Postingan

Kosong dan Hening

“Seandainya kamu hanya melihat apa yang ditampakkan oleh cahaya dan hanya mendengar apa yang dibunyikan oleh suara, maka sebenarnya kamu tidak melihat dan mendengar apapun” (Khalil Gibran) Pernahkah sesaat kita sembunyi dari cahaya dan suara? Menjebakkan diri dalam kegelapan dan keheningan sejati ? Sadarkah bahwa hakekat kehidupan itu adalah kosong dan hening ? Badan kita terdiri dari sel dan atom, dimana diantara kedua zat tersebut ada ruang kosong yang lebih besar ketimbang sel atau atom itu sendiri. Atom adalah neutron yang dikelilingi proton dan elektron, dan diantara ketiganya justru kekosongan itu yang menyelimuti ! Bukankah bumi ini hanyalah setitik debu di padang pasir alam semesta yang tidak terbatas. Dan di alam semesta, ruang kosong jauh lebih luas ketimbang zat padat,planet, matahari, bulan dan galaksi itu sendiri ! Lantas mengapa kita begitu senang terjebak dalam keramaian dan gemerlap cahaya yang menipu? Sementara dulu kita menangis dilahirkan karena kehilangan hening ...

“TUHAN” ITU TIDAK ADA

Hati-hati dengan judul diatas! Saya yakin akan banyak protes bila hanya melihat judulnya saja! Pernahkah kita mendengar ada dua golongan bertengkar karena keduanya mengatasnamakan TUHAN? Mereka dari golongan agama yang sama, dengan Tuhan dan Nabi yang sama. Lantas apa yang mereka permasalahkan sampai harus berlomba mencabut nyawa dari saudara-saudara sendiri? Apakah Tuhan memang harus dibela dengan darah? Apakah memang itu tujuan Tuhan menciptakan manusia dengan segala fitrahnya ? Apakah Tuhan tidak sanggup membuat dunia ini satu jenis warna kulit manusia, satu bangsa, satu bahasa, satu agama dan satu simbol Tuhan? Bagaimana kalau sekarang kita tinggalkan Tuhan sebagai simbol namun menjadikannya kesadaran bahwa kita berasal dari satu Tuhan, siapapun Dia! Bagaimana kalau kita berhenti memperlakukan Tuhan sebagai anak kecil yang menunggu dibela dan merengek meminta permen umat yang lainnya. Berhentilah menganggap Tuhan sebagai Akuntan yang terus menghitung manusia dari sudut ...

Kenapa Harus Aku?

berjalan dipinggir trotoar.... merangkak di sisi jalan... berguman.... mmmmmmhhhhh....kenapa aku tuhan....? kau sandarkan dunia ini dipundakku padahal gunung, laut dan padang pasir saja tak kuat menahannya! sekarang aku akan hilang dan musnah tanpa sisa... dalam hitungan detik! meninggalkan luka...
BEKERJALAH KARENA TUHAN Kalimat diatas terasa sangat hambar dan asing ditelinga kita saat ini! Tapi serius...kata itu terilhami oleh sebuah cerita nyata yang dialami sahabat, keponakan, rekan seperjuangan, menantu dari Nabi Muhammad SAW yaitu Ali Bin Abi Thalib. ”ketika Ali bertempur dengan salah satu lawannya dan lawannya tersebut sudah jatuh dan terdesak, Ali menodongkan pedangnya dan hanya tinggal mengayun pedang untuk memenggal kepala lawannya itu. Beberapa saat sebelum mengayunkan pedang, lawannya meludahi wajah Ali. Anda bisa bayangkan apa yang dilakukan Ali? Ternyata Ali menurunkan pedang dan pergi meninggalkan lawannya. Lawannya terkejut dan bertanya, ”kenapa engkau meninggalkan aku pada saat kau dalam posisi menang, bahkan aku meludahi wajahmu...? Ali menjawab,”tadi aku hendak membunuhmu karena Allah, tapi setelah kau meludahiku...aku khawatir aku membunuhmu bukan karena Allah tapi karena hawa nafsuku...!!!” Bayangkan...! Beliau begitu hati-hati untuk bertindak karena kh...

TENTANG REINKARNASI

Ini semata-mata ulasan seorang manusia yang selalu dirundung kegelisahan akan makna kehidupan. Mohon maaf bila tulisan ini agak mencolek rasa dan akal sebagian kepercayaan. Tanpa melihat latar belakang agama, ras dan keyakinan, saya hanya mencoba menjawab sendiri, pertanyaan dari saya sendiri. Mohon maaf khususnya kepada penganut agama Hindu yang meyakini adanya reinkarnasi, apabila ulasan saya ini tidak pada tempatnya dan ada ulasan yang tidak sesuai dengan ajaran yang sesungguhnya. --------0000-------- Saya sering bertanya, kejamkah Tuhan? Tuhan sudah mentakdirkan kita untuk dilahirkan kedunia ini tanpa diberikan pilihan. Bagiku ini saja sudah merupakan siksaan terberat dibandingkan tidak dilahirkan sama sekali. Bukan karena sudah terlanjur dilahirkan saya berkata ini. Tapi lebih karena…setelah kelahiran ini, menjalani kehidupan dengan segala pilihannya, lalu dalam beberapa tahun harus menjemput kematian. Selesai? Ternyata tidak….masih ada kehidupan yang lain. Syorga dan ne...

GOLPUT HARAM? Cape...deh....!

Maaf, pengetahuan saya tentang agama memang tidak semendalam orang lain, namun sandaran saya keyakinan akan logisnya Islam sebagai agama. Oleh karena itu maka, hanya dengan melandaskan pada logika, saya yakin pandangan saya tidak menyimpang dari Islam. Golongan putih dalam pemilu di Indonesia terbagi menjadi dua kelompok besar, pertama yaitu golput atas ketidaktahuan dan ketidaksadaran , kedua golput atas kesadaran dan pengatahuan. Mungkin golongan pertama inila yang merupakan golongan terbesar. Golongan putih atas ketidaktahuan dan ketidaksadaran adalah mereka yang tidak terlibat pemilu karena alasan tidak tahu dan tidak mau tahu. Pasivitas mereka lebih didasarkan pada ketidakmauan untuk terlibat karena ada yang lebih penting untuk dikerjakan, misalnya berdagang atau menjadi sopir angkot. Bagi golongan ini, pemilu bukanlah sebuah peristiwa yang menjadi penentu keberlanjutan hidup mereka, pemilu hanyalah peristiwa kenegaraan biasa seperti halnya peringatan hari kemerdekaan. Inil...

VALENTINE, MENGAPA DITOLAK?

Ah...masyarakat Indonesia memang selalu latah budaya dan gagap pendapat. Ketika televisi merebak dan menayangkan gegar budaya barat, maka kemudian masyarakat Indonesia pun meniru, dengan mentah dan tanpa saringan yang memadai. Kita tidak pernah sesaat untuk merenungkan setiap nilai dari budaya yang datang ke negeri ini. Makanan, pakaian, sistem sosial, perayaan dan lainnya begitu kentara dilakukan tanpa mampu melakukan penyesuaian dengan nilai dan budaya yang tumbuh dalam masyarakat Indonesia. Misalnya dalam meniru gaya pakaian, tidak semua pakaian yang cocok dikenakan orang Amerika atau Eropa dapat cocok dipakai orang Indonesia, tapi dengan kecerdasan perancang busana, pakaian barat menjadi enak dipandang ketika dipakai di Indonesia. Tapi masih ada juga yang secara mentah meniru dan memaksakan dipakai di tengah masyarakat yang masih lekat dengan tata nilai kesopanan leluhur, sehingga terkesan jauh dan terpisah dalam tata pergaulan masyarakat. Ada hal yang penting ketika berbica...