Senin, 27 Juli 2009

ARTI SEBUAH KESETIAAN

“Kenapa kamu terus memaksakan rumah tangga kamu ketika semuanya tidak membuatmu bahagia, Ros….?” Tanya Hamzah kepada wanita disampingnya itu. Wanita yang telah menjadi sahabatnya sejak mereka SMP itu tengah memainkan sedotan di gelas es campur. Tatapannya sayu namun menyiratkan sebuah keteguhan.
“Aku harus sabar Ham…! Tak ada yang lebih mulia bagi seorang isteri kecuali mampu mendampinginya sampai mati.”
“Ah…aku dulu mengenalmu sebagai wanita yang paling mandiri dan tidak pernah takut dengan kesendirian. Aku ingat waktu kamu diasingkan teman-teman sekelas gara-gara kamu menentang usulan OSIS untuk membubarkan ekskul Cheers, padahal kamu bukan anggota Cheers. Aku melihat kamu sendiri menentang segala keputusan sekolah yang melarang temen-temen kita pake jilbab, padahal kamu sendiri ngga dijilbab. Aku perhatikan semuanya” sanggah Hamzah sambil memperhatikan gerakan sedotan itu. Sebuah gerakan yang tidak beraturan dan itu menandakan Rosmi sedang gelisah.
”Kemana kemandirian kamu Ros...?” lanjut Hamzah.
”Itu dulu Ham, ketika aku belum menjadi isteri siapapun, ketika aku masih bisa menentukan apa mauku. Sekarang aku sudah menjadi isteri seorang lelaki yang wajib aku hormati. Terlepas dari sikapnya yang kurang ramah akhir-akhir ini” jawab Ros dengan tenang.
”Sampaikan salamku pada isterimu! Dia beruntung mendapatkan suami seperti kamu yang lemah lembut dan sangat bijak menyikapi sesuatu. Tapi tolong beritahu dia, maksudku menceritakan ini semua padanya, karena aku membutuhkan support darinya, bukan belas kasihan.” Kali ini ucapannya tegas menohok hati Hamzah. Dia sekarang berada ditempat ini karena usul dari isterinya yang juga sahabat Ros. Mereka berdua sangat dekat satu sama lain walaupun tetap mejaga diri untuk tetap saling menghormati satu sama lain.
Ketika mereka sama-sama diam, tiba-tiba sesosok lelaki menghampiri mereka. Gerakannya jelas sangat tidak bersahabat. Dengan berkacak pinggang dia berdiri di depan Ros.
”Jadi ini kerja kamu selama ini hah...selingkuh dengan laki-laki itu!” teriaknya. Ros tertunduk, sementara Hamzah agak mundur melihat lelaki tinggi besar itu.
”Kamu selalu mengatakan kerja! kerja! kerja ! padahal makan berdua dengan lelaki yang bukan suami kamu. Dasar wanita jalang ga tau diri...!!!” teriaknya lagi. Kini tangannya menarik tangan Ros dengan kasar. Ros tidak berusaha menghindarinya. Kini dimatanya terbayang sebuah pengabdian terbesar akan dialaminya kembali. Sebuah rutinitas yang kini dialaminya dalam satu tahun terakhir.
Tangan lelaki itu kini meraih dan menjambak jilbab yang dikenakan Ros. Menariknya sehingga hampir terlepas dari kepala Ros. Namun dengan sigap Ros menahannya.
”Tidak untuk yang ini mas!” katanya bergetar namun terkesan sangat tegas. Sejenak suminya terdiam.
”Maaf Mas, saya kebetulan bertemu disini, kami teman SMP dulu, Mas jangan salah sangka dulu” desah Ros berusaha menerangkan situasi yang sebenarnya. Sementara Hamzah terdiam. Dirinya gemetar menahan marah dan takut. Tangannya berusaha meraih Ros, namun kemudian ditariknya kembali ketika melihat mata lelaki itu melotot kepadanya.
”Diam lu, dasar lelaki buaya bisanya godain isteri orang! Kamu tuh kalau ga laku jangan ganggu isteri orang dong! Tuh masih banyak nenek-nenek yang mungkin kamu mau godain, bangsat!” kembali suaranya mampu membuat tamu lainnya di rumah makan itu mundur dan bergegas pergi setelah membayar tagihannya.
Ditariknya Ros keluar rumah makan itu. Meninggalkan hamzah yang tercenung diam tanpa mampu berpikir apapun. Dia memandang sekeliling dan mendapati tatapan heran dari para pelayan di rumah makan itu. Mereka kemudian berpura-pura kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Hamzah sudah tidak memikirkan tamu-tamunya di rumah makan miliknya ini. Dia hanya memikirkan nasib Ros kini. Apa yang terjadi padanya? Pukulan lagi, tendangan lagi atau mungkin Ros akan dikurung berhari-hari tanpa bisa keluar dari kamarnya lagi?

------oooo------

”Kasian Ros ya Mas...!”
”Ya...!”
”Mas bilang kalau lebih baik dia meninggalkan suaminya yang kasar itu! Lalu...” tak sempat isterinya menyelesaikan perkataannya. Hamzah langsung memotongnya.
”Jangan kau singgung masalah yang satu itu dulu!” potong Hamzah.
”sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana menyadarkan Ros bahwa dia adalah korban dari kekerasan rumah tangga” lanjut Hamzah. Mereka terdiam sejenak. Tiba-tiba Nani bergumam
”Mmmm...gimana kalau saya ke rumahnya Ros?”
”Apa?” jawab Hamzah.
” Dulu dia yang pertama menelpon hanya untuk berbicara kehidupannya. Sekarang saya yang harus menemuinya, menyatakan rasa duka atas tragedi dalam rumah tangganya dan sebisa mungkin aku menyadarkan Ros...gimana Pa?”
”Wah jangan deh, suaminya galak dan terlihat tidak segan-segan untuk melukai siapapun yang menyinggungnya” jawab Hamzah. Ketakutan melintas dalam jiwanya. Teringat bagaimana kasarnya perlakuan Jali, suami Ros di rumah makan miliknya.
Nani beranjak dari kasurnya yang acak-acak itu, sisa-sisa dan saksi dari kegiatan mereka sebelumnya. Sambil menarik selimut untuuk menutupi tubuhnya, dia lantas duduk di depan cermin riasnya. Hamzah sangat mengagumi isterinya itu. Cantik dan putih. Sangat tidak jauh berbeda dengan Ros, hanya kini Ros telah membalut tubuhnya dengan pakaian jilbab, sehingga keindahan tubuhnya tidak lagi terllihat. Hamzah sangat mengagumi kecantikan Ros. Sebelum akhirnya Ros memperkenalkan dirinya dengan Nani. Isterinya kini.
Dan kini, persahabatan mereka memasuki babak baru. Setelah beberapa tahun terpisah, Ros telah berumah tangga dan menghadapi masalah dengan suaminya. Dia akhirnya berbicara dengan isterinya di telepon. Dan itulah yang kemudian membuat dirinya terlibat lagi dalam hidup Ros.
”Ahhhh....Ros....!” Bisiknya.
”Apa pa...papa ngomong apa” tanya isterinya tanpa memalingkan mukanya dari depan cermin riasnya itu. Hamzah terkejut. Sebuah ketidaksadaran telah membuatnya hampir membuka hasratnya.
”Eh, ngga maa...papa setuju mama menemui Ros di rumahnya. Tapi hati-hati. Dan tolong jangan bilang apa-apa tentang usulan mama akan menjadikan dia sebagai isteri kedua papa ya!” jawab Hamzah menyembunyikan keterkejutannya sendiri.

----oooo-----

Entah apa yang ada dalam pikiran Nani saat ini. Kini dia ada di depan pintu rumah sahabatnya. Keraguan menyelimuti ketika mendapatkan keadaan rumah sepi. Namun keraguannya langsung dia tepis. Jasanya dahulu memperkenalkan dirinya dengan Hamzah benar-benar harus dibalas kini. Dengan perhatiannya, dengan kasih sayangnya. Bahkan kalau Ros mau, dia akan ajak sahabatnya itu untuk tinggal bersamanya di rumah Nani.
Tangan Nani lambat menggapai bel rumah tersebut.
Ting tong!
Tak ada jawaban.
Kedua kali. Ting tong!
Terdengar langkah menuju pintu. Hati Nani berdegup kencang. Ini bukan langkah seorang wanita. Langkah ini terasa berat dan semakin mendekat. Nani mendengar suara kunci diputar. Terbuka dan nampaklah sesosok lelaki tegap, tinggi besar dan tubuhnya berkeringat. Jali, pikirnya. Darahnya mendesir hebat.
“Eeee….aaa…ada Ros?” Tanya Nani dengan nada bergetar.
“Ga ada. Ada keperluan apa? Siapa kamu hah?!” bentak Jali.
”Saya...saya temannya Ros, isteri lelaki yang kamu temui kemarin lusa di rumah makan” jawab Nani.
”Ooooo... begitu, kemarin suaminya, sekarang isterinya mau ikut campur urusan rumah tangga orang ya....! Ros sedang belanja sebentar. Ada perlu apa?”
Nani merasa kikuk berdiri di depan pintu dengan lelaki setengah telanjang berdiri dihadapannya. Dia merasa sedang melakukan hal yang tidak pantas. Ketika dia berpikir untuk pulang, pikirannya melarang melakukan itu. Dia akhirnya nekad.
”Bisa bicaranya di dalam saja Mas. Mungkin saya bisa menunggu beberapa saat”
Lelaki itu diam, menatap wajah Nani dan menyusuri tubuh wanita dihadapannya.
”Masuk!”
-----oooo------
Hamzah gelisah. Pikirannya benar-benar diiputi rasa takut. Dimana Nani, pikirnya. Usahanya menghubungi handphone Nani benar-benar mentok. Sementara untuk menyusul Nani jelas dia tidak bisa karena Hamzah tidak menanyakan alamatnya kepada Nani.
Ting tong!
Hamzah menghela nafas lega! Akhirnya isterinya pulang. Bergegas dia menyambut isterinya dan membuka pintu segera.
”Ros...?” Hamzah terkejut karena orang yang ada didepannya adalah wanita yang selama ini senantiasa bergantian berkelebat bersama isterinya. Kini wanita itu ada dihadapannya, ketika isterinya sedang tidak dirumahnya. Namun di rumah wanita yang ada dihadapannya ini, sekarang!
”Maaf mas, saya tidak tahu harus pergi kemana.” lirih suara Ros menusuk telinga Hamzah.
”Ayo masuk Ros!” tawar Hamzah. Ros masuk dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa Rumah Hamzah. Dirinya tak lagi menunggu ijin dari Hamzah. Dirinya benar-benar lelah dengan hidup ini.
Hamzah menuju dapur, membuatkan sebuah sirop dingin dengan lemon di bibir gelas. Dengan tenang, berusaha tenang, Hamzah memberikan gelask itu tanpa mengeluarkan kata-kata. Dia tahu, disaat seperti ini tentunya Ros tidak ingin diganggu. Dia kemudian duduk, memandang wajah sahabatnya yang sedang memejamkan matanya. Kening Ros nampak berkerut menandakan posisi tidurannya bukan posisi yang nyaman baginya.
15 menit. Detik terasa berat dirasakan Hamzah untuk melihat sahabatnya tepat berada di depannya tanpa bisa berbuat apa-apa. Pelukan sayang dan curahan kasihnya benar-benar terhambat nilai agama dan budaya. Kini, dia berada dekat dengan sahabatnya, namun jauh dari kemampuannya untuk menujukkan kasih sayangnya.
“Mas…aku mau pulang ya….!”
Hamzah terperanjat. Lamunannya tentang masa lalu benar-benar membuatnya tak lagi memperhatikan sahabatnya.
“Kenapa, kamu ngga nunggu Nani? Dia ke rumah kamu lho!” Hamzah kaget. Kini dia baru menyadari kalau isterinya sedang berada di rumah Ros tapi orang yang ditujunya tepat berada di depannya. Lantas kemana Nani?
”Aduh mas, kenapa harus ke rumah aku sih, kasian kan Nani. Aku takut dia diperlakukan tidak baik mas....Ayo cepet kita kerumah saya”. Mereka bergegas keluar dari rumah itu. Hamzah merapihkan bajunya yang telah acak-acakan dan Ros merapihkan jilbabnya yang tak karuan posisinya. Ketika mereka akan beranjak, pagar rumah berderit. Hamzah menatap lurus ke arah suara.
Isterinya masuk dengan tenang seolah tidak mengetahui kalau suaminya sangat mengkhawatirkan dirinya. Seulas senyum mengembang dibibirnya.
”Kenapa mas kok kaya yang bingung begitu?” tanya Nani. Nani tidak melanjutkan langkahnya ketika dari balik pintu rumahnya keluar Ros, sahabatnya.
”Ada apa ini sebenarnya, Ros, kamu lagi ngapain di sini? Disaat aku tidak ada dirumah?” tanya Nani lagi. Tatapannya berganti menyapu kedua wajah yang ada didepannya.
”Gada papa kok Nan...Tadi Ros kesini dan langsung duduk di depan. Dia capek kayanya” jelas Hamzah. Jelas wajahnya menunjukkan kekhawatiran kalau-kalau isterinya mencurigai dirinya.

Bandung, 27 Juli 2009. Senin
(Cerpen tapi Bersambung...)

Tidak ada komentar:

Laman