Minggu, 19 Juli 2009

BENARKAH AGAMA ITU CANDU...?

Seorang pemulung tengah menikmati secangkir kopi hitam ditangannya. Dia hirup aroma kopi itu itu dari kepulan asapnya sambil memejamkan matanya. “Hhhhhhhhhh.....” hirupnya. Dia menikmati sekali aroma itu seolah itu adalah secangkir kopi terakhirnya.
Tiba-tiba sebuah tepukan mendarat di punggungnya dan hampir membuat cangkir kopi itu terjatuh. ‘Ets.....” teriaknya sambil memgang erat kopi itu. Roman marah terbersit di wajahnya, namun itu hanya sesaat ketika dia tahu yang menepuk pundaknya itu adalah ustad Gondrong.
“Eh...maaf pak Ustad, saya kira siapa....gimana kabarnya pak?” tanya lelaki dekil itu penuh basa-basi.
“Alhamdulillah....saya baru saja memberikan ceramah di mesjid desa tetangga” jawab ustad muda itu dengan senyum penuh arti.
“ Aku ingin berbicara serius berdua dengan mu Kardi” sambung ustad itu. Lelaki bernama Kardi itu menatap sekejap lelaki muda dihadapnnya. Keherannya seketika menyergap tatkala lelaki muda itu mengakhiri kata-katanya. Dia khawatir ustad itu telah mendengar ocehannya di warung kopi itu tiga hari yang lalu. Sebuah umpatan kekesalan atas nasibnya selama ini. Sebuah bentuk keputusasaan yang telah mencapai titik akhir.
“Aku ingin berbicara serius dengan mu Kardi” terngiang dan melengking di ujung saraf pendengarannya. Selama ini, ustad itu tidak pernah menyapanya sama sekali. Dan memang tidak perlu pikir Kardi. Tapi sekali anak muda itu berbicara dengannya, langsung mau berbicara serius.
“Aku sudah mendengar pembicaraanmu kepada teman-temanmu tiga hari yang lalu. Aku merasa perlu berbicara hal itu karena ini menyangkut keimananmu pada Allah...Kardi” seolah tidak menunggu kesediaan Kardi, ustad itu langsung memulai pembicaraan. Dari jauh, beberapa teman Kardi memperhatikan mereka berdua tapi tak ada yang berani mendekat. Mereka merasa tidak memiliki waktu untuk mendengarkan nasehat yang akan keluar dari mulut ustad muda itu. Terlalu sering mereka dengar tapi tak pernah mereka rasakan kebenaran dari kata-kata itu. Bahkan pemilik warung kopi itu pun pura-pura mengerjakan sesuatu. Menghindar untuk terlibat dengan ustad itu.
“Perkataanmu tentang takdir bisa menyesatkan dirimu dan orang yang mendengarnya”
Kardi bengong. “Apa urusannya ocehan saya dengan mereka” pikir kardi dalam hatinya. “Siapa saya, sehingga ocehanku begitu penting untuk sampai ke telinga ustad muda itu?” tambahnya.
“Jelaskan padaku, apa maksud dari perkataanmu tentang percuma berdoa kepada-Nya karena nasibmu tidak pernah berubah?” tanya ustad. “Padahal aku mendengar tentangmu selama ini hanya kabar yang baik. Seorang ayah yang pekerja keras dan menyayangi keluarga, taat beribadah dan tidak pernah membicarakan orang lain....tiba-tiba berbicara tentang sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agamamu sendiri?” ustad itu membenahi sorban putih tebal yang menjuntai dari pundaknya. Sangat kontras dengan kulitnya yang hitam. Hampir legam.
Kardi gugup untuk menjawab cecaran pertanyaan itu sehingga kebungkaman merasuk ke seisi warung itu. Ustad itu kembali membenahi kedudukan sorbannya. Dia pandangi sekeliling warung itu. Warung yang kecil dan kotor. Dia tidak habis pikir mengapa ada orang yang mau makan dan minum di tempat itu. Sesaat kemudian tatapannya kembali kepada Kurdi. Seorang kuli bangunan yang menurut kabar tidak lulus SMA. Terbersit sedikit keakuannya mengingat dia sendiri adalah lulusan S-2 IAIN. Akan terasa mudah untuk berbicara pada orang yang berada didepannya.

1.
“Pak Ustad Darma pernah berdoa?” tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari mulut Kardi.
Pertanyaan apa pikir ustad itu.
“Pernah doa Pak Ustad dikabulkan Allah?”
“Pak Kardi...berdoa adalah kewajiban kita sebagai hamba Allah. Berdoa itu meminta segala sesuatu kepada yang serba Maha, Maha Kaya, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tentu saja saya sering berdoa dan doa saya kebanyakan dikabulkan oleh Allah....” urai Pak Ustad.
“Kalau berdoa itu artinya memohon, mengapa selama ini doa saya tidak pernah terkabul? Padahal doa saya sangat sederhana Pak Ustad. Saya hanya ingin menjadi orang kaya.” Timpal Pak Kardi.
“Pak Kardi....Pak Kardi.....berdoa itu memohon kepada Allah yang harus diiringi usaha. Pak Kardi sudah merasa usahanya maksimal tidak?” jawab Ustad Darma. Pembicaraan ini akan singkat pikir ustad itu.
“Wah...bukan Cuma maksimal Pak Ustad, tapi juga kebablasan. Sampai-sampai seluruh hidup dan nafas saya hanya diisi dengan usaha. Dan doa tentunya” tukas Pak Kardi.
“Nah kalau demikian...Tuhan belum mengabulkan doa Pak Kardi mungkin karena Pak Kardi belum tahu ilmunya berdoa. Berdoa itu Pak Kardi, bukan hanya berbicara dan berisi kata meminta saja, tapi adda waktu dan tata caranya bahkan akan lebih afdhol kalau beroda sama dengan doanya para Nabi. Itu sebagai etika berdoa kepada Allah” timpal Pak Ustad.
“Sulit buat saya Pak Ustad...Selama ini saya menganggap Tuhan itu tidak sama dengan manusia yang memerlukan tata krama dan basa basi. Ternyata....”
“Eit hati-hati bicara Pak Kardi. Logikanya, kalau sama manusia kita harus pakai tata krama, apalagi kepada Allah yang menciptakan manusia”
“Tapi Pak Ustad, kalau tetap harus pakai tata krama dan berbagai syarat. Lantas apa bedanya Tuhan itu dengan manusia?”
Ustad Darma berpaling untuk menyembunyikan kemarahan atas jawaban Pak Kardi. Dia mencoba untuk mengerti bahwa Pak Kardi memang bukan lawan bicara yang sepadan. Dia lebih mementingkan emosi ketimbang rasio, pikirnya.
“Tuhan itu sangat berbeda dengan manusia! Kitalah yang harus memperlakukan diri kita dihadapannya dengan sebaik mungkin. Allah tidak pernah minta dihormati oleh manusia tapi manusia yang harus menghormatinya, terlebih bila akan meminta sesuatu” sergah Pak Ustad.
“Kalau begitu, apapun cara yang kita pakai dalam berdoa tidak akan mengurangi kemulyaannya untuk mengabulkan permintaan kita khan Pak Ustad?” cecar Kardi. Kali ini Ustad muda itu sudah agak kewalahan dengan logika ”enteng” dari lawan bicaranya.
”Kalau Tuhan serba Maha, berarti sebenarnya Tuhan tidak perlu diperlakukan seperti manusia. Bahkan saya tidak pernah mendengarkan ayat yang memerintahkan manusia untuk memperlakukan-Nya seperti layaknya manusia. Karena aku pikir Tuhan malu bila manusia memperlakukannya seperti manusia. Itu akan merendahkan posisinya yang sangat tinggi itu. Iya khan pak Ustad?” kata pak kardi sambil terus memakan pisang goreng yang ada didepannya. Dia senang karena pemilik warung saat ini tengah sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak memandang seperti biasanya bila dia makan di warung itu. Maklum sampai saat ini hutangnya sangat banyak.
”Bahkan saya tidak pernah mendengar Tuhan minta dibela seperti layaknya kita membela manusia. Yang saya tau sih Tuhan menyuruh manusia untuk menjaga keyakinannya. Bukan Tuhannya...tapi ya itu tadi, manusia sok pengen lebih hebat sih dari Tuhan dengan mengatakan harus sopan, menjaga etika, berlaku sepantasnya bila hendak berbicara dengan Tuhan. Sehingga manusia jadi malu kalau mau mendekat pada-Nya...”
Kini Ustad Darma sudah benar-benar kesal. Tak perlu bicara degan logika pikirnya.
”Dan apa yang bapak dapat dengan doa bapak seperti itu? Karena bapak berdoa kepada Tuhan seenaknya, maka bapak tidak pernah berubah nasobya. Bapak terlalu sombong untuk melakukan doa. Bapak terlalu egois dengan keyakinan bapak tapi bapak tidak pernah melakukan introspeksi bahwa selama ini doa bapak tidak pernah dikabulkan Tuhan. Khan bisa jadi karena cara berdoa bapak yang seenaknya?” sanggah Ustad Darma.
”Hohohohoho...bapak salah. Justru keyakinan saya yang saya katakan kepada bapak tadi itu baru saya sadari kemarin sore ketika beres shalat Maghrib. Sebelumnya saya menempatkan Tuhan persis yang bapak tadi katakan bahkan lebih dari itu. Tuhan saya tempatkan diujung alam raya yang sangat tinggi, tapi tak ada yang berubah. Kemarin saya mendapatkan pencerahan. Tuhan ternyata memberikan pencerahan kepada saya dengan memberikan kesadaran bahwa Tuhan tidak mau diperlakukan seperti itu” Jawab pak Kardi.
(Bersambung...)

Tidak ada komentar:

Laman