Minggu, 01 November 2009

BENARKAH AGAMA MENJADI PERISAI TERAKHIR ANAK-ANAK KITA?


Kami ngobrol dengan isteri kami tentang perkembangan lingkungan dimana anak kami sekarang tengah berkembang. Sangat mengkhawatirkan! Diskusi ini bermula dari adanya teman anak kami yang menangis disekolah pada saat kami mengantarkan anak kami ke sekolah. Isteri kami mendekati anak itu dan bertanya apa sebabnya dia menangis. Anak itu berkata dia dijahilin teman-temannya.
Dari peristiwa itu kemudian isteri saya mulai berbicara tentang kekhawatirannya dengan lingkungan sekolah atau sekitar rumah, berbagai macam peristiwa senantiasa terjadi seperti perkelahian anak, pelecehan melalui kata-kata kotor atau sekedar menjahili temannya yang lebiih kecil atau lemah. Lantas isteri saya berkata bahwa jalan satu-satunya untuk mempersiapkan anak menghadapi tantangan masa depan, anak-anak kami harus di-pesantren-kan.
Isteri saya menganggap bahwa agama harus dijadikan landasan bagi berkembangnya kemampuan anak dalam menilai dan memaknai setiap peristiwa yang dilalui dan dialaminya. Dan untuk itu, anak kami harus masuk pesantren supaya mendapatkan ilmu agama lebih dalam karena kami sebagai orang tua tidak memiliki kapasitas untuk mendidik agama secara mendalam.
Saya menjawab, rasanya bukan pengetahuan agama yang paling penting untuk menghadapi tantangan masa depan, namun lebih kepada kemampuan anak untuk memaknai agamanya secara kritis dan memahami nilai-nilai yang terkandung didalamnya, sebagai bekal atau referensi alternatif bagi penyelesaian berbagai masalah yang dihadapinya.
Agama penting untuk menjadi salah satu bahan atau referensi bagi anak dalam menyelesaikan masalah, namun tentunya kita juga harus membuka pemikiran bahwa dalam hidup ini masih banyak sumber lain yang dapat dijadikan landasan anak dalam bertindak dan berbuat. Misalnya, untuk menghindari dari perbuatan mencontek di sekolah, tentunya tidak hanya landasan agama yang dapat dijadikan anak sebagai alasan, namun juga bisa alasan taat aturan, rasio atau filsafat. Mengajarkan semua ini tidak sulit selama kita sebagai orang tua mampu membuka diri juga terhadap berbagai perkembangan ilmu dan pengetahuan yang berkembang di masyarakat.
Pernyataan diatas bukan berarti menomorduakan agama dalam pendidikan anak, namun untuk bisa memahami nilai agama, ada prasyarat lain yang harus dipersiapkan oleh orang tua , salah satunya adalah kemampuan dan kemauan orang tua untuk senantiasa berdiskusi dengan anak mengenai setiap permasalahan yang dihadapi, memberikan cara kepada anak untuk mencoba mencari alternatif penyelesaian dari berbagai sumber dan salah satunya adalah agama.
Tentunya, untuk dapat memahami nilai yang terkandung didalam agama, kita perlu belajar ilmu agama. Itu pasti! Namun setelah itu, orang tua memiliki tanggung jawab kepada anak untuk memberikan pendampingan dan bimbingan bagaimana si anak dapat memahami isi ajaran tersebut secara hakiki dan tidak memandang agama hanya sebagai aturan tertulis yang tidak boleh atau tidak bisa diperdebatkan. Karena kalau kita yakin agama adalah sesuatu yang benar dan dapat dijadikan sandaran kuat bagi kita dalam menghadapi tantangan hidup, maka orang tua jangan takut untuk mendiskusikan tentang makna dan alasan logis dari berbagai aturan tersebut.
Dan yang paling penting adalah orang tua harus juga menanamkan bahwa dalam agama pun masih banyak alternatif lain yang disodorkan sebagai alternatif solusi dari masalah yang mereka hadapi sehari-hari selama hal itu yang berhubungan dengan dunia. Misalnya ketika anak kita menghadapi pergaulan sehari-hari antar lawan jenis, mungkin anak mendapatkan ajaran dimana semaksimal mungkin menghindari hubungan yang bernama pacaran, karena pacaran tidak diajarkan dalam agama kami. Sementara dilain pihak, anak melihat disekelilingnya bahwa pacaran menjadi salah satu bentuk proses sosialisasi dan menjaga eksistensi diri mereka dalam lingkungannya.
Apabila anak hanya mendapatkan satu bentuk ajaran saja, maka si anak akan merasa bingung antara aturan yang diterimanya dengan kenyataan yang terjadi dilingkungannya. Di saat seperti inilah orang tua harus bisa menjelaskan secara logis dan sistematis tentang alasan mengapa agama melarang pacaran.
Dengan cara diskusi, si anak dapat mengemukakan berbagai alasan yang mendukung atau menolak pacaran dalam pergaulan mereka. Lontaran-lontaran pertanyaan, pendapat dan opini berkembang sampai si anak mendapatkan pemahaman, apa alasan dan manfaat kalau ternyata mereka memilih untuk pacaran dan alasan atau manfaat kalau mereka menyimpan hasrat pacarannya itu sampai pada saat yang tepat. Anak juga harus diberikan gambaran tentang dampak positif maupun negatif dari keputusan yang diambil si anak.

BENARKAH AGAMA ITU OTORITER?
Salah satu yang saya pelajari selama ini tentang agama, selalu berkonotasi kalau apa yang dikatakan ajaran agama itu harga mati, tidak dapat ditawar apalagi didiskusikan. Hal ini pada akhirnya akan menyebabkan anak-anak tidak mampu mengembangkan daya kritisnya atau malah mematikan kemampuan si anak untuk mencari inti sari dari suatu ajaran dan pada akhirnya akan membuat anak menjadi frustasi ketika apa yang didapatnya selama belajar agama berbeda dengan kenyataan yang terjadi dilingkungannya.
Oleh karena itu, guru maupun orang tua berkewajiban meluangkan waktu untuk sekedar berbicara santai atau ngobrol dengan anak-anak tentang berbagai hal mengenai ajaran dan implementasi agama dalam kehidupan sehari-hari dengan cara melemparkan jauh-jauh ajaran seolah-olah agama itu otoriter dan tidak bisa ditawar. Dalam hal ini pun diperlukan kecerdasan orang tua untuk memilih dan memilah antara ajaran agama yang bersifat mutlak dengan ajaran yang yang masih memungkinkan untuk didiskusikan, dengan demikian orang tua pun tidak sekehendak hati membebeaskan anak dalam memaknai agama dengan kehendak mereka sendiri.
Yang penting untuk disampaikan kepada anak adalah, sejauh mana mereka mengerti suatu ajaran dari agamanya kemudian melakukan pemikiran kritis dan makna dari suatu ajaran tersebut. Dengan demikian anak kita tidak terjebak pada ketaatan buta dan menafikan kenyataan bahwa dalam agama pun masih banyak pandangan-pandangan berbeda dan layak dijadikan referensi dalam memandang hidup dan kehidupan ini.

TERORISME ADALAH DAMPAK DARI PENGAJARAN AGAMA YANG SALAH?
Tidak bermaksud untuk menggeneralisir bahwa teroris itu selalu berhubungan dengan salah satu atau dengan semua agama, namun memang agama memiliki potensi yang sangat kuat untuk melahirkan bentuk-bentuk tindakan yang anarkhis. Hal ini disebabkan karena ketika berbicara agama, maka hukum dunia dan hidup didunia ini sudah dianggap lebih rendah nilainya ketimbang ketika kita berbicara nilai akherat dan kehidupan setelah mati.
Orang yang melakukan tindakan-tindakan ekstrim berupa pengorbanan diri demi mencapai tujuannya (yang menurutnya demi agama yang diperjuangkannya) adalah orang yang menerima ajaran agama hanya dari sudut pandang yang sempit, satu sumber dan menutup diri dari kemungkinan adanya sumber-sumber lain yang mungkin lebih benar. Proses pengajaran yang lebih menekankan pada ketaatan pada guru secara membabi buta menjadi salah satu potensi lahirnya radikalisme dikalangan penganut suatu agama.
Pandangan yang membenarkan suatu ajaran secara mutlak akan berdampak pada keyakinan bahwa diluar kelompok dan ajarannya, semua itu sesat dan harus di”kembalikan ke jalan yang lurus” versi mereka. Munculah radikalisme dan berujung pada terorisme.

KESIMPULAN
Dari obrolan sepintas dengan isteri saya itulah maka saya mencoba merangkainya dalam bentuk tulisan supaya terkesan lebih padu dan terhindar dari kesalahpahaman. Tujuan inti dari tulisan ini memang saya khususkan kepada isteri saya, namun semoga juga memberikan pandangan lain kepada semua pihak yang merasa bertanggung jawab pada kehidupan masa mendatang anak-anak kita.
Agama itu penting, namun mengajarkan kemampuan anak dalam memaknai setiap nilai-nilai luhur dan universal dari ajaran itu dan kemudian menjadikannya sebagai salah rujukan dalam menyelesaikan masalah mereka sehari-hari itu jauh lebih penting. Orang tua dan guru harus berada di garis depan untuk mulai membuka diri sendiri dan anak supaya mau melihat bahwa ajaran agama bukanlah ajaran yang mutlak, otoriter dan kaku. Tapi sebaliknya, anak harus paham bahwa agama merupakan ajaran yang logis dan rasional untuk dijadikan landasan bagi kekuatan diri menghadapi tantangan masa depan.
Semoga!
2 November 2009

Tidak ada komentar:

Laman