Minggu, 21 Februari 2010

Tuhan ada di penjara


6-5-4-3-2-1-0….!
Angka keramat bagi Junaedi.  Sebuah angka yang membuatnya menjadi seorang petapa dan tokoh spiritual di lingkungannya.
6 tahun sudah dia mendekam di penjara ini.
5 kali mengalami sodomi oleh narapidana lainnya.
4 kali mengalami pengeroyokan oleh rekan mereka sendiri di sel.
3 kali dirawat di rumah sakit.
2 kali mengalami percobaan pembunuhan oleh lawannya dari sel blok sebelah.
1 kali ditusuk tepat di perut.
0% jiwanya yang diisi oleh Tuhan.
Sudah 6 tahun dia mendekam dipenjara kelas teri ini.  Bertumpuk dan berdesakan di sel yang sempit menjadi kehidupannya sehari-hari.  Sebuah penderitaan yang tidak pernah terpikirkan selama ini.  Dan dia harus menjalaninya lagi lebih kurang 9 tahun lagi dikurangi berbagai keringanan dan remisi.  itupun kalau dia sanggup membayar suap kepada petugas yang ada dipenjara itu.
Palu hakim sudah diketok dan dengan bukti yang menyakinkan, setidaknya menurut hakim bahwa dirinya telah memperkosa dan melakukan pelecehan seksual kepada anak didiknya yang masih dibawah umur.  Tak habis pikir mengapa ada anak yang mengaku pernah dilecehkan dirinya.  Baru 3 tahun dia mengajar disekolah swasta itu.  Dan atas keinginan mereka lalu dia mencoba memberikan pelajaran tambahan untuk ketiga siswanya yang kebetulan semua adalah perempuan.  Ada semacam kerinduan diantara mereka memang.  Sadar atau tidak sadar, sebagai seorang lelaki normal, Junaedi menyukai ketiga siswinya karena mereka adalah wanita-wanita kecil yang tidak termasuk kategori jelek.  Perawakan mereka memang bisa mengundang decak kagum walaupun usia mereka baru antara 13-14 tahun.  Ditambah dengan cara mereka yang supel dalam bergaul memang membuat mereka menjadi salah satu kelompok siswi dengan “rating” cukup tinggi disekolahnya.   Dari curhat mereka kepadanya, Junaedi bisa menilai kalau mereka memang anak-anak yang sangat bebas dalam bergaul.  Keberanian mereka untuk membuka pembicaran yang menyerempet masalah seks sering dilontarkan.  Bahkan dalan hatinya, Junaedi sering liar berkhayal tentang mereka.  Tapi tidak untuk berbuat kurang ajar. 
Profesinya sebagai guru masih sanggup untuk menahan imaji-imaji liarnya.  Cukup.
Isterinya pernah mengatakan kepada dirinya untuk hati-hati.  Junaedi tidak pernah memikirkan peringatan isterinya.  Baginya perkataan seorang isteri selalu dilatarbelakangi cemburu.  Apalagi metiga siswinya pernah bermain kerumahnya dan diterima langsung oleh isterinya ketika dia belum pulang dari sekolah.  Kegenitan dan keceriaan mereka memang bisa membuat wanita yang lebih tua untuk cemburu. 
Tapi sekarang Junaedi benar-benar baru mengerti ucapan dan peringatan isterinya.  Dunia memang tidak pernah berpihak pada yang lemah dan bodoh seperti dirinya.  Sekarang dia harus menjalani hidup dipenjara selama 15 tahun.  Junaedi tak sanggup meyakinkan hakim bahwa dirinya tidak bersalah dan tidak pernah melakukan tindakan yang didakwakan kepadanya.  Tapi pengakuan ketiga remaja itu menjadi patokan hakim dalam mengambil keputusan.  Ditambah dengan pengakuan Junaedi yang terus terang selama ini sering memberikan lesnya di salah satu rumah anak itu yang sering sepi dan jarang ada orang tuanya di rumah.  Sebuah kondisi yang akhirnya membuat dia terpojok sendiri.
Hasil otopsi dari rumah sakit yang menyatakan bahwa benar mereka sudah tidak perawan lagi semakin memberatkan dirinya.  Kepastian saiapa yang melakukannya tidak bisa diketahui melalui tes DNA dengan alasan mereka melakukannya sudah lebih dari dua bulan sebelum masalah ini diperkarakan oleh orang tua mereka.  Salah satu anak itu hamil dan membuat murka orang tua mereka.
Opini begitu cepat beredar seiring diberitakannya peristiwa ini oleh media massa.  Masyarakat telah melakukan “hukuman” sosial dengan berbagai opini dan pendapat yang menyesatkan.  Bahkan menjelang peradilannya yang pertama, Junaedi hampir tewas dikeroyok massa yang gemas atas perbuatan yang dituduhkan kepadanya.  Hakim harus ikut pendapat massa?  Inilah akibatnya.  Sebuah peradilan yang memang penuh dengan kekotoran, ketidakprofesionalan dan takut terhadap teror sosial telah menggeser pengadilan sebagai tempat mencari keadilan menjadi tempat mencari penghasilan.
 Junaedi tak mampu melakukan banding.  Dirinya terlalu kecil dan miskin untuk mencari keadilan di dunia ini.  Akhirnya dengan keyakinan yang bulat kepada Tuhan karena dia yakin Tuhan tidak diam, Junaedi pasrah dimasukan kedalam penjara dengan vonis 15 tahun penjara.

5 kali mengalami sodomi.  Dipenjara, orang yang masuk karena kasus perkosaan, apalagi memperkosa anak dibawha umur benar-benar dibenci.  Orang yang masuk karena norkoba, korupsi, atau pembunuhan masih bisa diterima dalam komunitas penjara.  Tapi tidak bagi pemerkosa anak kecil. 
Junaedi tidak mampu menjelaskan hal yang sebenarnya kepada rekan-rekannya di sel.  Mereka tidak peduli dengan ocehan Junaedi bahwa tuduhan itu hanyalah rekayasa dan kebohongan.  “ngga ada maling yang mau ngaku” kata mereka.  Sodomi menjadi siksaan pertama dirinya di sel itu.  3 orang narapidana yang masuk karena tuduhan membunuh polisi dan pencurian mobil menjadi orang yang pertama merusak harkatnya sebagai manusia dip enjara itu.  Hukuman yang mereka jalani memang lebih lama dari dirinya.  Mereka juga adalah orang-orang yang pasrah kepada takdir dan menjalani hidup dengan kekosongan.  Jasmani rohani mereka benar-benar telah dihempaskan oleh ketidakpercayaan kepada dunia yang telah membesarkan dan menjadikannya sampah masyarakat.
Sodomi kerap mereka lakukan sebagai pelampiasan atas hasrat seks mereka dan sekaligus sebagai peringatan kepada siapapun yang masuk ke penjara itu bahwa mereka adalah penguasa blok dan ruangan sempit itu. 
4 rekan lainnya diam ketika melihat dirinya dipaksa untuk melayani 3 rekannya yang lain.  Mereka sudah cukup menderita untuk bisa peduli dan memberontak.  Bahkan tidak mustahil mereka justru senang karena tidak lagi akan menjadi korban kebiadaban rekannya itu.
5 kali.  Pertama karena terpaksa.  Selanjutnya Junaedi menjadi sadar bahwa banyak narapidana lainnya juga melakukan hal itu.  Bertahun tidak bertemu wanita dan isteri bisa membuat pria menjadi kalap.  Bahkan ada beberapa sipir yang juga melakukannya kepada narapidana lainnya dengan iming-iming keringanan dan fasilitas tertentu di dalam penjara.  Junaedi sekarang telah menjadi bagian dari aktivitas itu.
Isterinya telah lama tidak mejenguknya.  Terakhir 5 tahun yang lalu isterinya datang dengan seorang lelaki yang tidak dikenalnya.  Berbicara bahwa dirinya akan setia menunggunya lalu membuka cincin pernikahan dari jari manisnya.
“untuk mu…bekal di dalam penjara. Jual saja kalau kamu membutuhkan uang selama di penjara ini.  Saya tidak sanggup membekali kamu dengan uang bulanan.  Jangan takut, kalau kamu keluar nanti, kita akan bersama kembali”
Junaedi menerima cincin 3 gram yang dulu disematkan ke jari manis kekasihnya di depan penghulu.memasukkannya ke dalam saku celana dan berusaha agar sipir tidak melihatnya.
Lalu isterinya bangkit dan berlalu keluar dari pintu penjara diiringi lelaki yang mengantarnya datang.  Junaedi tidak mampu bertanya identitas lelaki itu pada isterinya.  Dia takut lelaki itu adalah orang yang akan menggantikan posisinya didalam keluarga.  isterinya cantik, langsing dan memiliki pekerjaan yang lebih mapan ketimbang dirinya yang hanya guru honorer di sekolah swasta.  Bisa jadi laki-laki itu adalah salah rekan kerjanya yang bersimpati, mencoba berempati kemudian menjadi curahan hati.

Sekarang…ditahun keenam itu.  Junaedi sudah bukan lagi hanya seorang narapidana kacang yang selalu menjadi korban penindasan sesama napi.  Dia adalah pemimpin blok E dipenjara itu.  Tidak hanya pemimpin dalam administrasi kepenjaraan saja, tapi juga pemimpin mafia penjara.  Tak ada peristiwa yang terjadi di blok sel itu kecuali atas ijinnya.  Bahkan dengan pengaturan dan kompromi dengan petugas sipir di dalam penjara, dirinya bisa menciptakan LAS VEGAS di dalam penjara itu.  Mengatur kedatangan wanita penghibur kedalam penjara.  Mengijinkan pengeroyokan kepada narapidana yang dianggapnya akan menjadi pesaingnya dalam memimpin blok sel.  Bahkan menjadi penasehat spiritual kepada rekan-rekan sel yang dulu sering menindasnya.
Berawal dari kemampuannya bermain kata.  Bakatnya itu pula yang menjadikannya sebagai guru.  Kemudian bakat itu pulalah yang mengantarkan dirinya sampai ketempat sekarang.  Dari obrolan ringan yang sering dia lakukan menjelang tidur, dia sering mengatakan bahwa tuhan telah mati.
Narapidana yang lain mengamini karena kekecewaan mereka kepada tuhan yang menjadikan mereka sebagai sampah masyarakat.  Mereka tidak pernah menyesal atas  apa yang mereka perbuat.  Mereka merasa tidak pernah minta untuk dilahirkan.  Mereka merasa selama ini hanya menjadi anak tuhan yang dilahirkan lalu ditinggalkan dalam kemiskinan, kekacauan rumah tangga dan kekejaman dunia.  Kejahatan yang mereka lakukan adalah cara mereka bertahan.  Mereka menganggap selama ini  perbuatan mereka yang “salah” itu tidak lebih dari usaha mereka menjalani hidup.
“siapa sih Jun yang mau hidup kaya gini kalau kita dilahirkan ditempat dan waktu yang bener?   coba kita lahir dari orang tua yang kaya dan baik, mungkin sekarang saya sedang asyik liburan di luar negeri karena berhasil menjuarai balapan mobil” geram mereka.  Sambil menyedot sebatang rokok yang menjadi barang mewah, mereka mengemukakan keheranan mereka.
“lagian ngga ada kerjaan banget sih tuhan itu pake nyiptain kita segala.  Padahal kalaupun kita ngga diciptain khan tuhan ngga rugi-rugi amat”  susul yang lain menimpali.
Tangan kanan Junaedi di penjara bernama Samad Botak.  Dengan badan yang super kekar dan kepala plontos, dia sudah cukup membuat penghuni penjara lainnya berpikir dua kali untuk berurusan dengannya.  Masuk penjara karena membunuh polisi yang sering menggoda isterinya ketika dia bekerja.  Pekerajaannya sebagai sopir truk sayuran sering membuatnya pergi meninggalkan isteri yang cantik dirumah petak itu.  Dan malam itu, dengan sebuah golok yang terselip di dinding  bambu rumahnya, dia membacok leher polisi itu ketika dia sedang lengah karena kelelahan dikamar tidurnya.  Dan isterinya lari.  Pergi entah kemana.
Dakwaannya adalah hukuman mati. Tapi karena termasuk kategori perbuatan spontan dan tidak pernah ada catatan kriminal lainnya, hukumannya menjadi seumur hidup.  Dan kini sudah 10 tahun dia mendekam dipenjara.  Dia sudah akrab dengan hampir semua petugas sipir di lapas itu. 
Samad botak adalah jenis manusia jenius yang tidak mendapatkan saluran untuk melampiaskannya.  Berbagai cara dia lakukan untuk membantu rekan-rekan satu selnya untuk melarikan diri.  Dan selalu berhasil.  Tapi tiu semua tidak membuat dirinya berhasrat untuk melarikan diri.  Penjara jauh lebih nyaman baginya.
“jadi, kenapa kita harus tetap memujanya.  Kalau tuhan itu satu dan dia adalah penguasa alam raya, mengapa harus dia pelihara iblis dan syetan-syetan itu.  Aku hanya merasa tuhan itu cuma imajinasi manusia yang ngga bisa memecahkan masalahnya sendiri….”  Papar Junaedi.
Rekan-rekannya  antusias mendengarkan apapun yang dikatakan Juneadi.  Bagi mereka, “ceramah” Junaedi mampu memberikan mereka jawaban dari pertanyaan besar mereka selama ini.  Bagi mereka ceramah selama ini hanya meninabobokan mereka dengan janji-janji syorga.  Padahal semua itu ternyata tidak lebih dari usaha para penguasa dan orang kaya untuk melakukan konspirasi tingkat tinggi supaya kekuasaan dan kekayaannya tidak direbut orang miskin.
Syorga lebih banyak dijanjikan kepada orang miskin.  Padahal itupun belum tentu mereka nikmati kelak.  Sementara orang kaya sudah jelas merasakan syorga itu di dunia, tak perlu menunggu lama dan tak perlu khawatir kalaupun kelak mereka masuk neraka, karena minimal mereka pernah merasakannya di dunia.
“TUHAN SUDAH MATI” adalah sebuah kemenangan terbesar bagi mereka.  Selama ini mereka merasa terkekang oleh kemandegan agama yang menolak pikiran liar mereka.  Sekarang, mereka merasa menjadi manusia.  Proklamasi yang mereka bacakan terdengar sampai sel sebelahnya.  Tak ada reaksi berlebih karena bagi penghuni penjara, mereka adalah sampah yang tak perlu didengar.  Tak perlu diindahkan.  Dan yang jelas semuanya tidak berotak.
“nah…apa pengaruh proklamasi itu sekarang buat kalian…?” tanya Junaedi kepada “umatnya”.
“hahahaha…saya sekarang merasa bebas untuk melakukan apapun.  Minum, lacur dan judi…” jawab Juju Jagal.  Dia adalah musuh semua penduduk kampungnya.  Berawal dari pengusiran yang dilakukan orang tua kekasihnya yang menolak dirinya untuk menjadi menantu, dia menaruh dendam dan kemudian merampok mereka dua malam sebelum pernikahan kekasihnya dengan orang yang dipilih orang tuanya.  Dia potong kepala bapak kekasihnya dengan sekali tebas.  Memperkosa ibu kekasihnya dan sekaligus membakar rumahnya.  Sumini tahu itu perbuatan kekasihnya karena sakit hati.  Sumini menjadi gila dan berteriak-teriak mengatakan bahwa Juju kekasihnya yang menghancurkan keluarganya.
“eit…kalau saya sih lebih memilih untuk segera keluar dari sini untuk bisa kembali kerja, mengumpulkan duit sebanyak-banyaknya dan membuat hancur orag-orang kaya yang dulu menghinaku…” teriak Dadang Domba.  Dia masuk ke penjara dan dihukum karena mencuri lebih dari 50 domba di kampung dan sekitarnya.
“aku apa ya…?  Mending aku kabur dari sini dan menjalani sisa hidupku dengan berpetualang main petak umpet ama polisi.  Aku ingin menjadi pemecah rekor narapidana kabur yang tidak pernah tertangkap kembali sampai aku mati.  Atau kalau aku tertangkap, aku kabur dan memecahkan rekor sebagai narapidana yang paling sering kabur dan menghabiskan hidupnya keluar masuk penjara…hahahahahahaha….ya kalau beruntung aku bisa jadi Jony Indo lah…”  Lanjut Mamad Ali.  Peranakan Arab Cianjur korban perkawinan kontrak.  Masuk penjara karena masalah tolol.  Membunuh orang yang tengah tidur dengan ibunya.  Dia mengira ibunya diperkosa oleh orang asing yang tidak dikenalnya.  Ternyata orang itu adalah bapaknya sendiri yang 16 tahun lalu menikahi ibunya secara kontrak lalu pergi.
“dan kamu Samad…?”  tanya Juaedi.
“aku malah bingung…kalau dulu aku hidup untuk sebuah tujuan yang jelas, yaitu tuhan, sekarang aku malah bingung.  Dulu saja aku tahu kalau hidupku semata untuk tuhan tapi tetap saja aku masuk ke sini.  Apalagi kalau hidup saya tidak untuk suatu tujuan yang jelas, lalu buat apa aku hidup?” jawab Samad dengan bergetar.
“mmmm…kita semua dari kecil memang sudah dicekoki oleh kata-kata pengabdian, ibadah, berbakti, hamba, dan segala kewajibannya.  Pernahkah kita berpikir sekali saja untuk melupakan hal itu semua dan hanya bertanya bagaimana kita hidup bukan untuk sesuatu yang tidak nampak, tidak jelas dan ngga pernah ikut campur langsung dalam hidup kita!” sanggah Junaedi.
“sekarang saatnya kita hidup untuk diri kita sendiri.  Memaknai arti hidup kita sendiri dan berbuat yang terbaik untuk diri kita sendiri.  Bebas berpikir dan bertindak disesuaikan dengan kemampuan dan kehendak kita.  Etika dan hukum serahkan kepada kemampuan manusia menggali potensi lingkungannya sendiri?”
“saya tidak menyalahkan kalian yang ingin hura-hura dan menghabiskan hidup kalian dengan foya-foya dan melakukan segala hal yang dulu dilarang.  Saya sekarang malah mengajak kalian untuk mulai memperbaiki hidup kita masing-masing dengan tindakan yang jauh lebih berguna.  Saatnya kita menjadi tuhan bagi kita sendiri dengan menyesuaikan diri dengan hukum alam.”
“minum minuman keras bukan saja pekerjaan tolol, tapi akal saja sudah tidak bisa menerima hal itu sebagai sesuatu yang baik.  Minuman keras itu akan membuatmu menjadi manusia yang lebih bodoh dari keledai sekalipun.  Lantas apa makna dari hidup kita yang bebas ini…?”
Mereka terdiam.  Sama sekali mereka tidak mengerti apa yang dikatakan Junaedi.  Tapi itu biasa bagi mereka.  Selama ini juga kalau mereka mendengar ceramah di tempat ibadah, hanya hukum dan larangan saja yang mereka ingat.  Tidak boleh anu dan dilarang anu, tapi selebihnya mereka tidak mengerti.  Membicarakan sosok yang pengasih dengan iming-iming neraka.  Penyayang dengan memberikan azab dan kehancuran.  Bagi mereka, ketika para pimpinan umat mengatakan takutlah kepada tuhan, maka tuhan memang menakutkan, dilain waktu mereka berbicara tuhan maha pengasih dan penyayang, tapi tidak dalam hidup mereka.
“begitu juga judi…kamu bayangkan!  Setelah kalian bekerja keras untuk memperoleh uang, lantas uang itu kamu jadikan taruhan untuk sesuatu yang tidak pasti kecuali kekalahan…kenapa uang itu tidak kalian pakai untuk membeli makanan, pakaian atau menambah modal usaha kalian” 
“lakukan bukan lagi untuk tuhan.  Jangan lakukan untuk sorga dan neraka.  Lakukanlah untuk kalian sendiri.  Demi harga diri kalian sendiri, menjadi bukti dari keagungan kalian sendiri…!”
“itulah hakekat membebaskan diri dari tuhan…!”  teriak Junaedi lantang.

Sejak itu…narapidana yang satu sel dengan Junaedi mengalami suatu perubahan yang drastis.  Mereka cenderung lebih taat pada aturan penjara.  Semuanya merasa dirinya harus berbuat itu bukan demi “sesuatu” tapi semata demi mereka sendiri.
Penjaga menjadi resah.  Sipir menjadi gelisah.  Hampir tidak ada pemasukan bagi mereka dari kegiatan Junaedi dan anak buahnya.  Junaedi dan anak buahnya berhenti membuka usaha judi di dalam penjara.  Mereka memilih bekerja untuk memberikan jasa pijat untuk memperoleh rokok.  Mereka mencucikan pakaian dari penghuni yang lebih kaya untuk sekedar mendapatkan uang lelah.
Tak ada lagi tawuran.  Tak ada lagi ganja yang beredar.  Sipir menggerutu dan bersepakat untuk mengalihkan proyek itu pada penghuni blok lain.  Tapi mereka sulit mendapatkan orang yang bisa dipercaya untuk memegang proyek “haram” itu di penjara.  Salah memilih orang, maka taruhannya adalah jabatan dan pekerjaan mereka.

“Jun…aku heran…dulu aku takut ama tuhan, tapi kelakukanku jauh dari aturan tuhan.  Sekarang aku merasa santai dan bahagia.  Ketika aku memijat kaki dan badan orang lain dan akan mendapatkan sebatang atau sebungkus rokok, aku merasa bekerja dengan kekuatan besar. Aku merasa bekerja dengan tujuan yang jelas, bukan untuk sesuat diluar diriku.  TAPI UNTUK DIRIKU SENDIRI!” jelas Samad Botak.  Dirinya menikmati setiap hisapan dari rokoknya yang diperoleh dari pijitan tangannya kepada narapidana lain.
Junaedi tersenyum. 
Hatinya lapang ketika merasa dirinya adalah penentu nasib dan takdirnya sendiri.  Tak ada campur tangan tak nampak.  Tak ada ketakutan kepada sesuatu yang tak pernah dia rasakan kehadirannya.  Sipir dan penjaga adalah jelas menjadi rekan Junaedi dalam menjalani hari-harinya. 

Ketika junaedi tengah selonjoran, seorang rekannya menawarkan diri untuk memijit kaki junaedi.
“ngga usah…aku ga punya rokok atau uang” jawab Junaedi.
“eh…jangan macem-macem Jun…aku nawarin mijit Cuma ungkapan terima kasih aku ama kamu yang udah membuka hati dan pikiran aku.  Kini aku menyadari hidup ini adalah mencapai tujuanku sendiri.  Aku jadi ingin terus hidup buat menjalankan dan mencapai tujuanku sendiri.  Aku ngga peduli lagi sorga dan neraka.  Tujuanku adalah keluar dari penjara ini dengan segera tanpa peduli kapan.  Kalaupun aku mati disini, biarlah aku mati ketika ingin mencapai tujuanku sendiri.  Bukan untuk isteri, tuhan atau sekedar dendam” lanjut Samad Botak.
Junaedi tertawa.  Dia selonjorkan kakinya ke arah Samad.  Sebelum Samad dipiit, seorang sipir membuka pintu sel.  Suara pintu besi itu berat.  Tapi sipir tidak pernah tahu kalau pintu itu kuncinya sudah dijebol oleh kepintaran Samad Botak.
“Jun…kamu akan bebas besok!”
Samad dan semua rekan satu selnya kaget.  Tapi tidak bagi Junaedi.
Dia diam dan tetap menyelonjorkan kakinya.
“Mad…katanya kamu mau pijitin kaki saya!” kata Junaedi.
“Jun kamu bebas…!  Ngga suka kamu mendengarnya?” teriak Juju Jagal.
“seneng dong…tapi khan itu juga belum jelas.  Kata Pak Yono kan besok…siapa tahu umurku ngga sampai besok”  jelas Junaedi.
“ya terserah kamu aja Jun…kamu mah dibilangin besok bebas ngga percaya!”  kata sipir itu lalu kembali keluar dan mengunci pintu.

Dengan pakaian yang dia beli dari narapidana baru dan tas kecil pemberian Mamad Ali, Junaedi keluar dari penjara itu.  Tak ada sambutan.  Tak ada penjemputan.  Semua tetap sepi diluar penjara itu.  Lalu Junaedi duduk didepan pintu penjara.
Tak ada tujuan.  Tempat atau harapan.  Semuanya sudah tercerabut dari dirinya.  Sudah 7 tahun dirinya jauh dari lingkungan luar penjara.  Hanya keajaban yang telah menendangnya keluar dari penjara itu.

Salah satu mantan siswinya membuat pengakuan.  Pengakuan hasil dari kesalahan.  Tujuh tahun kehidupan Dina, seharusnya sudah normal.  Tapi kesalahan itu terjadi.  Ketika mengetahui dirinya hamil, Dina panik dan datang kepada orang tua pacarnya.  Tapi orang tua pacarnya sama sekali tidak percaya dan menganggap Dina sudah tidak suci sejak terkuaknya kasus pelecehan itu di pengadilan.  Dina melaporkan pacarnya kepada polisi. 
Cerita berkembang dan berakhir pada pengakuan dirinya yang mengatakan bahwa kasus 7 tahun yang lalu adalah rekayasa mereka karena Junaedi mengabaikan cinta mereka.  Cinta seorang tiga orang murid yang tidak bersambut dari Junaedi.
Hasil tes DNA menguatkan bahwa bayi yang dikandung Dina adalah anak biologis dari pacarnya.  Mereka menikah dibawah bayang-bayang hukuman.  Hukuman karena Dina melakukan kesaksian dan pengakuan bohong yang menyebabkan seseorang masuk penjara.

Junaedi melangkahkan kedua kakinya menyusur jalan tanpa tujuan…dia merasakan hidupnya lebih berarti di penjara.  Dipenjara setidaknya ada orang yang mengakui dirinya memiliki sesuatu yang bermanfaat.  Diluar sini, dirinya tidak berarti sama sekali.  Koran, LSM, pejuang wanita yang dulu menghujatnya sebagai “pemangsa” tak bermoral, kini tak ada yang meminta maaf atas kejadian itu.  Semua tiarap dan mengatakan bahwa hukum manusia memiliki kekurangan.  Padahal merekalah selama kasus ini terungkap paling getol membentuk opini publik untuk memojokkan dirinya. 
Dia berpikir untuk kembali ke desanya.  Uang patungan teman-temannya dipenjara cukup untuk sekedar pulang kampung.  tapi Junaedi ragu, mungkinkah orang-orang yang dulu menjadi sahabatnya bisa menerima kembali kehadirannya dalam hidup mereka.  Bagaimanapun, menyandang predikat narapidana adalah aib yang sulit untuk dihapuskan.  Walaupun dia masuk penjara bukan karena kesalahannya, tapi kehidupannya di penjara cukup membuat cap itu melekat dalam dirinya.
Junaedi teringat cincin yang diberikan isterinya 6 tahun yang lalu.  Masih tersimpan selama ini tanpa ada keinginan untuk menjualnya untuk asalan apapun.  Inilah satu-satunya barang berharga yang dimilikinya.

“sudahlah wen…menunggu suamimu keluar dari penjara adalah sebuah tindakan bodoh”
“iya wen…kenapa kamu tidak memulai kehidupan baru.  Mencari kehidupan baru, mengusahakannya agar hidup kamu bahagia…!”
“bahagia…?  Menurut mama dan papa apa itu bahagia…?” timpal Weny.  Perempuan cantik lulusan sekolah tinggi keguruan itu telah bekerja menjadi seorang guru TK.  Banyak pemuda dan duda yang datang untuk mengemukakan keinginannya memperistri dirinya.  Tapi Weny tetap akan menunggu  suaminya.
“mungkin bahagia bagi mama adalah memperoleh seorang suami yang akan menjadi gantungan hidup.  Gajinya besar dan rumahnya mewah.  Saya bisa berbelanja tanpa batasan harga dan uang.  Dan bagi papa…bahagia adalah menyandang kembali menjadi seorang isteri dari suami yang jelas ada dan satu rumah bukan…?”
“bagi saya, bahagia adalah memperjuangkan keyakinan dalam hidup…”  lanjut Weny.  Dirinya bukan perempuan lemah, pikirnya.
Bersambung…

1 komentar:

Anonim mengatakan...

cerita selanjutnya?? rame nih *CLAY*

Laman