Kamis, 19 November 2009

GURU, SISWA DAN FENOMENA 2012

(Diterbitkan Harian Umum Tribunjabar, Jum,at, 20 Nopember 2009)
Film 2012 telah berhasil merebut perhatian masyarakat dunia dan Indonesia pada khususnya. Berbagai pendapat dan opini terus beredar dimasyarakat baik yang pro maupun kontra. Yang kontra menyatakan bahwa film itu bisa merusak keyakinan masyarakat tentang kiamat sementara yang pro menyatakan bahwa film ini hanya fiksi dan sudah banyak film yang mengangkat tema yang sama.
Film ini pun telah menjadi bahan obrolan dan diskusi dikalangan siswa di kelas dan berkembang menjadi opini yang dapat mempengaruhi siswa yang lainnya. Sebagai guru, kita harus mengikuti perkembangan ini dan mencoba memberikan ruang kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya dan mendengarkan ilmu, pengetahuan, opini dan kesimpulan secara mandiri dan guru memposisikan dirinya sebagai mediator dan fasilitator bagi berjalannya diskusi secara lancar dan jelas.
Hal ini menjadi sangat penting setelah semua orang merasa khawatir dari film yang ditayangkan. Semua mengkhawatirkan siswa yang mesih terbatas kemampuan berpikir secara terintegrasi atau menyeluruh dalam memahami isi dan esensi dari tema yang ditayangkan sehingga tidak muncul anggapan bahwa film itu menjadi sebuah kebenaran. Diterbitkan di Harian Tribun Jabar, Jum,at, 20 Nopember 2009
Film ini menjadi fenomenal karena iklan yang gencar dan mengangkat tema yang sedang ramai diperbincangkan yaitu adanya sebuah kebudayaan dan peradaban kuno yang meramalkan bahwa akan terjadi “bencana global” di tahun 2012 yang disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal bumi. Namun dalam perjalanan, masyarakat menganggap bahwa film ini menceritakan kiamat sehingga membuat masyarakat menjadi panik dan dikhawatirkan mempengaruhi keimanan kita terhadap hari kiamat.
PEMBERIAN MAKNA MELALUI METODE INQUIRI
Mengapa kita sebagai guru harus peduli? Film ini telah menjadi wacana dan bahan diskusi diberbagai kesempatan karena film ini dinilai mendobrak dan merubah paradigma kita tentang kiamat, dan guru harus berada didepan untuk mendiskusikannya bersama siswa sehingga siswa mampu menonton film apapun dengan pikiran kritis dan bijak.
Film ini bisa dijadikan momentum yang paling tepat untuk mengajarkan pentingnya kritis ketika menonton sebuah film, khususnya film yang dibuat oleh bangsa dengan budaya, keyakinan dan pandangan yang berbeda dengan masyarakat kita. Hal ini akan melatih siswa kita untuk tidak selalu menjadi konsumen bodoh dan menelan mentah-mentah segala macam informasi yang diterimanya.
Metode yang bisa digunakan guru dalam membahas materi seperti ini adalah inquiri, dimana siswa diharapkan untuk menemukan sendiri sumber, bahan dan teori yang berhubungan dengan tema yang sedang dibahas. Kegiatan yang dilakukan guru pada saat membuka ruang untuk berdiskusi adalah menggali pandangan mereka tentang sesuatu yang telah ditontonnya, pendapat atau opini mereka dan mencarikan mereka ilmu atau pengetahuan pembanding untuk mencoba mengajarkan kepada siswa bahwa dalam memandang sebuah fenomena, gejala atau pendapat orang lain harus selalu memiliki sumber lain sebagai pembanding. Hal tersebut akan membuat siswa tidak berpandangan picik atau sempit dalam melihat sebuah fenomena.
Kegiatan lain yang harus dipersiapkan guru adalah mempersiapkan segala materi yang berhubungan dengan tema yang sedang didiskusikan, dibahas atau diperdebatkan di dalam kelas. Hal ini penting sehingga guru mampu memberikan pandangan, pendapat atau pengetahuan yang bersifat alternatif sehingga siswa dapat memilih sudut pandangnya sendiri secara komprehensif.
Dalam hubungannya dengan fenomena 2012 dan film yang beredar, guru dituntut untuk memahami tema yang ditayangkan dengan (minimal) membaca referensi tentang film tersebut, bahan pembanding dan alasan ilmiah dari munculnya ramalan atau fenomena tersebut.
Hal ini akan memberikan pemahaman kepada siswa bahwa apa yang disampaikan guru bukanlah pendapat subjektif dari guru semata namun juga dengan landasan ilmiah dan pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Sekarang bukan lagi jamannya dimana guru melarang sesuatu tanpa landasan dan penjelasan yang benar-benar bisa diterima oleh akal siswa. Atau bukan saatnya lagi guru berkuasa untuk memaksakan pendapatnya kepada siswa seolah pendapat guru adalah yang paling benar. Karena pada prinsipnya, semua maksud baik seharusnya memang bisa diterangkan secara logis, sehingga siswa dapat menerimanya dengan penuh kesadaran.
Dengan kepedulian guru (dan orang tua) untuk mendampingi siswanya dalam merespon segala yang terjadi di sekitar kehidupan mereka sehari-hari, maka siswa akan lebih awal dan lebih cepat belajar untuk memaknai setiap pengalaman yang mereka alami dan bijak menyikapi setiap masalah atau fenomena yang terjadi.
Dalam kasus fenomena dan film 2012, diharapkan dengan metode inquiri guru dapat memberikan pendampingan dalam memaknai film dan fenomena tersebut, maka semoga tidak terjadi kekhawatiran akan goyahnya keimanan mereka tentang kiamat atau minimal mengurangi dampak psikologis yang mungkin terjadi seperti rasa takut berlebihan atau trauma karena kita memandang fenomena tersebut sebagai salah satu hasil budaya atau pemikiran suatu budaya tertentu saja.

Imam Wibawa Mukti,S.Pd
Guru SMP taruna Bakti Bandung
Koordinator Akselerasi SMP Taruna Bakti Bandung

Tidak ada komentar:

Laman