Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2010

KEMATIAN YANG MERINDUKAN

“Pa…mama hanya ingin bertanya ama papa.  Jangan salah sangka ya….!” Bisik Nadna kepada suaminya.  Rabi.  Disela pelukannya Rabi sudah bisa membaca arah pembicaraan yang akan dikatakan isterinya.  Rabi mencoba diam.  Menghindari untuk berkomentar karena khawatir hal itu akan menyebabkan suasana malam yang indah ini berubah menjadi panas. “Papa jujur ya….!  Selama ini papa setia kan ama mama?  Papa ngga pernah boongin mama khan?  Soalnya mama mau bilang, kalau papa suka ama cewek lain, lebih baik papa jujur aja deh, biar mama yang mengalah dan meninggalkan papa.  Anak-anak biar mama yang ngurus.  Papa ngga usah mikirin mereka, mama yang akan menanggung semuanya.  Papa silakan pergi dengan cewek yang papa sukai itu….”.  malam semakin dingin diluar sana.  Namun di kamar itu cuaca memang berubah menjadi panas karena aktivitas mereka.  Beberapa menit yang lalu. Rabi tetap diam.  Rabi merasa salah tingkah.  Apa yan...

USUT TUNTAS

“Pokoknya kasus ini harus diusut tuntas…!” teriak Amri.  Lelaki setengah baya itu mengepalkan tangannya seraya berteriak dihadapan rekannya yang lain.  Ruang guru itu kini telah mereka kuasai.  Sebuah gerakan karena ketidakpuasan yang memuncak menjadi sebuah aksi.  Tapi tunggu dulu…! Aksi ini hanya aksi sekumpulan guru disebuah sekolah kecil dipedesaan terpencil jadi tidak ada kerumunan massa dalam jumlah ratusan atau ribuan.  Aksi ini saja hanya diikuti 12 orang guru yang kebetulan hadir dan sedang beristirahat setelah 3 jam mereka mengajar.  Terjebak dalam sebuah kebingungan dan ketidakpedulian. Sebuah sekolah Dasar di Daerah Garut Selatan kini tengah bergejolak.  “Sudah saatnya kita semua menuntut transparansi dan keterbukaan dari pihak para pimpinan kita tentang semua hal terutama masalah keuangan.  Kegiatan terakhir yang dilaksanakan oleh para pimpinan kita benar-benar sebuah kegilaan.  Bagaimana mungkin kegiatan cuma lokakarya seper...

KUHAPUS DOSAKU DENGAN MENGEMBALIKANNYA

Segepok uang sebesar Rp. 20.000.000,00 itu kini ada diatas meja Pak Roni.  Hamdan meletakkan uang itu dimeja atas nama Pak Danu yang tidak bisa hadir dalam pertemuan itu dengan alasan sakit dan tengah berobat ke kota.  Semua terdiam dan saling tatap.  Bingung untuk memulai pembicaraan.  Guru yang ada pada saat itu tidak lebih dari 9 orang.  Tak ada yang beraksi sama sekali. Uang itu untuk apa? Kegiatan sudah berakhir dan pertanggungjawaban sudah dilakukan.  Siapa yang lantas harus bertanggungjawab atas uang itu.  Uang itu adalah uang panas.  Uang yang dikembalikan oleh orang yang dituduh telah menggelapkan uang tersebut.  Pak Roni merasa ruangan menjadi panas.  Sebagai seorang guru, dia tentunya sangat paham kalau uang tersebut adalah uang yang bisa menjadi ular panas yang akan melilit dan menggigitnya.  Pak Roni adalah guru yang paling gigih memperjuangkan membongkar penyelewengan yang terjadi di sekolahnya.  Dan peristiwa ...

Tuhan ada di penjara

6-5-4-3-2-1-0….! Angka keramat bagi Junaedi.  Sebuah angka yang membuatnya menjadi seorang petapa dan tokoh spiritual di lingkungannya. 6 tahun sudah dia mendekam di penjara ini. 5 kali mengalami sodomi oleh narapidana lainnya. 4 kali mengalami pengeroyokan oleh rekan mereka sendiri di sel. 3 kali dirawat di rumah sakit. 2 kali mengalami percobaan pembunuhan oleh lawannya dari sel blok sebelah. 1 kali ditusuk tepat di perut. 0% jiwanya yang diisi oleh Tuhan. Sudah 6 tahun dia mendekam dipenjara kelas teri ini.  Bertumpuk dan berdesakan di sel yang sempit menjadi kehidupannya sehari-hari.  Sebuah penderitaan yang tidak pernah terpikirkan selama ini.  Dan dia harus menjalaninya lagi lebih kurang 9 tahun lagi dikurangi berbagai keringanan dan remisi.  itupun kalau dia sanggup membayar suap kepada petugas yang ada dipenjara itu. Palu hakim sudah diketok dan dengan bukti yang menyakinkan, setidaknya menurut hakim bahwa dirinya telah memperkosa dan melakukan pelece...

KUSERAHKAN DIRIKU SEBAGAI PENEBUS DOSAKU

Dibuka pintu rumahnya dan tampaklah seorang lelaki setengah baya dengan menuntun seorang anak lelaki kecil sekitar 9 tahunan dan seorang wanita dengan menggendong bayi dipelukannya.  Semuanya tidak dikenalnya sama sekali  namun tidak ada alasan baginya untuk mengusir mereka sebelum tahu siapa dan tujuannya. “Maaf…ada yang  bisa saya bantu?” Tanya Sarah.  Kecurigaan sempat menghinggapi dirinya.  Dijaman seperti sekarang ini, banyak hal yang dipikirnya tidak mungkin justru sering terjadi.  Keluguan dari tamunya benar-benar membuatnya khawatir tidak mampu menolak.  Dilebarkannya pintu dan dipersilahkannya mereka masuk. Setelah mereka membuka sandalnya, terlihat keraguan mereka memasuki rumah sebesar itu.  Mungkin bagi mereka rumah itu adalah istana.   Sebuah ruangan dengan dipenuhi barang-barang mewah menghiasi seluruh bagian rumah tersebut.  Keramik sebesar pintu dengan kursi besar terasa menjadi kecil ditengah ruangan seluas biosk...

KUHAPUS DOSAKU DENGAN MENGEMBALIKANNYA

Segepok uang sebesar Rp. 20.000.000,00 itu kini ada diatas meja Pak Roni.  Hamdan meletakkan uang itu dimeja atas nama Pak Danu yang tidak bisa hadir dalam pertemuan itu dengan alasan sakit dan tengah berobat ke kota.  Semua terdiam dan saling tatap.  Bingung untuk memulai pembicaraan.  Guru yang ada pada saat itu tidak lebih dari 9 orang.  Tak ada yang beraksi sama sekali. Uang itu untuk apa? Kegiatan sudah berakhir dan pertanggungjawaban sudah dilakukan.  Siapa yang lantas harus bertanggungjawab atas uang itu.  Uang itu adalah uang panas.  Uang yang dikembalikan oleh orang yang dituduh telah menggelapkan uang tersebut.  Pak Roni merasa ruangan menjadi panas.  Sebagai seorang guru, dia tentunya sangat paham kalau uang tersebut adalah uang yang bisa menjadi ular panas yang akan melilit dan menggigitnya.  Pak Roni adalah guru yang paling gigih memperjuangkan membongkar penyelewengan yang terjadi di sekolahnya.  Dan peristiwa ...

USUT TUNTAS

“Pokoknya kasus ini harus diusut tuntas…!” teriak Amri.  Lelaki setengah baya itu mengepalkan tangannya seraya berteriak dihadapan rekannya yang lain.  Ruang guru itu kini telah mereka kuasai.  Sebuah gerakan karena ketidakpuasan yang memuncak menjadi sebuah aksi.  Tapi tunggu dulu…! Aksi ini hanya aksi sekumpulan guru disebuah sekolah kecil dipedesaan terpencil jadi tidak ada kerumunan massa dalam jumlah ratusan atau ribuan.  Aksi ini saja hanya diikuti 12 orang guru yang kebetulan hadir dan sedang beristirahat setelah 3 jam mereka mengajar.  Terjebak dalam sebuah kebingungan dan ketidakpedulian. Sebuah sekolah Dasar di Daerah Garut Selatan kini tengah bergejolak.  “Sudah saatnya kita semua menuntut transparansi dan keterbukaan dari pihak para pimpinan kita tentang semua hal terutama masalah keuangan.  Kegiatan terakhir yang dilaksanakan oleh para pimpinan kita benar-benar sebuah kegilaan.  Bagaimana mungkin kegiatan cuma lokakarya seper...

CINTA EMPAT KALI

Kucium bibir tipisnya.  Dingin menjalari sekujur tubuhku.  Tak ada kata dari bibirnya setelah itu.  Kami berdua terdiam.  Bahkan untuk saling memandang sekalipun, kami tak sanggup.  Kupalingkan mukaku ke arah kanan.  Kupandang jajaran gunung yang tinggi menjulang tepat diatas kami.  Hutan itu menjadi saksi bagaimana aku telah berani kurang ajar mencium bibir wanita yang aku sangat cintai. Cuaca sudah tak cerah lagi.  Gumpalan-gumpalan awan seolah bersedih karena wanita yang mereka sayangi telah ternoda.  Sebuah pelanggaran besar dari janjiku untuk tidak pernah menciumnya sebelum dia menjadi isteriku.  Sebuah janji yang senantiasa aku ucapkan tatkala dia menangis.  Menangis semua hal yang membuatnya tidak nyaman.  Sebuah janji kosong karena aku tak sanggup menyanggupinya. Isteriku sekarang sedang menyuapi kedua anak kami, dalam bayanganku. Aku pejamkan mata ini untuk sekedar melupakan jerit manja kedua anakku itu.  Tak m...