Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2008

TERNYATA TUHAN SENANG BERCANDA…

Pernahkah kamu merasakan saat-saat dimana Tuhan sedang bercanda dengan mu? Ketika Tuhan begitu enteng menarik ulur doa dan kemampuan-Nya untuk mengabulkan atau tidak mengabulkan. Mungkin kita terheran-heran ketika seonggok harapan yang sudah di depan mata kita tiba-tibda hilang begitu saja entah kenapa. Padahal segala daya dan upaya sudah kita kerahkan untuk meraihnya. Atau mungkin sebaliknya, ketika kita duduk melamun, tiba-tiba Tuhan menghantarkan seonggok mimpi itu kehadapan kita tanpa kita duga-duga sebelumnya. Juga ketika Tuhan bermain dengan ribuan nyawa di Aceh ketika bencana tsunami menyapu bersih Aceh. Bagi saya itu adalah cara Tuhan bercanda. Kenapa? Karena Tuhan tentunya tidak serius membumihanguskan Aceh yang notebene adalah daerah yang secara kasat mata begitu dekat dengan-Nya. Bagi saya Tuhan baru akan dianggap serius kalau Dia menyapu Jakarta misalnya. Atau memberikan suatu penyakit bagi para penjahat nasional yang telah korup dan mempermainkan jutaan nasib raky...

AKU DAN DIA SAMA

Lamunanku dikejutkan oleh suara kaca kelas yang pecah. Belum reda keterkejutanku tiba-tiba Hendra teman sebangkuku terguling dan darah mengucur dari kepalanya. Aku terdiam dan mencoba mencari jawaban atas kejadian yang tiba-tiba ini. Semua teman kelasku berhamburan keluar sambil menjerit dan berteriak histeris. Aku keluar kelas dengan membopong Hendra yang mungkin sudah tidak sadarkan diri. Bajuku terkena cipratan darahnya yang terus mengalir. “Ndra…Ndra…kenapa lo?” aku mencoba menanyakan keadaannya. Semua sia-sia. Suasana sekolahku semakin tidak karuan, para perempuan menjerit dan laki-lakinya berteriak sambil melempar batu ke arah luar gerbang. Aku terkejut saat melihat belasan anak SMA lain juga melakukan yang sama di luar sana. Dalam kecemasanku akan kondisi Hendra, aku meraih sebuah batu didekatku dan dengan tenaga yang ada aku lempar keluar tanpa tahu kenapa dan kepada siapa batu itu diarahkan. Beberapa detik setelah itu aku mendengar sorak gembira teman-temanku seiring...

K O N T R A

Dalam kegelapan tengah malam jalan Sumatra, tampak seseorang tengah jalan sempoyongan. Ditangannya tergenggam botol yang hampir kosong. Angin malam berhembus menusuk tulang tak lagi dia hiraukan, Bandung tak lagi dia kenal. Semua adalah asing baginya. Ditengah jalan perempatan Sumatra – Kalimantan yang sunyi dari lalu lalang pejalan kaki dan pengendara, dia berhenti lalu berteriak, “ Tuhan….dimana Kau ? Aku minum bir brengsek dan masuk ke bar agar aku dekaaa…at padamu setelah aku tak menemukan-Mu di masjid, di surau, di pengajian-pengajian yang telah aku datangi.” Akhirnya dia tersungkur dan menangis, sendiri dalam kesunyian dan kegelapan malam. “ Dimana aku sekarang ……?” Dalam kepeningan kepalanya yang sangat berat, dia menatap langit-langit. Samar-samar nampak olehnya kelebatan peristiwa tadi malam. Yang dia ingat ialah ketika dia tersungkur dan menangis, setelah itu hitam merangkulnya. “ Adi….ini aku, Sinta, istrimu. Mengena...