Minggu, 28 Februari 2010

KEMATIAN YANG MERINDUKAN

“Pa…mama hanya ingin bertanya ama papa.  Jangan salah sangka ya….!” Bisik Nadna kepada suaminya.  Rabi.  Disela pelukannya Rabi sudah bisa membaca arah pembicaraan yang akan dikatakan isterinya.  Rabi mencoba diam.  Menghindari untuk berkomentar karena khawatir hal itu akan menyebabkan suasana malam yang indah ini berubah menjadi panas.
“Papa jujur ya….!  Selama ini papa setia kan ama mama?  Papa ngga pernah boongin mama khan?  Soalnya mama mau bilang, kalau papa suka ama cewek lain, lebih baik papa jujur aja deh, biar mama yang mengalah dan meninggalkan papa.  Anak-anak biar mama yang ngurus.  Papa ngga usah mikirin mereka, mama yang akan menanggung semuanya.  Papa silakan pergi dengan cewek yang papa sukai itu….”.  malam semakin dingin diluar sana.  Namun di kamar itu cuaca memang berubah menjadi panas karena aktivitas mereka.  Beberapa menit yang lalu.
Rabi tetap diam.  Rabi merasa salah tingkah.  Apa yang harus dikatakannya, dia sendiri bingung.  Pernah dia menjawab dengan bercanda kalau dia memang sedang mencintai seorang wanita.  Isterinya tiba-tiba semaput dan marah selama tiga hari.  Dan dilain waktu, Rabi pernah menanggapinya dengan seyum, lalu isterinya cemberut dan bertanya, “kenapa senyum?  Bener kan apa yang mama omongin kalau papa suka ama wanita lain?”.  Sekali waktu Rabi menjawab dengan tegas bahwa hanya Nadna yang ada dalam hatinya.  Nadna berkerut dan mengatakan bahwa dia bohong.  Rabi benar-benar dibuat bingung dengan pertanyaan itu.  Ini mungkin pertanyaan dan pernyataan keseribu kali setelah mereka menikah.  15 tahun yang lalu.
Sekarang….?
“kenapa papa diem….?” Tanya Nadna.  Tanganya menyentuh pipi Rabi untuk kemudian menarik wajah suaminya untuk menatap dirinya.  Matanya.  Rabi tatap kembali tatapan Nadna dengan lebih tajam.  Dia khawatir bila menghindari tatapan itu, isterinya menyangka kalau dia tidak jujur.
Tapi….
“kenapa papa menatap mama kaya gitu….? Emang bener ya yang mama katakan?  Kalau bener, papa tinggal bilang.  Mama siap kok mengalah demi wanita itu….”  Lanjut Nadna.  Nadna selama ini selalu khawatir bila suaminya berpaling kepada wanita lain.  Ketika sekolah dulu, Rabi adalah laki-laki yang cukup dikenal disekolahnya.  Dan terlihat dia memang sangat akrab dengan wanita ketimbang teman-teman prianya.  Tapi itu dulu, pikir Nadna.  Sekarang dia adalah suami saya dan dia tidak boleh melakukannya lagi.  Peristiwa beberapa tahun yang lalu tidak boleh terulang.  Saya harus lebih waspada dan bersiap bila ada sesuatu yang tidak diharapkannya terjadi.
“kenapa mama nanya yang gitu melulu….? Tanya Rabi.  Pertanyaan itu pula yang sering dilontarkan ketika dirinya bingung untuk menjawab.  Nadna mendelik.  Sebuah jawaban yang tidak pernah diharapkannya.   Dia selalu ingin mendengar jawaban pasti dari suaminya bahwa dialah satu-satunya wanita yang ada dalam hati suaminya.  Nadna sangat khawatir suaminya akan tergoda oleh wanita lain yang lebih cantik dan genit.
Ketakutan itu pun terjadi ketika malam ini mereka baru saja melaksanakan rutinitas dan hak serta kewajiban sebagai sepasang suami isteri.   Malam ini Nadna kembali menanyakan hal itu.  Untuk yang kesekian kalinya.  Ketika suasana sedang romantis, Nadna sengaja melontarkan pertanyaan itu hanya untuk sekedar mendengar jawaban pasti dari suaminya.  Jawaban yang pasti itu tidak pernah bosan dia dengar.  Nadna hanya ingin mendengar suaminya menegaskan diri bahwa hanya dialah.  Hanya dia yang ada dalam hati suaminya.
Nadna sadar suaminya bisa mengatakan apa yang tidak sesuai dengan hatinya.  Nadna sadar mulut bisa berbohong.  Sekarang suaminya bisa mengatakan mencintai dirinya.  Tapi siapa tahu dibelakangnya, Rabi memiliki wanita lain.  Nadna sadar akan hal itu.  Nadna sadar dirinya bisa saja dibohongi suaminya kapan pun.  Dia tidak peduli.  Dia hanya ingin malam itu dan malam-malam sebelumnya serta seterusnya, suaminya mengatakan, “aku mencintaimu sepenuh hati.  Hanya kamu wanita yang menjadi pelabuhan akhir cintaku!!”
Sementara Rabi mencoba melonggarkan pelukannya.  Dia merasa jengah dengan pertanyaan itu namun tak berani mengatakan kepada isterinya.  Rabi merasa selama ini sangat mencintai isterinya.  Memang wanita lain sering berkelebat dalam hari-harinya.  Datang dan pergi.  Tapi sampai detik ini dia tetap menjadi suami dari Nadna.  Rabi tidak pernah habis berpikir, apakah semua wanita selalu menanyakan hal tersebut. 
“Nadna…isteriku…apakah kamu akan percaya kalau papa sekarang mengatakan bahwa kamu lah wanita yang ada dalam bayanganku selama ini?  Apakah ketika aku membayangkan wanita lain lalu kamu bisa mengetahuinya hanya melalui pertanyaan kamu seperti tadi?”  Rabi mencoba untuk menghindar memberikan jawaban.
“Kenapa kamu ngga mencoba menikmati detik-detik  kebersamaan kita seperti sekarang ini tanpa dibumbui rasa takut.  Ketakutan yang sering membuat kita menjadi tidak pernah bisa merasakan kenikmatan yang seharusnya kita rasakan” papar Rabi lebih lanjut.  Nadna bergeser kemudian memandang suaminya.  Cara bicara Rabi tidak seperti biasanya.  Rabi menyadari bahwa apa yang dibicarakannya bisa membuat Nadna semakin khawatir dan curiga.  Kemudian Rabi diam.

Pagi hari itu.  Ketika Nadna sedang menjemur pakaian di loteng rumahnya.  Handphonenya berbunyi.  Kabar dari rumah sakit dikotanya.  Mengabarkan bahwa suaminya meninggal karena tertabrak mobil yang sedang melaju kencang di jalan raya kota.
Nadna sejenak terpekur.  Apa artinya pertanyaan tadi malam.  Apa manfaatnya senantiasa meragukan kesetiaan suaminya selama ini, ketika suaminya sekarang sudah tidak ada lagi.  Mengapa keraguannya selama ini telah melupakan dirinya untuk sekedar bersyukur bahwa kemarin suaminya masih ada disisinya.
Nadna kini merasakan, kehadiran suaminya jauh lebih bermakna ketimbang kesetiaannya.  Sehari, semenit menunggu dan merasakan kehadirannya, jauh lebih bermakna dari sekedar mempertanyaan sesuatu yang dia sendiri ragu dengan jawabannya.
Nadna terduduk lemas.  Mengapa dia tidak mensyukuri kebersamaan mereka selama 15 tahun ini dengan merenda, merasakan, menikmati dan mensyukuri cinta mereka dan anak-anaknya.
Nadna terjatuh.

USUT TUNTAS


“Pokoknya kasus ini harus diusut tuntas…!” teriak Amri.  Lelaki setengah baya itu mengepalkan tangannya seraya berteriak dihadapan rekannya yang lain.  Ruang guru itu kini telah mereka kuasai.  Sebuah gerakan karena ketidakpuasan yang memuncak menjadi sebuah aksi.  Tapi tunggu dulu…! Aksi ini hanya aksi sekumpulan guru disebuah sekolah kecil dipedesaan terpencil jadi tidak ada kerumunan massa dalam jumlah ratusan atau ribuan.  Aksi ini saja hanya diikuti 12 orang guru yang kebetulan hadir dan sedang beristirahat setelah 3 jam mereka mengajar.  Terjebak dalam sebuah kebingungan dan ketidakpedulian. Sebuah sekolah Dasar di Daerah Garut Selatan kini tengah bergejolak. 
“Sudah saatnya kita semua menuntut transparansi dan keterbukaan dari pihak para pimpinan kita tentang semua hal terutama masalah keuangan.  Kegiatan terakhir yang dilaksanakan oleh para pimpinan kita benar-benar sebuah kegilaan.  Bagaimana mungkin kegiatan cuma lokakarya seperti itu menghabiskan biaya sampai 20 juta rupiah. Kita aja tahu berapa biaya dari masing-masing bidang, ga ada yang lebih dari satu juta.”  Paparnya setengah berteriak.  Pandangannya menyorot kepada semua guru yang terdiam.  Hanya mendengar.  Seperti biasa.
Mereka yang hanya mendengar itu bisa jadi disebabkan beberapa hal, pertama karena mereka memang tidak tahu apa-apa.  Mereka terdampar di ruangan itu karena sebuah takdir.  Belum genap satu tahun mereka bekerja sehingga yang mereka tahu, saya mengajar apa hari ini atau bagaimana mengatasi keberingasan siswa-siswinya yang senantiasa iseng menjahili setiap mereka mengajar.  Kedua, ada guru yang tahu tapi samar-samar.  Mereka adalah guru yang lebih dari satu tahun mengajar tapi tidak pernah diajak menjadi panitia dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan.  Desas-desus berhembus seputar mereka.  Mereka hanya mendengar lalu menyimpulkan sendiri.  Tanpa upaya dan daya untuk melakukan klarifikasi.  Mereka tidak pernah tahu atau tidak pernah merasakan apa pengaruhnya desas-desus itu dengan pekerjaan mereka.  Dan yang ketiga adalah mereka yang telah mengabdi lebih dari tiga tahun disekolah itu.  Sudah merasa paling tahu untuk menilai orang perorang dari rekan kerjanya.  Banyak dilibatkan dalam berbagai kegiatan sekolah namunt tidak pernah dipercaya untuk melakukan semuanya.  Boneka-boneka abadi kantoran.
Sekarang boneka-boneka itu merasa ditipu mentah-mentah oleh pimpinan mereka yang telah menyelenggarakan sebuah kegiatan dengan dana besar namun acaranya tidak memuaskan mereka.  Sebuah kebohongan yang biasa terjadi disebuah instansi.  Kebohongan yang disepakati karena selalu terjadi dan dimaklumi.
Turunnya Kepala Sekolah terdahulu cukup membuat suasana sekolah dasar itu tergoncang.  Skandal penyelewengan dana Penerimaan Siswa Baru (PSB) telah membuat kepala sekolah terdahulu terdongkel dan entah dimutasi kemana.  Keberhasilan ini mereka anggap sebagai sebuah keberhasilan dari perjuangan mereka dalam menghapus dan memberantas korupsi di sekolah itu.  Kesombongan dari guru-guru tua!!!
Mereka tidak pernah menyadari bahwa penyelewengan yang terjadi juga atas sepengetahuan mereka juga.  Namun karena mereka takut untuk bersuara, mereka memilih diam dan menhembuskan dongeng serta obrolan di luar ruangan guru.  Bahkan ketika mereka harus menandatangai proyek “manipulasi” pun, mereka melakukannya dengan alasan “tidak berdaya”.  Sebuah penyelewengan massal telah terjadi bertahun-tahun dan mereka hanya bisa mengatakannya di warung kopi atau di ruang piket.  Tak jarang kata-kata kasar terlontar hanya untuk memuaskan dendam yang tak terbalaskan atau sekedar meluapkan amarah yang tidak tersalurkan.
“begitulah rekan-rekan, kasus yang sekarang kita temui….”
“ternyata ada beberapa pos pengeluaran yang tidak masuk akal.  Masa untuk kepala dinas yang diundang kita harus membayar 2 juta. Terus untuk pemateri lokakarya yang Cuma bicara 2 jam saja, itupun hanya ngomong ngalor ngidul dibayar 6 juta.  Konsumsi yang hanya 3 jenis makanan ringan aja perorangnya kena biaya sepuluh ribu rupiah.  Dan sewa aula itu ternyata sepuluh juta.”
Ruang guru serentak ramai.  Saling bisik dan komentar keluar seperti suara ayam yang akan mendapatkan jatah makan dipagi hari.  Mereka berbicara tanpa mengetahui makna dari setiap kata yang keluar.  Keributan dan kesimpangsiuran menjadi makanan sehari-hari mereka.  Dinamika kehidupan sekolah semakin terasa bergairah karena adrenalin semakin memuncak.  Hanya untuk mengetahui apa yang akan terjadi di akhir episode.  Tapi tanpa ada kemauan untuk terlibat memperbaiki.
“kalau begitiu kita harus bicara dengan mereka!” teriak ibu Zuraini.  Seorang guru senior yang sudah 15 tahun mengajar di sekolah itu.  Tapi karirnya tidak pernah berubah selain menjadi wali kelas.  Selama ini ibu Zuraini dikenal sebagai guru “kendang” atau “go’ong”. Julukan ini diberikan karena setiap rapat, dia hanya mampu mengulang ucapan dari pemimpin rapat.  Provokator atau sekedar menimpali tanpa mampu memberi solusi. 

KUHAPUS DOSAKU DENGAN MENGEMBALIKANNYA


Segepok uang sebesar Rp. 20.000.000,00 itu kini ada diatas meja Pak Roni.  Hamdan meletakkan uang itu dimeja atas nama Pak Danu yang tidak bisa hadir dalam pertemuan itu dengan alasan sakit dan tengah berobat ke kota.  Semua terdiam dan saling tatap.  Bingung untuk memulai pembicaraan.  Guru yang ada pada saat itu tidak lebih dari 9 orang.  Tak ada yang beraksi sama sekali.
Uang itu untuk apa? Kegiatan sudah berakhir dan pertanggungjawaban sudah dilakukan.  Siapa yang lantas harus bertanggungjawab atas uang itu.  Uang itu adalah uang panas.  Uang yang dikembalikan oleh orang yang dituduh telah menggelapkan uang tersebut. 
Pak Roni merasa ruangan menjadi panas.  Sebagai seorang guru, dia tentunya sangat paham kalau uang tersebut adalah uang yang bisa menjadi ular panas yang akan melilit dan menggigitnya.  Pak Roni adalah guru yang paling gigih memperjuangkan membongkar penyelewengan yang terjadi di sekolahnya.  Dan peristiwa ini bukanlah yang pertama.
Tapi kini berbeda dengan perjuangannya dulu.  Dulu dia bekerja bersama dengan rekan-rekannya mengungkap penyelewengan yang dilakukan kepala sekolah dengan nilai nominal yang jauh lebih besar.  Tapi sekarang dia merasa sendiri.  Teman-temannya menjauhi karena kasus yang dungkapnya adalah justru yang dilakukan temannya sendiri.  Teman yang berjuang bersama untuk mengungkap kasus Kepala Sekolah terdahulu.
Ketika temannya yang lain merasa “ewuh pakewuh” dengan kasus ini, tapi Pak Roni justru berteriak lantang.  Kasus ini terlalu telanjang dan kasar, kata Pak Roni.  Hanya orang yang bodoh dan guru yang goblog saja yang tidak mengakui bahwa terjadi penyelewengan.  Pengaturan dan pembagian tugas yang serampangan serta pengeluaran yang tidak masuk akal.
Awalnya Pak Toni merasa tidak yakin untuk bisa mengungkap kasus ini, bukan hanya karena merasa sendirian namun juga karena rekan lainnya memilih untuk bungkam, diam dan menunggu.  Mereka hanya bisa membicarakannya di tempat-tempat non formal seperti di warung kopi, ruang piket dan koridor sekolah.  Bahkan ada guru yang mengatakan akan menjadi pembela rekannya itu hanya karena merasa kasihan atas tertekannya rekannya itu menghadapi kasus ini.
Pak Danu bukan bukan guru kemarin sore yang tidak tahu masalah administrasi di sekolah.  Dia adalah guru senior yang cukup dikagumi Pak Roni.  Pak Danu selalu tampil bijak di depan forum saat rapat.   Jadi bagi Pak Roni, Pak Danu pasti memiliki alasan kuat mengapa dia melakukan kesalahan yang fatal.  Dan Pak Hamdan adalah guru yang siap menjadi pembela Pak Danu dalam kasus ini.

Namun ternyata sejarah kembali berulang.  Perang opini, sms dan surat gelap berseliweran di atas kepala Pak Roni melalui banyak orang.  Dan entah bagaimana awalnya, ada seorang wartawan koran lokal yang mendatanginya untuk menanyakan masalah itu.
Pak Roni kecewa.
“Kenapa orang suka banget ngirim sms ngga jelas sih?  Kita kemarin sudah melakukan rapat pertanggungjawaban dan hasilnya clear.  Tidak ada pertanyaan yang menggugat laporan keuangan bukan.  Yang ada hanya bertanya pada tataran normatif” kata Pak Roni kepada Pak Hamdan. 
Pak Hamdan hanya mengangkat bahunya.  Dia menyadari hampir semua kasus yang terjadi disekolah ini selalu berakhir dengan sms dan surat gelap.  Melalui Pengurus dewan sekolah dia sering menerima sms forward yang berisi tentang informasi penting.  Namun bagi Pak Hamdan, yang sudah hampir 5 tahun menjadi Kepala sekolah, validitas informasi seperti itu sangat diragukannya.
“saya juga heran Pak Roni…saya bahkan kecewa ada orang yang berani mengirimkan surat ke koran untuk mebeberkan masalah di sekolah ini.  Apa mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan justru mencoreng nama sekolahnya sendiri…?”  lanjut Pak Hamdan.
“terlepas dari semua ini pak…apakah uang ini akan kembali seandainya tidak ada wartawan yang datang kemari?” tanya Pak Roni.
Bahu Pak Hamdan kembali terangkat.
Guru yang lain tetap pada posisinya masing-masing.
“tapi sekarang mau diapain ini uang….?” Sela Ibu Prihatin.  Seorang guru yang terkenal diam dilingkungan rekan-rekannya.  Namun sering disaat dia tampil bicara, semua guru menghormatinya dengan diam dan mendengarkannya bicara.  Usianya masih sangat muda.
“Pak Roni…?” tanya Pak Hamdan.
Pak Roni menatap rekan-rekannya yang lain.  Dia kemudian berdiri dan mengambil uang itu. Dan menyerahkannya kepada Pak Hamdan.
“mungkin untuk kas sekolah pak…?”
“ya itu mudah…tapi langkah kita selanjutnya adalah menindaklanjuti kasus ini.  Apakah dilanjutkan dengan membuat berita acara dan melaporkan kepada pihak yang lebih berwenang atau menghentikan kasus ini karena uangnya dikembalikan…?” tanya Pak Hamdan.
Tiba-tiba Handphone Pak Roni berbunyi.   Dia berbicara perlahan.  Mukanya tiba-tiba memerah.  Kurang lebih 30 detik dia mendengarkan seseorang yang berbicara diseberang sana.  Lalu Pak Roni menutup kembali HP-nya.
“mungkin kita harus menutup kasus ini pak…”
“tunggu dulu….ini tidak adil.  Dulu Pak Roni paling lantang ingin membongkar kasus ini sampai tuntas!  Tapi mengapa sekarang bapak justru ingin menghentikan kasus ini….?”  Tanya Ibu Prihatin.  Teman-temannya yang lain mengengguk.
“bapak sudah tidak konsisten dalam bertindak.  Ingat pak…tujuan yang halal tidak akan merubah hukum perbuatan yang haram.  Walaupun uang itu sudah dikembalikan, bukan berarti kesalahannya menjadi hilang…khan?” lanjut Pak Junot menimpali.
“benar pak….saatnya sekarang kita mengambil sikap.  Lanjutkan…!”  teriak seseorang di barisan paling belakang.

Pak Roni kembali duduk.
“begini bapak dan ibu yang saya hormati.  Bagaimana kasus ini bisa berlanjut kalau orang yang paling bertanggungjawab justru telah meninggal…”
“barusa saya terima kabar dari keluarga Pak Danu…beliau meninggal 15 menit yang lalu di rumah sakit karena terlambat mendapatkan pengobatan.  Kata anaknya, uang 20 juta yang sudah diperlihatkan kepada mereka ternyata sudah tidak ada dilemari ayahnya….”  Papar Pak Roni.  Matanya menatap uang yang tengah dipegang Pak Hamdan.
Ruang itu hening kembali.
Bandung, Kamis 19 Februari 2010!

Minggu, 21 Februari 2010

Tuhan ada di penjara


6-5-4-3-2-1-0….!
Angka keramat bagi Junaedi.  Sebuah angka yang membuatnya menjadi seorang petapa dan tokoh spiritual di lingkungannya.
6 tahun sudah dia mendekam di penjara ini.
5 kali mengalami sodomi oleh narapidana lainnya.
4 kali mengalami pengeroyokan oleh rekan mereka sendiri di sel.
3 kali dirawat di rumah sakit.
2 kali mengalami percobaan pembunuhan oleh lawannya dari sel blok sebelah.
1 kali ditusuk tepat di perut.
0% jiwanya yang diisi oleh Tuhan.
Sudah 6 tahun dia mendekam dipenjara kelas teri ini.  Bertumpuk dan berdesakan di sel yang sempit menjadi kehidupannya sehari-hari.  Sebuah penderitaan yang tidak pernah terpikirkan selama ini.  Dan dia harus menjalaninya lagi lebih kurang 9 tahun lagi dikurangi berbagai keringanan dan remisi.  itupun kalau dia sanggup membayar suap kepada petugas yang ada dipenjara itu.
Palu hakim sudah diketok dan dengan bukti yang menyakinkan, setidaknya menurut hakim bahwa dirinya telah memperkosa dan melakukan pelecehan seksual kepada anak didiknya yang masih dibawah umur.  Tak habis pikir mengapa ada anak yang mengaku pernah dilecehkan dirinya.  Baru 3 tahun dia mengajar disekolah swasta itu.  Dan atas keinginan mereka lalu dia mencoba memberikan pelajaran tambahan untuk ketiga siswanya yang kebetulan semua adalah perempuan.  Ada semacam kerinduan diantara mereka memang.  Sadar atau tidak sadar, sebagai seorang lelaki normal, Junaedi menyukai ketiga siswinya karena mereka adalah wanita-wanita kecil yang tidak termasuk kategori jelek.  Perawakan mereka memang bisa mengundang decak kagum walaupun usia mereka baru antara 13-14 tahun.  Ditambah dengan cara mereka yang supel dalam bergaul memang membuat mereka menjadi salah satu kelompok siswi dengan “rating” cukup tinggi disekolahnya.   Dari curhat mereka kepadanya, Junaedi bisa menilai kalau mereka memang anak-anak yang sangat bebas dalam bergaul.  Keberanian mereka untuk membuka pembicaran yang menyerempet masalah seks sering dilontarkan.  Bahkan dalan hatinya, Junaedi sering liar berkhayal tentang mereka.  Tapi tidak untuk berbuat kurang ajar. 
Profesinya sebagai guru masih sanggup untuk menahan imaji-imaji liarnya.  Cukup.
Isterinya pernah mengatakan kepada dirinya untuk hati-hati.  Junaedi tidak pernah memikirkan peringatan isterinya.  Baginya perkataan seorang isteri selalu dilatarbelakangi cemburu.  Apalagi metiga siswinya pernah bermain kerumahnya dan diterima langsung oleh isterinya ketika dia belum pulang dari sekolah.  Kegenitan dan keceriaan mereka memang bisa membuat wanita yang lebih tua untuk cemburu. 
Tapi sekarang Junaedi benar-benar baru mengerti ucapan dan peringatan isterinya.  Dunia memang tidak pernah berpihak pada yang lemah dan bodoh seperti dirinya.  Sekarang dia harus menjalani hidup dipenjara selama 15 tahun.  Junaedi tak sanggup meyakinkan hakim bahwa dirinya tidak bersalah dan tidak pernah melakukan tindakan yang didakwakan kepadanya.  Tapi pengakuan ketiga remaja itu menjadi patokan hakim dalam mengambil keputusan.  Ditambah dengan pengakuan Junaedi yang terus terang selama ini sering memberikan lesnya di salah satu rumah anak itu yang sering sepi dan jarang ada orang tuanya di rumah.  Sebuah kondisi yang akhirnya membuat dia terpojok sendiri.
Hasil otopsi dari rumah sakit yang menyatakan bahwa benar mereka sudah tidak perawan lagi semakin memberatkan dirinya.  Kepastian saiapa yang melakukannya tidak bisa diketahui melalui tes DNA dengan alasan mereka melakukannya sudah lebih dari dua bulan sebelum masalah ini diperkarakan oleh orang tua mereka.  Salah satu anak itu hamil dan membuat murka orang tua mereka.
Opini begitu cepat beredar seiring diberitakannya peristiwa ini oleh media massa.  Masyarakat telah melakukan “hukuman” sosial dengan berbagai opini dan pendapat yang menyesatkan.  Bahkan menjelang peradilannya yang pertama, Junaedi hampir tewas dikeroyok massa yang gemas atas perbuatan yang dituduhkan kepadanya.  Hakim harus ikut pendapat massa?  Inilah akibatnya.  Sebuah peradilan yang memang penuh dengan kekotoran, ketidakprofesionalan dan takut terhadap teror sosial telah menggeser pengadilan sebagai tempat mencari keadilan menjadi tempat mencari penghasilan.
 Junaedi tak mampu melakukan banding.  Dirinya terlalu kecil dan miskin untuk mencari keadilan di dunia ini.  Akhirnya dengan keyakinan yang bulat kepada Tuhan karena dia yakin Tuhan tidak diam, Junaedi pasrah dimasukan kedalam penjara dengan vonis 15 tahun penjara.

5 kali mengalami sodomi.  Dipenjara, orang yang masuk karena kasus perkosaan, apalagi memperkosa anak dibawha umur benar-benar dibenci.  Orang yang masuk karena norkoba, korupsi, atau pembunuhan masih bisa diterima dalam komunitas penjara.  Tapi tidak bagi pemerkosa anak kecil. 
Junaedi tidak mampu menjelaskan hal yang sebenarnya kepada rekan-rekannya di sel.  Mereka tidak peduli dengan ocehan Junaedi bahwa tuduhan itu hanyalah rekayasa dan kebohongan.  “ngga ada maling yang mau ngaku” kata mereka.  Sodomi menjadi siksaan pertama dirinya di sel itu.  3 orang narapidana yang masuk karena tuduhan membunuh polisi dan pencurian mobil menjadi orang yang pertama merusak harkatnya sebagai manusia dip enjara itu.  Hukuman yang mereka jalani memang lebih lama dari dirinya.  Mereka juga adalah orang-orang yang pasrah kepada takdir dan menjalani hidup dengan kekosongan.  Jasmani rohani mereka benar-benar telah dihempaskan oleh ketidakpercayaan kepada dunia yang telah membesarkan dan menjadikannya sampah masyarakat.
Sodomi kerap mereka lakukan sebagai pelampiasan atas hasrat seks mereka dan sekaligus sebagai peringatan kepada siapapun yang masuk ke penjara itu bahwa mereka adalah penguasa blok dan ruangan sempit itu. 
4 rekan lainnya diam ketika melihat dirinya dipaksa untuk melayani 3 rekannya yang lain.  Mereka sudah cukup menderita untuk bisa peduli dan memberontak.  Bahkan tidak mustahil mereka justru senang karena tidak lagi akan menjadi korban kebiadaban rekannya itu.
5 kali.  Pertama karena terpaksa.  Selanjutnya Junaedi menjadi sadar bahwa banyak narapidana lainnya juga melakukan hal itu.  Bertahun tidak bertemu wanita dan isteri bisa membuat pria menjadi kalap.  Bahkan ada beberapa sipir yang juga melakukannya kepada narapidana lainnya dengan iming-iming keringanan dan fasilitas tertentu di dalam penjara.  Junaedi sekarang telah menjadi bagian dari aktivitas itu.
Isterinya telah lama tidak mejenguknya.  Terakhir 5 tahun yang lalu isterinya datang dengan seorang lelaki yang tidak dikenalnya.  Berbicara bahwa dirinya akan setia menunggunya lalu membuka cincin pernikahan dari jari manisnya.
“untuk mu…bekal di dalam penjara. Jual saja kalau kamu membutuhkan uang selama di penjara ini.  Saya tidak sanggup membekali kamu dengan uang bulanan.  Jangan takut, kalau kamu keluar nanti, kita akan bersama kembali”
Junaedi menerima cincin 3 gram yang dulu disematkan ke jari manis kekasihnya di depan penghulu.memasukkannya ke dalam saku celana dan berusaha agar sipir tidak melihatnya.
Lalu isterinya bangkit dan berlalu keluar dari pintu penjara diiringi lelaki yang mengantarnya datang.  Junaedi tidak mampu bertanya identitas lelaki itu pada isterinya.  Dia takut lelaki itu adalah orang yang akan menggantikan posisinya didalam keluarga.  isterinya cantik, langsing dan memiliki pekerjaan yang lebih mapan ketimbang dirinya yang hanya guru honorer di sekolah swasta.  Bisa jadi laki-laki itu adalah salah rekan kerjanya yang bersimpati, mencoba berempati kemudian menjadi curahan hati.

Sekarang…ditahun keenam itu.  Junaedi sudah bukan lagi hanya seorang narapidana kacang yang selalu menjadi korban penindasan sesama napi.  Dia adalah pemimpin blok E dipenjara itu.  Tidak hanya pemimpin dalam administrasi kepenjaraan saja, tapi juga pemimpin mafia penjara.  Tak ada peristiwa yang terjadi di blok sel itu kecuali atas ijinnya.  Bahkan dengan pengaturan dan kompromi dengan petugas sipir di dalam penjara, dirinya bisa menciptakan LAS VEGAS di dalam penjara itu.  Mengatur kedatangan wanita penghibur kedalam penjara.  Mengijinkan pengeroyokan kepada narapidana yang dianggapnya akan menjadi pesaingnya dalam memimpin blok sel.  Bahkan menjadi penasehat spiritual kepada rekan-rekan sel yang dulu sering menindasnya.
Berawal dari kemampuannya bermain kata.  Bakatnya itu pula yang menjadikannya sebagai guru.  Kemudian bakat itu pulalah yang mengantarkan dirinya sampai ketempat sekarang.  Dari obrolan ringan yang sering dia lakukan menjelang tidur, dia sering mengatakan bahwa tuhan telah mati.
Narapidana yang lain mengamini karena kekecewaan mereka kepada tuhan yang menjadikan mereka sebagai sampah masyarakat.  Mereka tidak pernah menyesal atas  apa yang mereka perbuat.  Mereka merasa tidak pernah minta untuk dilahirkan.  Mereka merasa selama ini hanya menjadi anak tuhan yang dilahirkan lalu ditinggalkan dalam kemiskinan, kekacauan rumah tangga dan kekejaman dunia.  Kejahatan yang mereka lakukan adalah cara mereka bertahan.  Mereka menganggap selama ini  perbuatan mereka yang “salah” itu tidak lebih dari usaha mereka menjalani hidup.
“siapa sih Jun yang mau hidup kaya gini kalau kita dilahirkan ditempat dan waktu yang bener?   coba kita lahir dari orang tua yang kaya dan baik, mungkin sekarang saya sedang asyik liburan di luar negeri karena berhasil menjuarai balapan mobil” geram mereka.  Sambil menyedot sebatang rokok yang menjadi barang mewah, mereka mengemukakan keheranan mereka.
“lagian ngga ada kerjaan banget sih tuhan itu pake nyiptain kita segala.  Padahal kalaupun kita ngga diciptain khan tuhan ngga rugi-rugi amat”  susul yang lain menimpali.
Tangan kanan Junaedi di penjara bernama Samad Botak.  Dengan badan yang super kekar dan kepala plontos, dia sudah cukup membuat penghuni penjara lainnya berpikir dua kali untuk berurusan dengannya.  Masuk penjara karena membunuh polisi yang sering menggoda isterinya ketika dia bekerja.  Pekerajaannya sebagai sopir truk sayuran sering membuatnya pergi meninggalkan isteri yang cantik dirumah petak itu.  Dan malam itu, dengan sebuah golok yang terselip di dinding  bambu rumahnya, dia membacok leher polisi itu ketika dia sedang lengah karena kelelahan dikamar tidurnya.  Dan isterinya lari.  Pergi entah kemana.
Dakwaannya adalah hukuman mati. Tapi karena termasuk kategori perbuatan spontan dan tidak pernah ada catatan kriminal lainnya, hukumannya menjadi seumur hidup.  Dan kini sudah 10 tahun dia mendekam dipenjara.  Dia sudah akrab dengan hampir semua petugas sipir di lapas itu. 
Samad botak adalah jenis manusia jenius yang tidak mendapatkan saluran untuk melampiaskannya.  Berbagai cara dia lakukan untuk membantu rekan-rekan satu selnya untuk melarikan diri.  Dan selalu berhasil.  Tapi tiu semua tidak membuat dirinya berhasrat untuk melarikan diri.  Penjara jauh lebih nyaman baginya.
“jadi, kenapa kita harus tetap memujanya.  Kalau tuhan itu satu dan dia adalah penguasa alam raya, mengapa harus dia pelihara iblis dan syetan-syetan itu.  Aku hanya merasa tuhan itu cuma imajinasi manusia yang ngga bisa memecahkan masalahnya sendiri….”  Papar Junaedi.
Rekan-rekannya  antusias mendengarkan apapun yang dikatakan Juneadi.  Bagi mereka, “ceramah” Junaedi mampu memberikan mereka jawaban dari pertanyaan besar mereka selama ini.  Bagi mereka ceramah selama ini hanya meninabobokan mereka dengan janji-janji syorga.  Padahal semua itu ternyata tidak lebih dari usaha para penguasa dan orang kaya untuk melakukan konspirasi tingkat tinggi supaya kekuasaan dan kekayaannya tidak direbut orang miskin.
Syorga lebih banyak dijanjikan kepada orang miskin.  Padahal itupun belum tentu mereka nikmati kelak.  Sementara orang kaya sudah jelas merasakan syorga itu di dunia, tak perlu menunggu lama dan tak perlu khawatir kalaupun kelak mereka masuk neraka, karena minimal mereka pernah merasakannya di dunia.
“TUHAN SUDAH MATI” adalah sebuah kemenangan terbesar bagi mereka.  Selama ini mereka merasa terkekang oleh kemandegan agama yang menolak pikiran liar mereka.  Sekarang, mereka merasa menjadi manusia.  Proklamasi yang mereka bacakan terdengar sampai sel sebelahnya.  Tak ada reaksi berlebih karena bagi penghuni penjara, mereka adalah sampah yang tak perlu didengar.  Tak perlu diindahkan.  Dan yang jelas semuanya tidak berotak.
“nah…apa pengaruh proklamasi itu sekarang buat kalian…?” tanya Junaedi kepada “umatnya”.
“hahahaha…saya sekarang merasa bebas untuk melakukan apapun.  Minum, lacur dan judi…” jawab Juju Jagal.  Dia adalah musuh semua penduduk kampungnya.  Berawal dari pengusiran yang dilakukan orang tua kekasihnya yang menolak dirinya untuk menjadi menantu, dia menaruh dendam dan kemudian merampok mereka dua malam sebelum pernikahan kekasihnya dengan orang yang dipilih orang tuanya.  Dia potong kepala bapak kekasihnya dengan sekali tebas.  Memperkosa ibu kekasihnya dan sekaligus membakar rumahnya.  Sumini tahu itu perbuatan kekasihnya karena sakit hati.  Sumini menjadi gila dan berteriak-teriak mengatakan bahwa Juju kekasihnya yang menghancurkan keluarganya.
“eit…kalau saya sih lebih memilih untuk segera keluar dari sini untuk bisa kembali kerja, mengumpulkan duit sebanyak-banyaknya dan membuat hancur orag-orang kaya yang dulu menghinaku…” teriak Dadang Domba.  Dia masuk ke penjara dan dihukum karena mencuri lebih dari 50 domba di kampung dan sekitarnya.
“aku apa ya…?  Mending aku kabur dari sini dan menjalani sisa hidupku dengan berpetualang main petak umpet ama polisi.  Aku ingin menjadi pemecah rekor narapidana kabur yang tidak pernah tertangkap kembali sampai aku mati.  Atau kalau aku tertangkap, aku kabur dan memecahkan rekor sebagai narapidana yang paling sering kabur dan menghabiskan hidupnya keluar masuk penjara…hahahahahahaha….ya kalau beruntung aku bisa jadi Jony Indo lah…”  Lanjut Mamad Ali.  Peranakan Arab Cianjur korban perkawinan kontrak.  Masuk penjara karena masalah tolol.  Membunuh orang yang tengah tidur dengan ibunya.  Dia mengira ibunya diperkosa oleh orang asing yang tidak dikenalnya.  Ternyata orang itu adalah bapaknya sendiri yang 16 tahun lalu menikahi ibunya secara kontrak lalu pergi.
“dan kamu Samad…?”  tanya Juaedi.
“aku malah bingung…kalau dulu aku hidup untuk sebuah tujuan yang jelas, yaitu tuhan, sekarang aku malah bingung.  Dulu saja aku tahu kalau hidupku semata untuk tuhan tapi tetap saja aku masuk ke sini.  Apalagi kalau hidup saya tidak untuk suatu tujuan yang jelas, lalu buat apa aku hidup?” jawab Samad dengan bergetar.
“mmmm…kita semua dari kecil memang sudah dicekoki oleh kata-kata pengabdian, ibadah, berbakti, hamba, dan segala kewajibannya.  Pernahkah kita berpikir sekali saja untuk melupakan hal itu semua dan hanya bertanya bagaimana kita hidup bukan untuk sesuatu yang tidak nampak, tidak jelas dan ngga pernah ikut campur langsung dalam hidup kita!” sanggah Junaedi.
“sekarang saatnya kita hidup untuk diri kita sendiri.  Memaknai arti hidup kita sendiri dan berbuat yang terbaik untuk diri kita sendiri.  Bebas berpikir dan bertindak disesuaikan dengan kemampuan dan kehendak kita.  Etika dan hukum serahkan kepada kemampuan manusia menggali potensi lingkungannya sendiri?”
“saya tidak menyalahkan kalian yang ingin hura-hura dan menghabiskan hidup kalian dengan foya-foya dan melakukan segala hal yang dulu dilarang.  Saya sekarang malah mengajak kalian untuk mulai memperbaiki hidup kita masing-masing dengan tindakan yang jauh lebih berguna.  Saatnya kita menjadi tuhan bagi kita sendiri dengan menyesuaikan diri dengan hukum alam.”
“minum minuman keras bukan saja pekerjaan tolol, tapi akal saja sudah tidak bisa menerima hal itu sebagai sesuatu yang baik.  Minuman keras itu akan membuatmu menjadi manusia yang lebih bodoh dari keledai sekalipun.  Lantas apa makna dari hidup kita yang bebas ini…?”
Mereka terdiam.  Sama sekali mereka tidak mengerti apa yang dikatakan Junaedi.  Tapi itu biasa bagi mereka.  Selama ini juga kalau mereka mendengar ceramah di tempat ibadah, hanya hukum dan larangan saja yang mereka ingat.  Tidak boleh anu dan dilarang anu, tapi selebihnya mereka tidak mengerti.  Membicarakan sosok yang pengasih dengan iming-iming neraka.  Penyayang dengan memberikan azab dan kehancuran.  Bagi mereka, ketika para pimpinan umat mengatakan takutlah kepada tuhan, maka tuhan memang menakutkan, dilain waktu mereka berbicara tuhan maha pengasih dan penyayang, tapi tidak dalam hidup mereka.
“begitu juga judi…kamu bayangkan!  Setelah kalian bekerja keras untuk memperoleh uang, lantas uang itu kamu jadikan taruhan untuk sesuatu yang tidak pasti kecuali kekalahan…kenapa uang itu tidak kalian pakai untuk membeli makanan, pakaian atau menambah modal usaha kalian” 
“lakukan bukan lagi untuk tuhan.  Jangan lakukan untuk sorga dan neraka.  Lakukanlah untuk kalian sendiri.  Demi harga diri kalian sendiri, menjadi bukti dari keagungan kalian sendiri…!”
“itulah hakekat membebaskan diri dari tuhan…!”  teriak Junaedi lantang.

Sejak itu…narapidana yang satu sel dengan Junaedi mengalami suatu perubahan yang drastis.  Mereka cenderung lebih taat pada aturan penjara.  Semuanya merasa dirinya harus berbuat itu bukan demi “sesuatu” tapi semata demi mereka sendiri.
Penjaga menjadi resah.  Sipir menjadi gelisah.  Hampir tidak ada pemasukan bagi mereka dari kegiatan Junaedi dan anak buahnya.  Junaedi dan anak buahnya berhenti membuka usaha judi di dalam penjara.  Mereka memilih bekerja untuk memberikan jasa pijat untuk memperoleh rokok.  Mereka mencucikan pakaian dari penghuni yang lebih kaya untuk sekedar mendapatkan uang lelah.
Tak ada lagi tawuran.  Tak ada lagi ganja yang beredar.  Sipir menggerutu dan bersepakat untuk mengalihkan proyek itu pada penghuni blok lain.  Tapi mereka sulit mendapatkan orang yang bisa dipercaya untuk memegang proyek “haram” itu di penjara.  Salah memilih orang, maka taruhannya adalah jabatan dan pekerjaan mereka.

“Jun…aku heran…dulu aku takut ama tuhan, tapi kelakukanku jauh dari aturan tuhan.  Sekarang aku merasa santai dan bahagia.  Ketika aku memijat kaki dan badan orang lain dan akan mendapatkan sebatang atau sebungkus rokok, aku merasa bekerja dengan kekuatan besar. Aku merasa bekerja dengan tujuan yang jelas, bukan untuk sesuat diluar diriku.  TAPI UNTUK DIRIKU SENDIRI!” jelas Samad Botak.  Dirinya menikmati setiap hisapan dari rokoknya yang diperoleh dari pijitan tangannya kepada narapidana lain.
Junaedi tersenyum. 
Hatinya lapang ketika merasa dirinya adalah penentu nasib dan takdirnya sendiri.  Tak ada campur tangan tak nampak.  Tak ada ketakutan kepada sesuatu yang tak pernah dia rasakan kehadirannya.  Sipir dan penjaga adalah jelas menjadi rekan Junaedi dalam menjalani hari-harinya. 

Ketika junaedi tengah selonjoran, seorang rekannya menawarkan diri untuk memijit kaki junaedi.
“ngga usah…aku ga punya rokok atau uang” jawab Junaedi.
“eh…jangan macem-macem Jun…aku nawarin mijit Cuma ungkapan terima kasih aku ama kamu yang udah membuka hati dan pikiran aku.  Kini aku menyadari hidup ini adalah mencapai tujuanku sendiri.  Aku jadi ingin terus hidup buat menjalankan dan mencapai tujuanku sendiri.  Aku ngga peduli lagi sorga dan neraka.  Tujuanku adalah keluar dari penjara ini dengan segera tanpa peduli kapan.  Kalaupun aku mati disini, biarlah aku mati ketika ingin mencapai tujuanku sendiri.  Bukan untuk isteri, tuhan atau sekedar dendam” lanjut Samad Botak.
Junaedi tertawa.  Dia selonjorkan kakinya ke arah Samad.  Sebelum Samad dipiit, seorang sipir membuka pintu sel.  Suara pintu besi itu berat.  Tapi sipir tidak pernah tahu kalau pintu itu kuncinya sudah dijebol oleh kepintaran Samad Botak.
“Jun…kamu akan bebas besok!”
Samad dan semua rekan satu selnya kaget.  Tapi tidak bagi Junaedi.
Dia diam dan tetap menyelonjorkan kakinya.
“Mad…katanya kamu mau pijitin kaki saya!” kata Junaedi.
“Jun kamu bebas…!  Ngga suka kamu mendengarnya?” teriak Juju Jagal.
“seneng dong…tapi khan itu juga belum jelas.  Kata Pak Yono kan besok…siapa tahu umurku ngga sampai besok”  jelas Junaedi.
“ya terserah kamu aja Jun…kamu mah dibilangin besok bebas ngga percaya!”  kata sipir itu lalu kembali keluar dan mengunci pintu.

Dengan pakaian yang dia beli dari narapidana baru dan tas kecil pemberian Mamad Ali, Junaedi keluar dari penjara itu.  Tak ada sambutan.  Tak ada penjemputan.  Semua tetap sepi diluar penjara itu.  Lalu Junaedi duduk didepan pintu penjara.
Tak ada tujuan.  Tempat atau harapan.  Semuanya sudah tercerabut dari dirinya.  Sudah 7 tahun dirinya jauh dari lingkungan luar penjara.  Hanya keajaban yang telah menendangnya keluar dari penjara itu.

Salah satu mantan siswinya membuat pengakuan.  Pengakuan hasil dari kesalahan.  Tujuh tahun kehidupan Dina, seharusnya sudah normal.  Tapi kesalahan itu terjadi.  Ketika mengetahui dirinya hamil, Dina panik dan datang kepada orang tua pacarnya.  Tapi orang tua pacarnya sama sekali tidak percaya dan menganggap Dina sudah tidak suci sejak terkuaknya kasus pelecehan itu di pengadilan.  Dina melaporkan pacarnya kepada polisi. 
Cerita berkembang dan berakhir pada pengakuan dirinya yang mengatakan bahwa kasus 7 tahun yang lalu adalah rekayasa mereka karena Junaedi mengabaikan cinta mereka.  Cinta seorang tiga orang murid yang tidak bersambut dari Junaedi.
Hasil tes DNA menguatkan bahwa bayi yang dikandung Dina adalah anak biologis dari pacarnya.  Mereka menikah dibawah bayang-bayang hukuman.  Hukuman karena Dina melakukan kesaksian dan pengakuan bohong yang menyebabkan seseorang masuk penjara.

Junaedi melangkahkan kedua kakinya menyusur jalan tanpa tujuan…dia merasakan hidupnya lebih berarti di penjara.  Dipenjara setidaknya ada orang yang mengakui dirinya memiliki sesuatu yang bermanfaat.  Diluar sini, dirinya tidak berarti sama sekali.  Koran, LSM, pejuang wanita yang dulu menghujatnya sebagai “pemangsa” tak bermoral, kini tak ada yang meminta maaf atas kejadian itu.  Semua tiarap dan mengatakan bahwa hukum manusia memiliki kekurangan.  Padahal merekalah selama kasus ini terungkap paling getol membentuk opini publik untuk memojokkan dirinya. 
Dia berpikir untuk kembali ke desanya.  Uang patungan teman-temannya dipenjara cukup untuk sekedar pulang kampung.  tapi Junaedi ragu, mungkinkah orang-orang yang dulu menjadi sahabatnya bisa menerima kembali kehadirannya dalam hidup mereka.  Bagaimanapun, menyandang predikat narapidana adalah aib yang sulit untuk dihapuskan.  Walaupun dia masuk penjara bukan karena kesalahannya, tapi kehidupannya di penjara cukup membuat cap itu melekat dalam dirinya.
Junaedi teringat cincin yang diberikan isterinya 6 tahun yang lalu.  Masih tersimpan selama ini tanpa ada keinginan untuk menjualnya untuk asalan apapun.  Inilah satu-satunya barang berharga yang dimilikinya.

“sudahlah wen…menunggu suamimu keluar dari penjara adalah sebuah tindakan bodoh”
“iya wen…kenapa kamu tidak memulai kehidupan baru.  Mencari kehidupan baru, mengusahakannya agar hidup kamu bahagia…!”
“bahagia…?  Menurut mama dan papa apa itu bahagia…?” timpal Weny.  Perempuan cantik lulusan sekolah tinggi keguruan itu telah bekerja menjadi seorang guru TK.  Banyak pemuda dan duda yang datang untuk mengemukakan keinginannya memperistri dirinya.  Tapi Weny tetap akan menunggu  suaminya.
“mungkin bahagia bagi mama adalah memperoleh seorang suami yang akan menjadi gantungan hidup.  Gajinya besar dan rumahnya mewah.  Saya bisa berbelanja tanpa batasan harga dan uang.  Dan bagi papa…bahagia adalah menyandang kembali menjadi seorang isteri dari suami yang jelas ada dan satu rumah bukan…?”
“bagi saya, bahagia adalah memperjuangkan keyakinan dalam hidup…”  lanjut Weny.  Dirinya bukan perempuan lemah, pikirnya.
Bersambung…

KUSERAHKAN DIRIKU SEBAGAI PENEBUS DOSAKU


Dibuka pintu rumahnya dan tampaklah seorang lelaki setengah baya dengan menuntun seorang anak lelaki kecil sekitar 9 tahunan dan seorang wanita dengan menggendong bayi dipelukannya.  Semuanya tidak dikenalnya sama sekali  namun tidak ada alasan baginya untuk mengusir mereka sebelum tahu siapa dan tujuannya.
“Maaf…ada yang  bisa saya bantu?” Tanya Sarah.  Kecurigaan sempat menghinggapi dirinya.  Dijaman seperti sekarang ini, banyak hal yang dipikirnya tidak mungkin justru sering terjadi.  Keluguan dari tamunya benar-benar membuatnya khawatir tidak mampu menolak.  Dilebarkannya pintu dan dipersilahkannya mereka masuk.
Setelah mereka membuka sandalnya, terlihat keraguan mereka memasuki rumah sebesar itu.  Mungkin bagi mereka rumah itu adalah istana.   Sebuah ruangan dengan dipenuhi barang-barang mewah menghiasi seluruh bagian rumah tersebut.  Keramik sebesar pintu dengan kursi besar terasa menjadi kecil ditengah ruangan seluas bioskop itu.  Tidak ada yang tidak mereka kagumi dari ruangan itu, termasuk lantainya. 
“Baik bapak..ibu…ada yang bisa saya bantu?” kembali Sarah membuka pembicaraan dan berusaha memecahkan kebekuan dan ketakutan diwajah mereka.  Kini Sarah semakin yakin, tamu di depannya bukanlah orang yang patut ditakuti.
“Maaf nyonya, saya Masdi, ini isteri saya dan mereka adalah anak-anak saya….”  Jawab lelaki setengah tua itu dengan sopan.  Terlihat oleh Sarah, tangan lelaki yang mengaku Masdi itu gemetar.  Sebuah ketakutan menyelimuti mereka.
“Saya sengaja mendatangi rumah ini untuk mengucapkan rasa terima kasih kami kepada nyonya” lanjutnya.  Sarah tersenyum.  Dirinya sama sekali tidak mengenal keluarga ini. sama sekali tidak pernah melihat mereka atau salah satu diantara mereka.  Namun itu tidak membuatnya heran karena selama ini banyak hal yang tidak pernah terpikirkannya, justru sering dialaminya.  Termasuk kejadian hari ini.  Pasti ada alasannya, pikir Sarah.
Melihat Sarah tersenyum dan tidak menunjukkan rasa permusuhan, maka lelaki itu kini mulai terasa santai.  Raut wajahnya tidak lagi menunjukkan ketegangan.
“Saya pernah menemukan Handphone milik ibu….eh maaf mungkin lebih tepat mencurinya….!”  Kata Masdi.  Tatapannya langsung menghujam lantai.  Kehinaan, ketakutan dan kekalutan jelas terdengar dari keringnya tenggorokan lelaki itu. 
Sarah memanggil seseorang.  Wanita berperawakan sedang dengan kain kebaya lusuh.  Diperintahkannya wanita itu untuk menyiapkan minuman dan makanan.  Kembali Sarah menatap Masdi dengan lembut.  Tatapan yang bagi Masdi menjadi ujung tombak beracun dan langsung menghujam jantungnya.
“saya sendiri hampir melupakannya pak….bagi saya sebagai orang yang bergerak di bidang bisnis, tentunya bukan handphone yang lebih penting bagi saya…tapi data no HP dari relasi-relasi saya yang sangat penting bagi saya.” Papar Sarah.  Bicaranya lembut dan tidak terasa adanya getaran marah atau kesal.  Bagi Masdi ini pun merupakan siksaan.  Dirinya bersiap untuk dicaci dan diusir dari rumah mewah itu.  Sementara isterinya tidak berbicara dan beraksi apapun.  Dia tengah bersiap kehilangan suaminya tercinta untuk jangka waktu agak lama.  Dipenjara.
“saya benar-benar minta maaf bu…tapi saya terpaksa melakukannya karena saya sangat membutuhkan uang….”
Sarah bisa merasakannya.  Perkataan yang bisa dipercaya,pikirnya.  Sepintas keluarga ini bukanlah keluarga berada atau setidaknya bisa memenuhi kebutuhan pokoknya.  Dan datangnya mereka kerumahnya adalah bukti dari kejujuran itu.
Tapi apakah semudah itu dijaman sekarang dia harus mempercayai orang?
“baik pak…anggaplah handphone itu jadi milik bapak…”  jelas sarah.  Dia harus segera mengakhiri pembicaraan ini sesegera mungkin dan membuat keluarga ini pergi dari rumahnya tanpa ada yang tersinggung.
“tapi bu…saya tidak bisa tenang kalau ibu tidak memberikan sangsi untuk saya.  Saya merasa dosa saya tidak akan hilang kalau ibu begitu saja memaafkan saya…”
“saya menyerahkan diri saya untuk menerima hukuman atau sangsi apapun dari ibu…”
Sarah mulai khawatir.  Baginya, hal seperti ini tidak mungkin terjadi.  Orang mencuri lalu mengakui dan minta dihukum.  Bagi dirinya, ini adalah ancaman….
Keluar membawa secangkir air dingin.  Wanita paruh baya itu kemudian menyimpan minuma itu di meja.  Tersenyum lalu pergi.  Sarah ingin menyuruh pembantunya menemani dia.  Tapi takut hal itu akan menyinggung tamunya.
Bersambung

KUHAPUS DOSAKU DENGAN MENGEMBALIKANNYA


Segepok uang sebesar Rp. 20.000.000,00 itu kini ada diatas meja Pak Roni.  Hamdan meletakkan uang itu dimeja atas nama Pak Danu yang tidak bisa hadir dalam pertemuan itu dengan alasan sakit dan tengah berobat ke kota.  Semua terdiam dan saling tatap.  Bingung untuk memulai pembicaraan.  Guru yang ada pada saat itu tidak lebih dari 9 orang.  Tak ada yang beraksi sama sekali.
Uang itu untuk apa? Kegiatan sudah berakhir dan pertanggungjawaban sudah dilakukan.  Siapa yang lantas harus bertanggungjawab atas uang itu.  Uang itu adalah uang panas.  Uang yang dikembalikan oleh orang yang dituduh telah menggelapkan uang tersebut. 
Pak Roni merasa ruangan menjadi panas.  Sebagai seorang guru, dia tentunya sangat paham kalau uang tersebut adalah uang yang bisa menjadi ular panas yang akan melilit dan menggigitnya.  Pak Roni adalah guru yang paling gigih memperjuangkan membongkar penyelewengan yang terjadi di sekolahnya.  Dan peristiwa ini bukanlah yang pertama.
Tapi kini berbeda dengan perjuangannya dulu.  Dulu dia bekerja bersama dengan rekan-rekannya mengungkap penyelewengan yang dilakukan kepala sekolah dengan nilai nominal yang jauh lebih besar.  Tapi sekarang dia merasa sendiri.  Teman-temannya menjauhi karena kasus yang dungkapnya adalah justru yang dilakukan temannya sendiri.  Teman yang berjuang bersama untuk mengungkap kasus Kepala Sekolah terdahulu.
Ketika temannya yang lain merasa “ewuh pakewuh” dengan kasus ini, tapi Pak Roni justru berteriak lantang.  Kasus ini terlalu telanjang dan kasar, kata Pak Roni.  Hanya orang yang bodoh dan guru yang goblog saja yang tidak mengakui bahwa terjadi penyelewengan.  Pengaturan dan pembagian tugas yang serampangan serta pengeluaran yang tidak masuk akal.
Awalnya Pak Toni merasa tidak yakin untuk bisa mengungkap kasus ini, bukan hanya karena merasa sendirian namun juga karena rekan lainnya memilih untuk bungkam, diam dan menunggu.  Mereka hanya bisa membicarakannya di tempat-tempat non formal seperti di warung kopi, ruang piket dan koridor sekolah.  Bahkan ada guru yang mengatakan akan menjadi pembela rekannya itu hanya karena merasa kasihan atas tertekannya rekannya itu menghadapi kasus ini.
Pak Danu bukan bukan guru kemarin sore yang tidak tahu masalah administrasi di sekolah.  Dia adalah guru senior yang cukup dikagumi Pak Roni.  Pak Danu selalu tampil bijak di depan forum saat rapat.   Jadi bagi Pak Roni, Pak Danu pasti memiliki alasan kuat mengapa dia melakukan kesalahan yang fatal.  Dan Pak Hamdan adalah guru yang siap menjadi pembela Pak Danu dalam kasus ini.

Namun ternyata sejarah kembali berulang.  Perang opini, sms dan surat gelap berseliweran di atas kepala Pak Roni melalui banyak orang.  Dan entah bagaimana awalnya, ada seorang wartawan koran lokal yang mendatanginya untuk menanyakan masalah itu.
Pak Roni kecewa.
“Kenapa orang suka banget ngirim sms ngga jelas sih?  Kita kemarin sudah melakukan rapat pertanggungjawaban dan hasilnya clear.  Tidak ada pertanyaan yang menggugat laporan keuangan bukan.  Yang ada hanya bertanya pada tataran normatif” kata Pak Roni kepada Pak Hamdan. 
Pak Hamdan hanya mengangkat bahunya.  Dia menyadari hampir semua kasus yang terjadi disekolah ini selalu berakhir dengan sms dan surat gelap.  Melalui Pengurus dewan sekolah dia sering menerima sms forward yang berisi tentang informasi penting.  Namun bagi Pak Hamdan, yang sudah hampir 5 tahun menjadi Kepala sekolah, validitas informasi seperti itu sangat diragukannya.
“saya juga heran Pak Roni…saya bahkan kecewa ada orang yang berani mengirimkan surat ke koran untuk mebeberkan masalah di sekolah ini.  Apa mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan justru mencoreng nama sekolahnya sendiri…?”  lanjut Pak Hamdan.
“terlepas dari semua ini pak…apakah uang ini akan kembali seandainya tidak ada wartawan yang datang kemari?” tanya Pak Roni.
Bahu Pak Hamdan kembali terangkat.
Guru yang lain tetap pada posisinya masing-masing.
“tapi sekarang mau diapain ini uang….?” Sela Ibu Prihatin.  Seorang guru yang terkenal diam dilingkungan rekan-rekannya.  Namun sering disaat dia tampil bicara, semua guru menghormatinya dengan diam dan mendengarkannya bicara.  Usianya masih sangat muda.
“Pak Roni…?” tanya Pak Hamdan.
Pak Roni menatap rekan-rekannya yang lain.  Dia kemudian berdiri dan mengambil uang itu. Dan menyerahkannya kepada Pak Hamdan.
“mungkin untuk kas sekolah pak…?”
“ya itu mudah…tapi langkah kita selanjutnya adalah menindaklanjuti kasus ini.  Apakah dilanjutkan dengan membuat berita acara dan melaporkan kepada pihak yang lebih berwenang atau menghentikan kasus ini karena uangnya dikembalikan…?” tanya Pak Hamdan.
Tiba-tiba Handphone Pak Roni berbunyi.   Dia berbicara perlahan.  Mukanya tiba-tiba memerah.  Kurang lebih 30 detik dia mendengarkan seseorang yang berbicara diseberang sana.  Lalu Pak Roni menutup kembali HP-nya.
“mungkin kita harus menutup kasus ini pak…”
“tunggu dulu….ini tidak adil.  Dulu Pak Roni paling lantang ingin membongkar kasus ini sampai tuntas!  Tapi mengapa sekarang bapak justru ingin menghentikan kasus ini….?”  Tanya Ibu Prihatin.  Teman-temannya yang lain mengengguk.
“bapak sudah tidak konsisten dalam bertindak.  Ingat pak…tujuan yang halal tidak akan merubah hukum perbuatan yang haram.  Walaupun uang itu sudah dikembalikan, bukan berarti kesalahannya menjadi hilang…khan?” lanjut Pak Junot menimpali.
“benar pak….saatnya sekarang kita mengambil sikap.  Lanjutkan…!”  teriak seseorang di barisan paling belakang.

Pak Roni kembali duduk.
“begini bapak dan ibu yang saya hormati.  Bagaimana kasus ini bisa berlanjut kalau orang yang paling bertanggungjawab justru telah meninggal…”
“barusa saya terima kabar dari keluarga Pak Danu…beliau meninggal 15 menit yang lalu di rumah sakit karena terlambat mendapatkan pengobatan.  Kata anaknya, uang 20 juta yang sudah diperlihatkan kepada mereka ternyata sudah tidak ada dilemari ayahnya….”  Papar Pak Roni.  Matanya menatap uang yang tengah dipegang Pak Hamdan.
Ruang itu hening kembali.
Bandung, Kamis 19 Februari 2010!

Selasa, 16 Februari 2010

USUT TUNTAS


“Pokoknya kasus ini harus diusut tuntas…!” teriak Amri.  Lelaki setengah baya itu mengepalkan tangannya seraya berteriak dihadapan rekannya yang lain.  Ruang guru itu kini telah mereka kuasai.  Sebuah gerakan karena ketidakpuasan yang memuncak menjadi sebuah aksi.  Tapi tunggu dulu…! Aksi ini hanya aksi sekumpulan guru disebuah sekolah kecil dipedesaan terpencil jadi tidak ada kerumunan massa dalam jumlah ratusan atau ribuan.  Aksi ini saja hanya diikuti 12 orang guru yang kebetulan hadir dan sedang beristirahat setelah 3 jam mereka mengajar.  Terjebak dalam sebuah kebingungan dan ketidakpedulian. Sebuah sekolah Dasar di Daerah Garut Selatan kini tengah bergejolak. 
“Sudah saatnya kita semua menuntut transparansi dan keterbukaan dari pihak para pimpinan kita tentang semua hal terutama masalah keuangan.  Kegiatan terakhir yang dilaksanakan oleh para pimpinan kita benar-benar sebuah kegilaan.  Bagaimana mungkin kegiatan cuma lokakarya seperti itu menghabiskan biaya sampai 20 juta rupiah. Kita aja tahu berapa biaya dari masing-masing bidang, ga ada yang lebih dari satu juta.”  Paparnya setengah berteriak.  Pandangannya menyorot kepada semua guru yang terdiam.  Hanya mendengar.  Seperti biasa.
Mereka yang hanya mendengar itu bisa jadi disebabkan beberapa hal, pertama karena mereka memang tidak tahu apa-apa.  Mereka terdampar di ruangan itu karena sebuah takdir.  Belum genap satu tahun mereka bekerja sehingga yang mereka tahu, saya mengajar apa hari ini atau bagaimana mengatasi keberingasan siswa-siswinya yang senantiasa iseng menjahili setiap mereka mengajar.  Kedua, ada guru yang tahu tapi samar-samar.  Mereka adalah guru yang lebih dari satu tahun mengajar tapi tidak pernah diajak menjadi panitia dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan.  Desas-desus berhembus seputar mereka.  Mereka hanya mendengar lalu menyimpulkan sendiri.  Tanpa upaya dan daya untuk melakukan klarifikasi.  Mereka tidak pernah tahu atau tidak pernah merasakan apa pengaruhnya desas-desus itu dengan pekerjaan mereka.  Dan yang ketiga adalah mereka yang telah mengabdi lebih dari tiga tahun disekolah itu.  Sudah merasa paling tahu untuk menilai orang perorang dari rekan kerjanya.  Banyak dilibatkan dalam berbagai kegiatan sekolah namunt tidak pernah dipercaya untuk melakukan semuanya.  Boneka-boneka abadi kantoran.
Sekarang boneka-boneka itu merasa ditipu mentah-mentah oleh pimpinan mereka yang telah menyelenggarakan sebuah kegiatan dengan dana besar namun acaranya tidak memuaskan mereka.  Sebuah kebohongan yang biasa terjadi disebuah instansi.  Kebohongan yang disepakati karena selalu terjadi dan dimaklumi.
Turunnya Kepala Sekolah terdahulu cukup membuat suasana sekolah dasar itu tergoncang.  Skandal penyelewengan dana Penerimaan Siswa Baru (PSB) telah membuat kepala sekolah terdahulu terdongkel dan entah dimutasi kemana.  Keberhasilan ini mereka anggap sebagai sebuah keberhasilan dari perjuangan mereka dalam menghapus dan memberantas korupsi di sekolah itu.  Kesombongan dari guru-guru tua!!!
Mereka tidak pernah menyadari bahwa penyelewengan yang terjadi juga atas sepengetahuan mereka juga.  Namun karena mereka takut untuk bersuara, mereka memilih diam dan menhembuskan dongeng serta obrolan di luar ruangan guru.  Bahkan ketika mereka harus menandatangai proyek “manipulasi” pun, mereka melakukannya dengan alasan “tidak berdaya”.  Sebuah penyelewengan massal telah terjadi bertahun-tahun dan mereka hanya bisa mengatakannya di warung kopi atau di ruang piket.  Tak jarang kata-kata kasar terlontar hanya untuk memuaskan dendam yang tak terbalaskan atau sekedar meluapkan amarah yang tidak tersalurkan.
“begitulah rekan-rekan, kasus yang sekarang kita temui….”
“ternyata ada beberapa pos pengeluaran yang tidak masuk akal.  Masa untuk kepala dinas yang diundang kita harus membayar 2 juta. Terus untuk pemateri lokakarya yang Cuma bicara 2 jam saja, itupun hanya ngomong ngalor ngidul dibayar 6 juta.  Konsumsi yang hanya 3 jenis makanan ringan aja perorangnya kena biaya sepuluh ribu rupiah.  Dan sewa aula itu ternyata sepuluh juta.”
Ruang guru serentak ramai.  Saling bisik dan komentar keluar seperti suara ayam yang akan mendapatkan jatah makan dipagi hari.  Mereka berbicara tanpa mengetahui makna dari setiap kata yang keluar.  Keributan dan kesimpangsiuran menjadi makanan sehari-hari mereka.  Dinamika kehidupan sekolah semakin terasa bergairah karena adrenalin semakin memuncak.  Hanya untuk mengetahui apa yang akan terjadi di akhir episode.  Tapi tanpa ada kemauan untuk terlibat memperbaiki.
“kalau begitiu kita harus bicara dengan mereka!” teriak ibu Zuraini.  Seorang guru senior yang sudah 15 tahun mengajar di sekolah itu.  Tapi karirnya tidak pernah berubah selain menjadi wali kelas.  Selama ini ibu Zuraini dikenal sebagai guru “kendang” atau “go’ong”. Julukan ini diberikan karena setiap rapat, dia hanya mampu mengulang ucapan dari pemimpin rapat.  Provokator atau sekedar menimpali tanpa mampu memberi solusi. 

CINTA EMPAT KALI


Kucium bibir tipisnya.  Dingin menjalari sekujur tubuhku.  Tak ada kata dari bibirnya setelah itu.  Kami berdua terdiam.  Bahkan untuk saling memandang sekalipun, kami tak sanggup.  Kupalingkan mukaku ke arah kanan.  Kupandang jajaran gunung yang tinggi menjulang tepat diatas kami.  Hutan itu menjadi saksi bagaimana aku telah berani kurang ajar mencium bibir wanita yang aku sangat cintai.
Cuaca sudah tak cerah lagi.  Gumpalan-gumpalan awan seolah bersedih karena wanita yang mereka sayangi telah ternoda.  Sebuah pelanggaran besar dari janjiku untuk tidak pernah menciumnya sebelum dia menjadi isteriku.  Sebuah janji yang senantiasa aku ucapkan tatkala dia menangis.  Menangis semua hal yang membuatnya tidak nyaman.  Sebuah janji kosong karena aku tak sanggup menyanggupinya.
Isteriku sekarang sedang menyuapi kedua anak kami, dalam bayanganku.
Aku pejamkan mata ini untuk sekedar melupakan jerit manja kedua anakku itu.  Tak mampu.
Pandanganku kini beradu tepat ditengah kegundahanku. 
Sudahlah Mas…aku ngerti kamu pasti merasa berdosa kepada mereka.  Kepada isterimu.  Aku pun tidak menuntut Mas terlalu jauh.  Kalaupun aku merajuk untuk dinikahi hanya sekedar ingin merasakan ada seorang lelaki yang memang mencintaiku dan berniat menikahiku”.  Rambutnya dia kibaskan.  Rambut hitam itu yang pertama aku sentuh, belai dan kurasakan setiap helainya.  Dua tahun yang lalu.
Aku hanya terdiam. 
Dia kembali tersenyum.
Membalikan tubuhnya untuk kemudian pergi menjauh dariku.  Sesaat kemudian dia berbalik.
Pergilah Mas!  Kembali kepada mereka.  Jangan pernah lagi menyentuhku atau mengatakan apapun padaku.  Semakin Mas sering mengatakan akan menikahiku, aku semakin sadar semakin jauh hal itu dari kenyataan.  Aku sekarang harus mencari lelaki lain yang bisa benar-benar menikahiku” .  lalu pergi dan tak lagi membalikan tubuhnya untuk sekedar melepas senyum.
Aku tetap diam.  Tak berusaha mencegahnya pergi meninggalkanku.  Tak terasa dadaku bergemuruh.  Ini kali ketiga aku jatuh cinta lagi.  Selepasnya diriku dari belenggu cinta ini, aku takut jatuh cinta untuk yang keempat kali.  Cinta atau nafsu aku tak peduli.  Rasa itu datang dan pergi sekehendak hati.
Aku kemudian berjalan menuju mobilku.  Aku nyalakan mesin kendaraanku dan melaju melewati dia yang tetap berjalan.  Mobilku melaju pelan melewatinya berjalan sendiri.  Sesaat kutatap dia dari kaca spion mobilku yang kotor.  Kecantikannya tidak memudar walaupun kulihat jelas dia sedang menangis.
Dua tahun menjalin cinta terlarang telah membuat kami merasa seperti anak muda yang dilarang untuk menjalin cinta oleh orang tua.  Sensasi demi sensasi telah kami lewati bersama walaupun semua berjalan dengan wajar.
Aku tidak berusaha untuk berhenti dan mengajaknya untuk pulang bersama.  Aku mencintainya sehingga aku harus menghargai permintaan terakhirnya untuk tidak menyentuh dan mengajaknya berbicara.
Cinta.  Cinta adalah Tuhan.  Karena cinta, Tuhan menciptakan manusia.  Karena cinta pula Manusia melupakan-Nya.  Dan aku telah melupakan Tuhan ketika mencintainya. 
Didepan rumahku yang kecil itu, berhamburan dua makhluk kecil memburuku.
Ayah pulaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……….ng!!” teriak mereka.  Bukan menciumku.  Mereka berebut meraih oleh-oleh dari tanganku.  Lalu keluar sesosok bidadari dari pintu rumah itu.  Dengan senyumnya yang khas dia menyambutku.  Mengambil tas gunungku kemudian masuk kembali.
Aku terduduk melihat dua makhluk mungil itu berceloteh tentang segala hal yang aku lewati dua hari ini.  Aku diam mendengarkan symphoni musik hidup yang aku tak dengar dua hari ini.  Isteriku kemudian keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi dan goreng pisang.
Gimana petualangannya pa…bisa membuat papa sedikit meredakan ketegangan kerja?” tanyanya dengan lembut.  Aku jawab dengan senyum kembali.  Dia tidak tahu kalau aku baru saja melepaskan cinta disana dan menggenggam cinta yang lain disini.  Aku kemudian mencium pipinya yang halus.
“I love you beb…”
Pada saat pulang tadi.  Aku mengenal seorang wanita muda.  Kuajak naik mobilku karena dia sendiri berdiri dipinggir jalan menunggu angkutan kota yang tak kunjung datang.  Aku sempat meraih  tangannya.  Dia bukan orang baru bagiku.  Dia adalah teman SMA ku yang pernah ku cium bibir tipisnya di kantin sekolah pas jam sekolah bubaran. 
Dia pergi meninggalkanku karena dia tahu aku sudah memiliki pacar.  Dia menyadari, rasa sukanya padaku dan sukaku padanya adalah sebuah kesalahan.  Dia tidak menuntut lebih dariku untuk menjadikannya kekasihku.  Dia pergi meninggalkanku sesaat sebelum aku menemui pacarku yang sedang menungguku di pintu gerbang sekolah.
Kini kami kembali bertemu.  Dia tetap belum menikah.  Dia tersenyum getir ketika tahu aku telah memiliki dua dewa dan satu bidadari.  Dalam hidupku.
Untuk yang kedua kali aku menjadi orang yang terlambat meraih cintamu…”
Tapi kali ini aku tak akan pernah melepaskannya lagi, apapun resikonya”  katanya ketika dia keluar dari mobilku.  Kuraih tangannya lalu kucium dengan lembut tangannya yang masih halus itu.

Laman