Senin, 19 Oktober 2009

BADUY,


Secara fisik, saya tidak pernah memasuki wilayah Badui, tapi secara emosional saya sangat peduli pada keberadaan komunitas Baduy. Sebuah penghormatan dalam nuansa rasa kagum dan khawatir terhadap eksistensi sebuah budaya yang memiliki pemahaman holistik terhadap alam ,hidup dan kebijaksanaan pada tingkat paling tinggi bagi nilai-nilai kemanusiaan. Sebuah komunitas ideal yang senantiasa diimpikan umat manusia. Tidak ada eksploitasi manusia terhadap manusia lainnya, bekerja dengan landasan cinta terhadap alam, dan hidup selaras dengan alam.
Dimata manusia yang mengaku modern, mungkin kehidupan mereka adalah sebuah museum hidup tentang peradaban kuno dan primitif. Sebuah kelompok manusia lugu, bodoh dan anti kemajuan. Sebuah kumpulan masyarakat yang menikmati kesederhanaan dan menolak tekhnologi yang justru memudahkan kehidupan itu sendiri. Orang-orang tanpa ambisi yang merasa cukup dengan hidup apa adanya dengan alasan memegang wasiat leluhur dengan mengorbankan kesejahteraan pribadi.
Benarkah mereka adalah kelompok masyarakat yang terkungkung oleh ketakutan dan ketaatan buta terhadap warisan leluhur dan ambisi para “tetua” mereka? Benarkah mereka adalah bangsa primitif yang harus disentuh dengan “peradaban” modern supaya mereka bisa maju? Benarkah mereka adalah kelompok “kafir” yang harus diperkenalkan dengan “kebenaran” agama? Apakah mereka bangsa tanpa peradaban yang harus diperkenalkan dengan hak dan kewajiban sehingga mereka bisa menentukan sendiri nasib mereka? Ataukah mereka harus mengenal teori ekonomi sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan mereka secara mandiri? Haruskah mereka diajarkan cara menaklukan alam dan dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga mereka untuk bisa melakukan jual beli secara fair dalam gelombang “globalisasi” yang menjadi sebuah keniscayaan?
Siapa yang berbicara semua itu? Mereka adalah orang yang merasa dirinya “paling pintar”, “paling benar”, “paling beradab”. Tapi benarkah mereka tidak sejahtera?

BENARKAH MEREKA TIDAK SEJAHTERA?
Siapa bilang mereka tidak sejahtera? Dan apa konsep sejahtera menurut mereka? Televisi dan handphone sebagai icon kemajuan dan tekhnologi di Indonesia saat ini mereka memang tidak punya. Makanan bergizi sebagai simbol kesehatan mungkin beberapa macam memang tidak mereka makan dan benar, mungkin mereka tidak pernah merasakan menginjak pusat perbelanjaan yang menyebar sampai titik terdalam pedesaaan sebagai simbol glabalisasi. Tapi itukah ukuran kita tentang kesejahteraan?
Stop ambisi pribadi untuk merusak kehidupan mereka dengan alasan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan! Ketenangan hidup mereka dengan alam sekitarnya sudah menjadi hidup itu sendiri. Bagi mereka, bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari sudah merupakan sesuatu yang harus diyukuri.
Bangun dini hari lantas menuju sawah atau kebun mereka dan mencari alat pemenuh kebutuhan di alam sekitarnya adalah kebahagiaan. Memintal dan menjahit pakaianya sendiri adalah kebahagiaan. Merajut sendiri tas selendang mereka adalah kebahagiaan. Menjalankan kehidupan mereka dengan apa adanya tanpa banyak bertanya dan mengeluh kepada sang penguasa alam raya.
Penghormatannya kepada sang pencipta dia lakukan tanpa banyak berpikir untung rugi. Hidupnya sendiri adalah bentuk kebahagiaan hakiki karena berjalan seiring dan harmonis dengan alam disekelilingnya. “Leuit” menjadi simbol dari cara mereka mensyukuri kebahagiaan itu. Hasil panen itu mereka simpan untuk kemudian mereka nikmati ketika Tuhan memberi mereka musim kemarau. Upacara menanam padi menjadi bentuk rasa kepasrahan mereka terhadap takdir alam. Usaha mereka tidak pernah membuat mereka menjadi sombong melawan alam.
Kesejahteraan bagi mereka adalah kebahagiaan. Bukan kemakmuran!
Kehidupan orang Baduy berpenghasilan dari pertanian, dimulai pada bulan keampat kalender Baduy yang dimulai dengan kegiatan nyacar yakni membersihkan semua belukar untuk menyiapkan ladang. Ada 4 jenis lading untuk padi gogo yaitu humas serang, merupakan suatu lading suci bagi mereka yang berpemukiman dalam. Huma tangtu merupakan lading yang dikerjakan oleh orang Baduy Dalam yang meliputi Huma tuladan atau huma jaro. Huma penamping merupakan ladang yang dikerjakan oleh orang Baduy diluar kawasan tradisional.

BENARKAH MEREKA TIDAK BERAGAMA?
Mungkin mereka akan bingung ketika berbicara tentang keyakinannya. Mereka bingung untuk menjelaskan kepada orang yang telah menganggap dirinya adalah pembawa kebenaran tuhan. Sulit bagi mereka untuk berdebat dengan orang yang merasa dirinya telah mendapat jatah masuk sorga. Bagi mereka, aku adalah aku dan kalian adalah kalian.
Yang jelas mereka tidak pernah menganggu kita dengan keyakinannya, sehingga sangat tidak beralasan bagi kita untuk merasa membenarkan mereka dari aspek keyakinan. Mereka telah hidup tentram dan bahagia dengan keyakinan yang selama ini mereka anut sehingga mampu bertahan lebih lama dari agama apapun yang ada di tanah jawa ini.
Ketika mereka berbeda keyakinan dengan kita bukan berarti mereka adalah salah. Karena bisa jadi orang lain pun memiliki pandangan yang sama terhadap keyakinan kita. Meyakini kepercayaan kita itu wajib, tapi menyalahkan kepercayaan orang tetap tidak bisa dibenarkan.
Berikut adalah beberapa keterangan tentang kepercayaan suku Baduy yaitu Suku Baduy yang merupakan suku tradisional di Provinsi Banten hampir mayoritasnya mengakui kepercayaan sunda wiwitan.
Yang mana kepercayaan ini meyakini akan adanya Allah sebagai “Guriang Mangtua” atau disebut pencipta alam semesta dan melaksanakan kehidupan sesuai ajaran Nabi Adam sebagai leluhur yang mewarisi kepercayaan turunan ini. Kepercayaan sunda wiwitan berorientasi pada bagaimana menjalani kehidupan yang mengandung ibadah dalam berperilaku, pola kehidupan sehari-hari,langkah dan ucapan, dengan melalui hidup yang mengagungkan kesederhanaan (tidak bermewah-mewah) seperti tidak mengunakan listrik,tembok, mobil dll.
Ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Baduy menurut kepercayaan sunda wiwitan:
1. Upacara Kawalu yaitu upacara yang dilakukan dalam rangka menyambut bulan kawalu yang dianggap suci dimana pada bulan kawalu masyarakat baduy melaksanakan ibadah puasa selama 3 bulan yaitu bulan Kasa,Karo, dan Katiga.
2. Upacara ngalaksa yaitu upacara besar yang dilakukan sebagain ucapan syukur atas terlewatinya bulan-bulan kawalu, setelah melaksanakan puasa selama 3 bulan. Ngalaksa atau yang sering disebut lebaran.
3. Seba yaitu berkunjung ke pemerintahan daerah atau pusat yang bertujuan merapatkan tali silaturahmi antara masyarakat baduy dengan pemerintah, dan merupakan bentuk penghargaan dari masyarakat baduy.
4. Upacara menanam padi dilakukan dengan diiringi angklung buhun sebagai penghormatan kepada dewi sri lambang kemakmuran.
5. Kelahiran yang dilakukan melalui urutan kegiatan yaitu:
a. Kendit yaitu upacara 7 bulanan ibu yang sedang hamil. saat bayi itu lahir akan dibawa ke dukun atau paraji untiuk dijampi-jampi.
b. Setelah 7 hari setelah kelahiran maka akan diadakan acara perehan atau selametan.
c. Upacara Angiran yang dilakukan pada hari ke 40 setelah kelahiran.
d. Akikah yaitu dilakukannya cukuran, khitanan dan pemberian nama oleh dukun (kokolot) yang didapat dari bermimpi dengan mengorbankan ayam.
6. Perkawinan, dilakukan berdasarkan perjodohan dan dilakukan oleh dukun atau kokolot menurut lembaga adat (Tangkesan) sedangkan Naib sebagai penghulunya. Adapun mengenai mahar atau seserahan yakni sirih, uang semampunya, dan kain poleng.
Dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari tentunya masyarakat baduy disesuaikan dengan penanggalan:
1. Bulan Kasa
2. Bulan Karo
3. Bulan Katilu
4. Bulan Sapar
5. Bulan Kalima
6. Bulan Kaanem
7. Bulan Kapitu
8. Bulan Kadalapan
9. Bulan Kasalapan
10. bulan Kasapuluh
11. Bulan Hapid Lemah
12. Bulan Hapid Kayu
Seperti yang telah diuraikan diatas, apabila ada masyarakat baduy yang melanggar salah satu pantangan maka akan dikenai hukuman berupa diasingkan ke hulu atau dipenjara oleh pihak polisi yang berwajib.
Naif bila kita mengatakan mereka adalah suku yang tidak memiliki agama. Kalau agama diartikan sebagai panduan dan pedoman untuk manusia supaya hidup dengan tentram, damai dan penuh kasih sayang, maka tidak benar kalau kita katakan bahwa suku Baduy itu tidak beragama. Hanya kemasan dan nama yang membedakannya dengan agama yang kita kenal selama ini.

APA PELAJARAN YANG BISA KITA PETIK DARI KEBERADAAN SUKU BADUY
Kemampuan suku Baduy untuk tetap mempertahankan budaya mereka bukan lah sesuatu yang sepele. Ketika desakan dan gelombang perubahan telah banyak merubah cara pandang dan gaya hidup manusia di sudut-sudut dunia, maka suku Baduy adalah ikon terakhir yang masih mampu bertahan. Kemampuan ini merupakan sebuah prestasi yang sangat luar biasa. Keteguhan warga suku Baduy untuk teguh dan tegar menghadapi perubahan patut diacungi jempol karena dengan itulah lingkungan alam, situs sejarah dan keagungan budaya Sunda masih jelas terlihat.
Lantas, apa yang bisa kita petik untuk menjadi ilmu atau hikmah dari keteguhan mereka mempertahankan nilai-nilai budaya. Beberapa hal yang harus kita jadikan ilmu adalah :
1. Kebijaksanaan mereka memperlakukan alam. Ketika manusia menganggap alam sebagai kekuatan yang harus ditaklukan, maka mereka adalah budaya yang menganggap alam adalah ibu mereka. Mereka memperlakukan tanah laksana Ibu yang telah memberi mereka kehidupan melalui tumbuhan dan air. Tanah benar-benar mereka perlakukan secara beradab. Misalnya dengan tidak mempergunakan cangkul atau perlengkapan besi untuk menanam padi. Mereka mempergunakan kayu untuk mengolah tanah. Mereka juga tidak mempergunakan alat yang mengandung bahan kimia untuk kebutuhannya sehari-hari. Mereka juga menetapkan hutan larangan sebagai wilayah yang tidak boleh didatangi oleh sembarang orang karena disana terletak situs bersejarah yang sangat penting.
2. Mereka hidup harmonis dengan alam. Keharmonisa ini melahirkan semacam keharmonisan jiwa dimana mereka dapat membaca tanda-tanda alam untuk memperkirakan apa yang akan terjadi. Kemampuan ini bukan berarti bernuansa klenik, magic atau takhayul karena semua ada penjelasannya. Banyak pertanda yang mereka jelaskan kepada para pimpinan daerah untuk mengantisipasi berbagai hal yang akan terjadi. Walaupun demikian mereka tidak pernah membuat orang lain panik. mereka tidak pernah memaksakan kepercayaannya kepada orang lain dan mereka tidak pernah menganggu suku atau orang lain.
3. Keteguhan mereka pada ciri dan jati diri kesukuan sebagai alat atau media menjalani hidup. Keyakinan ini sudah sangat sulit kita peroleh dari peradaban masa kini yang senantiasa berubah dalam jangka waktu yang singkat. Mereka tidak terjebak oleh kebingungan jati diri dan kecemasan akan rasa keterikatan terhadap lingkungan di sekitarnya. Mereka yakin dari mana mereka berasal dan dari siapa mereka dilahirkan. Bahkan mereka memahami betul tujuan hidupnya di dunia ini. sekarang, berapa banyak diantara kita yang meyakini dan mengetahui tujuan hidup kita sendiri. Kita malah menjadi bangsa yang terombang-ambing dari berbagai kepentingan yang tidak pernah berhenti memperngaruhi otak. Kita seolah sudah tidak ingat akan jati diri. Berapa banyak yang malu dan pura-pura lupa asal muasal mereka dan leluhur mereka berasal? Sehingga kemudian mereka lupa akan filsafah hidup dari masyarakat mereka berasal dan lalu terdampar dalam dunia yang sangat jauh dari nilai dan tata laku masyarakat. Sekarang, kita berada di sebuah dunia yang tidak pernah kita kenal, lantas bingung, sakit dan kemudian mengalami kekosongan memaknai hakekat hidup.

Tulisan ini adalah tulisan pertama yang akan terus saya buat sebagai bentuk pengabdian terhadap Kesundaan saya. Semoga ini sedikit akan memahami dan kemudian menggali kembali kebijakan dan keadiluhungan dari budaya sendiri.

Bandung, 19 Oktober 2009

Tidak ada komentar:

Laman