wanita lain justru ketika dirinya tidak sadar. Sandra tahu, kejujuran hanya bisa ditemukan ketika manusia dalam kondisi sedang tidak berada ”didunianya”. Dia berlari ke kelas dan ingin segera menumpahkan kesedihannya. Sebuah pengkhianatan yang selama ini dia takutkan dari seorang laki-laki kini benar-benar dia alami.
Hatinya berkecamuk antara ragu dan yakin. Ragu dengan pengkhianatan Sandi namun yakin dengan suara hatinya. Atau dia sebenarnya yakin dengan pengkhianatan Sandi namun ragu dengan suara hatinya sendiri.
Di kelas, Sandra menumpahkan kegalauan hatinya sendiri. Namun insting cintanya mengetahui kalau dirinya tidak sendiri. Dia merasakan belaian dikepalanya. Dia benci Sandi tapi menikmati belaiannya kali ini. Mungkin ini belaian Sandi yang terakhir sebelum dia akan memarahinya dengan sejuta cacian kebencian sebentar lagi. Dalam tangisnya dia meresapi setiap belaian tangan Sandi.
Tiba-tiba Sandra berdiri dan hendak memarahi Sandi. Tapi, Sandi tidak disampingnya. Sandra mencari Sandi dan dilhatnya Sandi sudah berada di depan Pintu. Sandi sudah di depan pintu dan membelakanginya padahal baru saja dia merasakan belaian Sandi, bagaimana mungkin pikirnya. Sandra memanggil Sandi.

Setelahnya...
Sandi dan Sandra sudah tidak lagi menjalin kasih. Keduanya saling meyakini bahwa cintanya telah ternodai dan dikhianati oleh pasangannya masing-masing.

Sementara itu...10 tahun yang lalu,
Sepasang kekasih bernama cinta dan raga melaju dengan motornya melintas jalan raya di depan sekolahnya. Tanpa mereka sadari sebuah mobil angkutan pun melintasi di depan sekolahnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, akhirnya....
Motor Raga berhenti dan membiarkan angkutan kota tersebut melintas terlebih dahulu. Setelah itu lalu Raga pun kembali menjalankan motornya perlahan. Menuju jembatan tinggi yang membelah kota. Raga pun menghentikan motornya dan turun dengan memegang tangan Cinta. Mereka berdua kemudian berjalan menuju sisi jembatan.
Cintanya Cinta terlarang terhadap Raga. Dan kini mereka sepakat untuk hidup bersama selamanya. Dengan langkah tenang kedua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu berdiri sambil berpegangan tangan. Saling tatap dan tersenyum.
”Kita akan hidup bersama kan Cinta...?” Tanya Raga. Cinta tersenyum.
”Kalau begitu, bagaimana kalau kita sekarang turun berdua dari jembatan ini, menyongsong hidup kita berdua selamanya?” tanya Raga kemudian. Kembali Cinta tersenyum. Lalu...
Mereka pun meloncat dari jembatan itu. Lalu berjalan menyusuri pinggir jembatan. Menuju jalan raya, menyetop sebuah bis antar kota. Dan mereka tak pernah kembali.

Bandung, 23 Juli 2009
-Imam Wibawa Mukti-

Rabu, 22 Juli 2009

KETIKA ITU...

Ketika puisi sudah tak lagi bisa kau urai artinya...
Ketika prosa tak mampu kau beri lagi makna...
Ketika mantra tidak bisa lagi kau baca...
Aku hanya bisa mengatakan ”aku menyayangimu seperti apa adanya”

Tapi kau harus menterjemahkannya juga akhirnya
Sampai dimana rasa sayang dan cinta ini bersemayang dalam hati

Senin, 20 Juli 2009

AKU TAK MENGERTI APA YANG AKU YAKINI

(Pengakuan pelaku terror bom di Indonesia)

Abdul sedang berada di dalam taxi, saat melirik jam tangannya. 07.47 WIB tepat! Dadanya bergetar, jiwanya goncang. Sebuah sensasi yang tidak pernah dia alami sebelumnya. Sebuah pengalaman yang sangat mendebarkan hatinya karena tindakannya kali ini sangat menentukan hidup dan mati banyak orang. Sebuah tindakan nyata untuk mengguncang biang kedzaliman di dunia ini. Sebuah tindakan yang akan menggetarkan negara syetan dan thagut yang telah menjadi sesembahan negara-negara di dunia ini. Dan sekarang dia tengah berada di tengah-tengah perjuangan atas nama Allah. Atas nama kebenaran sejati. Atas nama menegakkan panji-panji Allah di negara bernama Indonesia.
Nur, saudara seimannya berkelebat dalam pikirannya dan kini mungkin telah menjadi mesiu bagi perjuangan ini. Zaenal, juga. Dia mungkin berumur 5 tahun lebih muda dari Abdul. Abdul mengeluarkan handphonenya dan memijit 8 digit nomor di handphonenya.

“Semua berjalan lancar ustadz!” Abdul berkata pelan
Kalimat itu terhenti dan berikutnya dia hanya mendengar. Entah apa yang dikatakan orang yang disebutnya ustadz di seberang sana. Tak ada perkataan ya atau tidak dari mulutnya. Kurang dari dua menit handphonenya ditutup lalu matanya menerawang ke luar mobil. Pikirannya dia coba kosongkan. Matanya dia tutup. Kilatan dari teriakan dan bisikan dari orang yang disebutnya ustadz mengiang di kepalanya.”Saatnya Islam bangkit! Telah Allah menjanjikan bahwa semua yang memusuhi Islam akan hancur! Telah tiba waktunya, kita berjuang melawan setelah lama menjadi pecundang! Dihancurkan dan diasingkan oleh kehidupan yang sangat memuja duniawi. Kekuatan anti Islam dan musuh-musuh Islam akan terus menerus menghancurkan Islam sedikit-demi sedikit! Saatnya kita membuktikan bahwa Islam bukan agama para pecundang!” suara-suara itu begitu lantang dia dengar dari sebuah kaset atau CD yang diperdengarkan setiap malam Jum’at setelah pengajian. Walaupun dirinya tidak pernah bertatap muka langsung dengan gurunya, namun kemampuan Ustadz itu dalam berbicara mampu mengobarkan semangat jihad dalam dirinya.

Dalam dakwahnya, Ustadz membeberkan bagaimana dunia kafir kini tengah mengepung kekuatan alternatif setelah hancurnya komunisme, yaitu Islam. Bosnia, Afghanistan, Irak dan Iran menjadi sasaran penghancuran sistematis tersebut. Bagaimana Abdul diperlihatkan banyak video yang menayangkan pembantaian demi pembantaian terhadap negara-negara muslim.

Ustadz yang jenius, pikir Abdul. Dan dengan gurunya itulah dia membaiat dirinya untuk ikut aktif berjuang membela agama Allah yang diyakini kebenarannya sampai ke tulang sumsumnya paling dalam. Melalui wali sang ustadz, dia mengucapkan sumpah setia untuk membela sang guru walau dengan nyawanya sekalipun. Dia bisa melihat semua perjuangan saudara-saudaranya dahulu di Malang, ketika para syuhada itu meledakkan dirinya beserta sang maha guru Ashari dari pada harus menyerah ditangan para pesuruh sang Thagut.

”Syorga akan membuka pintunya bagi orang yang berjuang dijalan-Nya. Yang berani mengorbankan seluruh jiwa raganya! 70 Bidadari akan menyambutmu di pintu syorga. Bidadari yang senantiasa akan perawan melayani kallian semua. Rumah berlapis emas dan aliran sungai madu dan arak akan menjadi penghapus dahagamu. Dunia ini bayangan dan godaan bagi manusia supaya tidak merasakan keindahan dan kenikmatan hakiki di sorga nanti. Mari berjuang di jalan-Nya dan raihlah ridha-Nya di sorga kelak. Kita berjuang untuk melawan para kafir yang telah menguasai negara-negara besar dan adidaya itu! Yang dengannya mereka menghancurkan satu demi satu negara-negara Islam! Kini kita harus membentuk negara Islam untuk menghadang mereka. Di sini, di Indonesia, di negara kalian kita akan mulai kebangkitan itu!”

Di tengah perjalannya menuju markas, dia melihat banyak ambulance dan mobil polisi melintas berlawanan arah dengan taxi yang ditumpanginya. Semua berjalan sesuai dengan rencana, pikirnya.

“Bang, tolong kita balik lagi ke hotel tadi ya, saya ketinggalan sesuatu. Jangan khawatir dengan ongkos, nih saya bayar di muka, nanti kalau kurang saya tambahin” ucapnya sambil memberikan uang seratus ribu rupiah.

“Baik pak!” jawab sang sopir. Sopir itu kemudian mencari jalan yang bisa mengalihkan arah mobilnya. Dipandangi penumpangnya. Klimis dan hanya menggunakan kaos yang ditutupi jaket kain hitam. Topinya menutup setengah wajahnya yang terlihat agak hitam legam namun memiliki tulang pipi yang kuat. Tak seperti penumpangnya yang lain yang berkantong tebal.

”Wah macet pak!” Kata sopir itu. Abdul memandang kedepan. Kepulan asap membumbung tinggi di kedua hotel itu. Hatinya bergetar keras! Hatinya terhenyak melihat banyak orang yang berhamburan keluar dari hotel-hotel itu. Taxi terhenti sejenak, tiba-tiba sesosok tubuh berlumuran darah memaksa masuk ke dalam taxinya.

”Cepat ke rumah sakit terdekat pak! Maaf ya mas, saya minta diantar dulu ke rumah sakit. Isteri saya terkena pecahan bom di hotel itu. Cepat pak!” paksa lelaki muda itu. Abdul tak bisa berkata-kata lagi. Dia menggeser duduknya dan memberikan tempat pada sesosok wanita yang terkulai lemah dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya.

”Maaf mas, tolong bawa isteri saya ke rumah sakit M*C. Saya akan menolong orang yang lain dahulu. Kasihan mereka, mungkin kalau terlambat ditolong akan mati. Isteri saya sudah saya titipkan kepada Allah” papar pria itu untuk kemudian berlari ke arah hotel.

-----------ooo-----------

Keluar dari rumah sakit itu. Abdul membawa tubuhnya pergi entah kemana. Beberapa jam terjebak pada birokrasi rumah sakit yang satu ini benar-benar membuatnya tak bisa segera pergi. Apalagi yang dibawanya masuk adalah seorang wanita yang berlumuran darah dengan badan hampir gosong. Dalam pikirannya, bagaimana mungkin sebuah rumah sakit sehebat ini bisa membuat sistem sepanjang itu untuk keadaan darurat sekalipun.

Tapi kini dia telah keluar dari jaring laba-laba bernama rumah sakit. Dirinya bertanya, siapa wanita yang menjadi korban bom itu. Apakah wanita itu tahu masalah yang sebenarnya. Masalah yang membuatnya berani untuk menjalankan sebuah rencana besar. Rencana untuk menegakkan syareat Islam di negaranya ini. Sebuah perjuangan panjang untuk melawan para musuh-musuh Islam. Kini tubuh wanita itu tergolek tak bernyawa.

Tahukah dia arti perjuangannya ini? Tahukah suaminya tentang perjuangan ini? Tahukah anak-anaknya tentang usaha menegakkan panji-panji kebenaran ini? Perjuangan panjang. Tahukah tubuh-tubuh yang terus masuk ke rumah sakit itu, bahwa perjuangann ini sangat panjang dan penuh godaan.

Abdul berniat melaksanakan shalat Dzuhur di masjid terdekat. Suara adzan bercampur dengan raungan pemadam kebakaran, ambulance dan mobil polisi telah memanggilnya untuk segera melaporkan tindakannya kepada Allah. Aku tengah berjuang di jalan-Mu ya Allah!

Diseretnya kaki-kaki lemah itu. Diseretnya tubuh yang kelelahan ini karena sudah tiga hari kurang tidur untuk merakit bom yang akan dibawa Nur ke Marriot dan Zaenal ke Ritz. Tubuhnya kini membutuhkan basuhan air wudhu.

Di tengah-tengah shalat itu, hatinya mengalami rasa hampa. Tak ada rasa bahagia dalam dirinya. Melihat wanita tadi, dia teringat isterinya di kampung. Di desa bernama Kampung Warung gunung Banten. Desa yang tengah bertransisi menjadi sebuah daerah ramai. Tak lagi terlihat iring-iringan warga pergi ke surau. Tak lagi terdengar suar orang membaca ayat suci dan shalawat kepada Nabi. Semuanya digantikan dengan derungan motor bolong dan dentuman musik dari kuburan.

Isterinya tersenyum dengan mata meneteskan air kesepian dan keraguan, lalu melambaikan tangan kepadanya. Menghilang sedikit demi sedikit. Shalatnya hampa! Kini dia tidak lagi merasakan Tuhan dalam dirinya.

Siapa para korban itu. Siapa musuhnya yang sebenarnya. Bagaimana ujung dari perjuangannya. Siapa dan dimana gurunya yang tidak pernah dia lihat. Kedatangannya ke hotel itu sebenarnya untuk bisa menemui gurunya, selain untuk merakit bom-bom itu. Kerinduannya kepada sosok guru yang katanya disebut Nurdin M. Top benar-benar menjadi legenda bagi dirinya. Panutan bagi dirinya. Misteri bagi jiwanya yang butuh figur penuntun

Shalatnya selesai! Dia menyadari tak ada Tuhan di shalatnya kini. Berjuta pertanyaan terus menggelombang menghempas hatinya yang sudah sekeras karang. Benarkah Tuhan sudah memerintahkan dirinya untuk membunuh sekian puluh, sekian ratus manusia ”hanya” untuk menancapkan nama Allah di negara ini. Bukankah Allah bisa ada dimanapun, bahkann dimana pun selalu ada! Allah bisa dengan mudah mencabut jutaan nyawa hanya dengan sekali ”kun fa yakun!” seperti jaman purba dahulu atau pada saat tsunami di Aceh, lantas mengapa Allah harus menggunakan tangan-tangan hambanya untuk melakukannya.

Pikiran Abdul terus berputar mencari peristiwa dalam sejarah Nabi, di mana Nabi Muhammad memberi perintah pembantaian seperti dirinya sekarang. Tak ada referensi itu.

”Ah, tapi kan sang guru sudah memberitahuku bahwa setiap bisikan didalam hati yang menggoyahkan diri dari perjuangan ini adalah suara-suara setan” gumamnya dalam hati. Dirinya goyah, suara-suara didalam hatinya kini bukan suara setan. Suara ini muncul disaat dirinya sedang shalat dan tak mungkin setan mendekati dirinya yang sedang shalat.

Ketika akan meninggalkan surau itu, diatas sepatunya terbang selembar koran bekas. Koran yang telah sobek dan menempel di kakinya karena diterpa angin. Diambilnya koran itu, dibaca sekilas. Ada berita tentang Manohara, seorang wanita dari ibu yang asli Indonesia dinikahi Sultan kerajaan Klantan Malaysia. Pengakuan manohara bahwa dirinya disiksa telah merusak nama baik kesultanan Klantan dan Malaysia sebagai negara tetangga. Dibalikannya koran itu. Ada berita provokasi angkatan laut diraja Malaysia di kawasan Ambalat. Terngiang kembali berita tetangganya yang menjadi TKW di Malaysia pulang tinggal nama. Gantung diri, begitu penjelasan dari PJTKI yang membawa tetangganya pulang. Tanpa otopsi langsung dikuburkan.

Sekelebat bayangan hitam yang selama ini dikaguminya nampakk dihadapannya. Sang guru! Siapa dia sebenarnya? Mengapa satu orang ini ssangat sulit ditangkap oleh polisi Indonesia sekelas Densus 88. bagaimana mungkin orang denganlogat Melayu yang kental bisa lolos dari tatapan masyarakat Indonesia yang berada di Jawa. Bahkan diberitakan sempat menikah di jawa Timur. Siapa dia sebenarnya.

Mengapa sang guru tidak pernah menampakkan dirinya? Nurdin.M.Top, Manohara, Ambalat, TKI, Malaysia, Minyak, Bom, Teror dan mayat-mayat tadi menggantikan isi pikirannya yang selama ini diisi dengan syahid, Islam, Allah dan sorga.

Teringat sebuah video yang pernah dilihatnya. Sebuah video yang katanya dibuat di Malaysia. Dipojok kirinya tertera intelejen, kecil dan nyaris tak nampak. Bagaimana mungkin sang guru bisa membuat video dengan titel intelejen dibawahnya? Siapa dia sebenarnya?

Kembali dia lari ke rumah sakit.

Dilihatnya ceceran darah di lantai rumah sakit.

Dilihatnya berita di semua stasiun televisi. Kehancuran dan teror mendera negaranya kini. Sejuta umpatan dan caci maki dialamatkan kepada teroris yang tak bukan adalah dirinya. Umpatan dan kekecewaan dari saudaranya satu negara dan satu agama.

”Kalau memang dia adalah pejuang yang berani, mengapa harus membunuh orang yang tak tahu masalah dan arti perjuanganya? Mengapa dia tidak langsung datang ke Amerika dan melakukannya di sana, atau, atau dia sendiri pergi dan tinggal di Palestina untuk membantu saudaranya disana. Mengapa dia yang orang Malaysia itu harus datang ke Indonesia dan menebarkan ketakutan di negara orang lain. Siapa dia sebenarnya?”. pikiran Abdul benar-benar kacau.

”Mungkinkah ini adalah skenario negara tetangga untuk mengacaukan Indonesia dari dalam?” teriaknya dalam hati.

”Mengapa disini? Mengapa di Indonesia, bukan ditanah airnya sendiri. Mungkinkah Nurdin.M.Top itu sebenarnya masih memiliki rasa cinta kepada tanah airnya dan tidak mau negaranya menjado korban dari perjuangannya sendiri lalu menjadikan Indonesia sebagai mainan bagi dirinya? Mungkinkah dia sebenarnya tidak mau menjadikan warga Malaysia dicekam ketakutan lalu membawanya ke negara tetangganya hanya untuk membuktikan bahwa dirinya layak untuuk ditakuti?”

“Kurang ajar!” Gumamnya.

“Jangan-jangan...Nurdin adalah spionase, mata-mata atau agen rahasia yang disusupkan ke Indonesia untuk memecah belah bangsaku? Karena kalau benar dia adalah pejuang Islam yang sejati, tentunya dia tidak harus terus bercokol di negaraku. Tidak seharusnya dia betah dan menikahi wanita Indonesia. Kenapa dia biarkan negaranya aman-aman saja sementara negaraku diobok-obok sesuka hatinya. Anjing...!” teriaknya lepas dan membuat orang-orang disekitarnya kaget, memandangnya dan agak menjauh.

Tekadnya sudah bulat. Dia harus menemui bangsat itu, memeluknya dan meledakkan dirinya dengan bajingan dari Malaysia itu.

“Tak mungkin tanpa akses dan fasilitas yang kuat dia bisa bertahan selama ini! Tidak mungkin tanpa dukungan sebuah kekuatan seperti negara, orang satu ini bisa bebas berkeliaran di negara ini!. Kalau bukan intelejen atau apapun namanya, pasti dia adalah orang yang bermaksud menghancurkan negaraku, apapun alasannya!!!!”. Abdul lari keluar rumah sakit.

----------oooooo------------

Di koran Pos Kota hari Jum’at,

”Ditemukan dua sosok mayat tidak dikenal terseret sungai Ciliwung dan tersangkut di bendungan tengah kota. Kedua mayat tersebut ditemukan dengan luka sayatan. Di duga kedua mayat tersebut terlibat perkelahian hebat dan keduanya mati kehabisan darah. Bagi keluarga yang merasa kehilangan sanak saudara, diharapkan segera menghubungi rumah sakit Cipto untuk identifikasi mayat”

(Kupersembahkan cerita ini untuk saudara-saudaraku yang merasa jadi bala tentara Tuhan, Tangan Allah atau utusan-Nya! Yang merasa dirinya Halal melakukan pembunuhan, pembantaian atas nama Tuhan, atas nama Allah, atas nama-Nya. Terlepas dari keyakinan yang kau jaga dalam dada, masih ada doa orang teraniaya, sakit dan tak berdaya yang mengutuk perbuatan kalian! Mendoakan negara ini damai, negara Indonesia ini selamat!)

Bandung, 20 Juli 2009

Laman