Rabu, 16 Desember 2009

PERAN KELUARGA BISA MENCEGAH BUNUH DIRI


Dalam hitungan bulan, telah terjadi lima kali kasus bunuh diri.  Selain kejadian yang beruntun, hal menarik perhatian lainnya adalah tempat yang dijadikan tempat untuk bunuh diri tersebut.  Semua peristiwa bunuh diri terjadi di tempat-tempat umum sehingga menarik perhatian banyak orang.  Mengapa seseorang melakukan bunuh diri?  Dan mengapa mereka memilih tempat umum untuk dijadikan tempat untuk bunuh diri?  Lantas apa yang salah dengan masyarakat Indonesia saat ini sehingga begitu banyak kejadian yang menjurus atau tindakan nyata untuk mengakhiri hidupnya secara paksa.
Membahas motivasi seseorang melakukan bunuh diri mungkin bisa dilakukan oleh pakar melalui berbagai peristiwa, tindakan atau ucapan dari pelaku beberapa saat sebelum dia melakukan aksi bunuh diri, namun yang jelas semua itu bukanlah masalah utama ketika kita membicarakan fenomena bunuh diri ini.  Namun yang paling penting untuk dibahas dan dicarikan solusinya adalah masalah daya tahan mental seseorang dalam menyikapi setiap problematika yang dihadapinya.  Banyaknya kasus bunuh diri di masyarakat kita saat ini menunjukkan kemampuan daya tahan mental masyarakat kita sangat rendah dan rentan terhadap goncangan hidup.
Orang yang memiliki daya tahan mental akan sangat memiliki ruang yang luas dalam dirinya untuk menahan goncangan dan benturan dalam hidupnya.  Misalnya dalam kasus kehilangan orang yang dikasihi, orang yang memiliki daya tahan mental memiliki kemampuan untuk berdialog dengan diri, perasaan dan akalnya dalam upayanya menanggapi masalah tersebut secara jernih untuk kemudian melakukan pembenahan diri untuk menerima peristiwa tersebut dan memandang semua itu bukan akhir dari segalanya.sementara bagi orang yang memiliki ketahanan mental yang rendah maka akan memandang masalah kehilangan orang yang dikasihi sebagai sesuatu akhir dari kehidupannya sehingga hal ini membuat dirinya diliputi kegelisahan dan putus asa.
Pertanyaan dasarnya adalah mengapa daya tahan mental seseorang bisa berbeda satu sama lain?  Apa yang menyebabkan seseorang menjadi sangat lemah dalam menghadapi masalah yang dihadapinya sementara dilain pihak masih ada orang yang mengalami berbagai masalah namun tetap bisa berpikir jernih dalam menghadapi masalah dan sekaligus mencari solusi dari masalah tersebut.  Dan sejauh mana peran keluarga atau sekolah dalam maraknya fenomena bunuh diri?  Apakah bunuh diri merupakan kesalahan mutlak dari pelaku atau justru keluarga dan institusi lainnya seperti sekolah juga memberikan kontribusi yang signifikan dalam fenomena ini?  dan bagaimana menyikapi hal tersebut?
FUNGSI DAN PERAN KELUARGA
Membicarakan fungsi keluarga terkesan klise.  Hampir semua bentuk pentimpangan social senantiasa dikembalikan pada peran dan fungsi keluarga.  Keluarga merupakan lingkungan social terkecil dan pertama yang dikenal oleh seseorang sehingga wajar bila kemudian keluarga ditempatkan pada posisi penting dalam membangun dan menumbuhkan kecerdasan social seseorang dikemudian hari.  Di dalam keluarga, seseorang diperkenalkan dengan berbagai keterampilan social melalui interaksinya dengan kedua orang tuanya.  Ketika seorang anak melihat orang tua, -misalnya ibu- yang terus mengeluh dan mengeluarkan sumpah serampah ketika menemui kesulitan dan masalah, maka anak akan menyerap itu sebagai respon pertama yang harus dilakukan ketika dia menemukan masalah.  Atau pada saat seorang ayah yang turun dari mobil lalu memukul seorang pengendara motor yang menghalangi jalan kendaraannya, akan menjadi modal awal bagi si anak ketika mereka menghadapi masalah yang serupa.
Orang tua merupakan figure sentral yang menjadi panutan dan suri teladan bagi anak-anaknya serta merupakan pendidik yang utama.  Keluarga memiliki fungsi selain reproduksi, ekonomi  namun juga fungsi pendidikan, sosialisasi dan afeksi.  Namun karena pergeseran social budaya yang semakin cepat berkembang telah membuat adanya pergeseran fungsi keluarga dimana orang tua gamang dalam menentukan skala prioritas. 
Dinamika yang dihadapi oleh orang tua dalam kehidupannya, telah merubah orientasi prioritas mereka dalam kehidupan keluarga dari masalah afeksi ke masalah ekonomi.  Misalnya, ketika pagi hari dimana seorang bapak harus segera bekerja karena ada pertemuan penting yang harus dihadiri dan pada saat yang bersamaan sang anak meminta waktu ayahnya untuk mendengarkan keluhannya tentang masalah yang ditemui di sekolah, mana yang akan didahulukan oleh seorang bapak?  Ini bukan pertanyaan provokatif, tapi hanya sedikit menyentuh esensi dari makna sebuah keluarga.  Bagaimana mungkin seorang anak akan bisa menemukan kehangatan keluarga ketika didalam keluarga tersebut, mereka merasa tidak dijadikan prioritas utama bagi orang tuanya.  Maka tidak mustahil kemudian anak akan sulit untuk belajar untuk mengenali perasaan dan emosinya.  Mereka akan sulit memisahkan antara rasa dan logika dalam menyelesaikan masalah karena keterampilan itu bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dipahami oleh mereka.
Hal kedua yang bisa dikembangkan oleh keluarga adalah membangun kondisi dan suasana yang membuat anak yakin bahwa sekeras dan sehebat apapun masalah yang mereka temui diluar sana, keluarga adalah pelabuhan dan tempat terakhir yang paling nyaman dan aman di dunia ini.  Membangun kondisi dan suasana yang hangat dan akrab tidak selalu dalam arti mengikuti kehendak anak, namun tetap melatih mereka untuk mengenali perasaan, emosi dan rasanya melalui penjelasan, dialog dan penegakkan aturan dengan metode terbaik yaitu pemberian contoh.  Saat ini, figure dan peran orang tua sudah mulai diganti oleh pembantu, sopir atau guru, padahal seyogyanya, dalam penanaman nilai dan etika, peran orang tua sangat penting dalam awal pembentukan karakter anak.
Ketika fungsi afeksi diutamakan dalam sebuah keluarga, maka kecenderungan penyimpangan tingkah laku akan lebih mudah terdekteksi oleh anggota lainnya.  Kasih sayang akan menjalin sebuah hubungan emosi yang kuat antar pelaku sehingga setiap masalah yang dihadapi akan terasa lebih ringan.  Anak memiliki kebutuhan untuk diakui keberadaannya dalam sebuah keluarga berapapun usia anak tersebut.  Pengakuan akan eksistensi mereka harus diwujudkan dalam bentuk perhatian penuh, bukan perhatian dari sisa-sisa waktu kedua orang tua atau anggota keluarga lainnya.
Bunuh diri bukanlah sebuah sikap yang dilakukan secara spontan.  Beberapa ahli telah mengidentifikasi beberapa ciri sikap dari orang yang akan melakukan bunuh diri, diantaranya sering mengatakan bunuh diri, sering memikirkan dan membicarakan tentang kematian, berkeluh kesah tentang dirinya yang kesepian, sering mengatakan “mungkin semua akan menjadi lebih baik seandainya saya tidak ada”, depresi, kehilangan hasrat untuk melakukan hal-hal biasa, sering mengucapkan selamat tinggal, sering mencari dan membicarakan cara-cara bunuh diri.  Bila sebuah keluarga berfungsi dengan baik dan mengembangkan sikap saling terbuka satu sama lain maka berbagai ciri atau kecenderungan diatas sudah mudah diantisipasi dan keluarga dapat melakukan berbagai tindakan yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
Terlepas dari fungsi keluarga diatas, keluarga juga memiliki peran dalam mencegah tindakan bunuh diri dengan memberikan perhatian khusus kepada anggota keluarga yang berkecenderungan melakukan tindakan bunuh diri.  Sering terjadi orang tua dan anggota keluarga sudah tidak perlu lagi ikut campur dalam urusan pribadi masing-masing anggota keluarga ketika mereka telah dewasa.  Padahal ikatan keluarga khususnya keluarga inti atau batih tidak berhenti pada satu fase atau usia tertentu.  Ikatan emosional keluarga sangat menentukan kemampuan anak dalam bertindak.  Tidak sedikit seorang anak berpikir beberapa kali untuk melakukan tindakan yang menyimpang dengan alasan tidak mau merusak nama baik keluarga dan ini merupakan harta yang paling berharga dan cara paling efektif untuk meminimalisir terjadinya kenakalan remaja. 
Bila fungsi ini telah hilang, maka tidak mustahil bila seorang anak justru melakukan penyimpangan social (social deviant) justru dengan kesadaran untuk merusak nama keluarga.  Tidak jarang keluarga justru menjadi factor penyebab utama seseorang melakukan tindakan penyimpangan seperti bunuh diri.  Kekerasan, pelecehan dan pengabaian sering menjadi alasan bagi seorang anggota keluarga untuk membenarkan tindakannya yang menyimpang. 
Oleh karena itu, bukanlah hal yang basi bila kita terus mengingatkan kepada semua pihak untuk kembali menata fungsi dan peran keluarga dalam mengatasi berbagai hal penyimpangan social yang terjadi di masyarakat.  Keluarga sebagai sebuah ikatan bukan hanya karena landasan ekonomi dan emosi, namun juga religi.  Alasan ibadah dan landasan agama bukanlah sebuah tindakan alakadarnya dan tanpa ilmu, sehingga tidak ada alasan karena kesibukan, privacy atau demokrasi lalu merasa tidak perlu lagi menata kembali peran orang tua dalam memberikan tata nilai dan kepribadian kepada anak-anak.
Semoga tidak ada lagi kasus bunuh diri dengan alasan apapun dan dimanapun tempatnya.

Bandung, Desember 2009
Imam Wibawa Mukti,S.Pd

Minggu, 06 Desember 2009

KINI KU DUDUK DI SISI BIDADARI (10 SAJAK MENDADAK UNTUK MU)

1. DI ABDUL MUIS, SORE LIMA BELAS TAHUN YANG LALU

Lima belas tahun yang lalu
Sore jam 3 rajawali hinggap diatas bulu kepengecutan dileherku

Mata ini kulipat menyumbat
Hati kututp untuk sekedar menjilati bahasa basi
Sore itu jam 3

Kulepas lembut bulu-bulu mereak
Di Badul Muis, disarang yang sarat duka, harapan hilang dan keputusasaan
Rintihan hati memekakan suara hati

Di Abdul Muis sore jam 3
Kulepas setengah jiwa menuju ketidakpastian


2. CINTA
Lagi-lagi cinta
Cinta-cinta lagi
Cinta lagi cinta
Lagi cinta lagi
Lalu kapan saya?


3. KALAU HARUS
Kalau aku harus bicara
Agar kau menangis
Aku akan banyak bicara

Kalau aku harus berdusta
Agar kau tertawa
Aku tak’an sering berdusta

Karena untuk mu kulihat menangis dan tak tertawa
Kulakukan apa saja


4. DULU…2012

Tuhan pernah ada dan hinggap diujung perahu Nuh yang perkasa
Lalu entah mengapa Dia hilang entah kemana
Mungkin membuat mainan baru yang lebih rumit dari lego
Dan menyerahkan kuasa-Nya kepada nalar dan logika

Tapi masih banyak yang mengira
Tuhan itu masih ada dan setia
Dan bekroar seolah mereka adalahh garda-garda sorga yang dipilih-Nya

Kalau memang neraka itu ada
Lantas dimana Tuhan berada?
Dan ternyata kita masih ada!

5. KORUPSI ITU
Pelacur yang dicaci sekaligus dinikmati
Kentut yang dihindari namun dibaui diam-diam
Onani kenikmatan semu yang sering dan mudah dilakukan sambil sembunyi-sembunyi
Film porna dan miyabi yang kecantikannya kita tonton tapi kita mengingkari
Poligami yang tidak bisa kita lakukan karena
Takut isteri dan alasan ekonomi

6. DENDAM KESUMAT
Ku mrapatkan mantra
Dari peninggalan almarhum kakekku
dan
selusin bromocorah pasar minggu

dan minggu itu
dua rekanku terpuruk kaku tanpa nyawa
karena sakit aneh dokter bicara

seminggu lagi
tubuhku yang akan mewujud kaku
disebru seribu sembilu dari anak cucu rekanku itu

aku terbujur kaku
meninggalkan dendam kesumat ini pada anak cucuku


7. KEN AROK
Akus iapkan panggungku sendiri
Untuk mementaskan skenarioku
Sendiri
Menuju kematianku sendiri
Karena aku sutradara bagi sendiri
Karena penontonya pun aku sendiri


8. KALAU BOLEH AKU MENCINTA
Derak tulang tak mampu memicu kata
Untuk sekedar bicara pada empedu
Pahitmu itu adalah obat rinduku

Lidah hanya mampu berslato dalam ruang hampa
Karena kutahu mulutku tak lagi mampu berkata

Hitam, pekat dan dingin
Padahal matahari jelas membutakan mata
Disini kau jadi sumber cahaya


9. SEKARANG AKU DUDUK DI SISI BIDADARI
Walau itu hanya imaji
Bisa kurasa ini bukan mimpi

Tonggak kayu sudah kupancangkan dan enggan kutarik kembali

Lewat angin kita berkomunikasi
Seolah aku tak sendiri lagi
Melintas dalam anganku untu sejenak pergi

Tanah lembab ini bergerak kemana aku pergi
Seandainya saja aku paham
Kalau ada disini saat itu


10. CEMBURU
Luka yang tak tampak itu
Dikoyak rasa yang tak bermata

Dimana itu hati bertanya
Aku hanya membatu mencoba membunuh luka dengan senjata
Dan senjata itu adalah kamu!

Kalau hati berbicara berarti itu luka
Kalau lidah yang berkata itu dusta
Dan
Kukatakan tidak dilidah
Tidak begitu dihati

Aku rasa cemburu itu hanya milik Tuhan
Ternyata aku juga adalah Tuhan

(semua di buat tanggal 071209)

KOMUNIKASI, KEWASPADAAN ATAU PARANOID POLITIK?


Kasus bank Century bergulir begitu cepat dan mungkin tidak pernah disangka oleh semua pihak, baik dari pemerintah maupun yang menggugat kasus ini sekalipun. Bahkan kasus ini terus deras mendominasi pemberitaan media massa menggantikan kasus perselisihan antara KPK, Kejaksaan dan kepolisian. Beberapa pemberitaan malah terus menghubungkan peristiwa kkriminalisasi KPK sebagai akibat dari gigihnya KPK mengusut kasus Bank Cantury yang diduga melibatkan banyak tokoh pemerintahan negeri ini. Perlawanan yang awalnya membela KPK mulai beralih menjadi gerakan rakyat untuk menggugat penyelesaian kasus ini dan meminta pertanggungjawaban dari semua pihak yang terlibat.
Gerakan rakyat terus bergulir di berbagai daerah dengan melibatkan banyak organisasi dan tokoh masyarakat. Bahkan tuntutan pun makin keras diteriakkan, salah satunya menuntut Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Srimulyani untuk mundur seperti yang dikemukakan oleh Mantan Ketua MPR Amien Rais beberapa waktu lalu. Terakhir berita menyampaikan bahwa puncak dari gerakan ini akan menjadikan momentum Hari Anti Korupsi Dunia yang jatuh tanggal 9 Desember ini sebagai media membangun komitmen bangsa untuk memberantas korupsi di Indonesia.
Gerakan yang baru merupakan rencana ini cukup membuat pemerintah gerah dan panic. Hal ini sangat nampak dari pernyataan presiden yang mengatakan beliau telah menerima informasi bahwa gerakan ini berppotensi ditunggangi oleh pihak ketiga untuk kepentingan tujuan politik social tertentu. Bahkan beliau langsung menohok tokoh yang berperan dalam gerakan ini sebagai tokoh yang tidak pernah berbicara masalah pemberantasan korupsi namun tiba-tiba muncul dalam gerakan anti korupsi ini.
Protes dan bantahan pun kemudian bergulir. Ada yang mengatakan hal tersebut sebagai kepanikan SBY sebagai presiden yang khawatir kalau gerakan ini menjadi kekuatan rakyat yang akan melakukan gangguan social politik dan berakhir dengan turunnya pemerintahan yang berkuasa sekarang. Ada juga yang mengatakan bahwa itu hanyalah bentuk paranoid SBY terhadap berbagai gerakan yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini.

PENTINGNYA KOMUNIKASI POLITIK YANG EFEKTIF DAN EFISIEN?
Secara komunikasi politik, apapun yang dikatakan dan dilakukan presiden tentunya membawa dampak yang sangat luas dimasyarakat. Sebagai pemimpin tertinggi pemerintahan dan symbol kenegaraan, presiden tentu tidak akan sembarangan mengatakan sesuatu bila tidak dilandasi oleh bukti yang dapat dipercaya. Namun, terlepas dari validitas dan keaslian dari informasi yang beliau terima, tentunya masih dapat diperdebatkan efektif dan efisiensi dari pernyataan presiden tersebut.
Berbeda dengan kasus terorisme yang menjadi musuh seluruh bangsa ini, pernyataan presiden yang menyataan bahwa ada usaha dari teroris yang akan menjadikan beliau sebagai sasaran berikutnya, bisa jadi akan membuat semua elemen masyarakat untuk lebih berhati-hati dan aparat untuk lebih cepat bertindak mengatasi masalah terorisme tersebut. Untuk kasus Bank Century dan gerakan anti korupsi ini, pernyataan presiden dapat dianggap kontra produktif karena isu yang digulirkan merupakan isu yang sedang menjadi musuh bersama, yaitu korupsi. Sehingga kecurigaan yang nampak dari pernyataan presiden dapat dianggap sebagai bentuk “penolakan” presiden dalam usaha memberantas korupsi di Indonesia.
Terlepas dari kebenaran informasi yang mengatakan bahwa gerakan tersebut ditunggangi oleh pihak-pihak yang memiliki agenda yang tidak berhubungan dengan kasus Bank Century, namun masyarakat tidak mengetahui hal tersebut secara pasti sehingga pernyataan presiden bisa dianggap mengada-ada atau hanya bentuk kepanikan beliau dalam menghadapi kasus ini.
Dalam komunikasi, selain pesan ada factor lain yang sangat penting untuk diperhatikan yaitu pemberi pesan, penerima pesan, media dan terakhir adalah respon. Sehingga kalaupun pesan yang disampaikan oleh presiden itu benar, tapi karena disampaikan oleh presiden yang justru diduga langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan kasus ini (diduga ada aliran dana kepada tim sukses), maka penerima pesan dapat berbeda dalam menginterpretasikan pesan tersebut dan menimbulkan respon negative. Maka dalam hal ini, walaupun masih dalam bentuk kecurigaan, namun tindakan presiden tersebut dapat dikatakan kontra produktif karena terkesan mencoba melawan arus suara rakyat yang menginginkan korupsi dihapuskan dari muka bumi nusantara.
Oleh karena itu maka sebuah kewajaran bila kemudian masyarakat menganggap kepanikan SBY sebagai respon negative terhadap isu pemberantasan korupsi dan bermuara pada lahirnya opini bahwa kepanikan ini juga langsung berhubungan dengan kemungkinan benarnya anggapan aliran dana Bank Century juga singgah langsung atau tidak langsung kepada tim sukses beliau.

KEWASPADAAN ATAU PARANOID POLITIK?
Selama ini kita semua mengenal SBY sebagai presiden yang santun, tenang dan hati-hati dalam mengambil sebuah tindakan. Namun akhir-akhir ini justru terkesan sebaliknya. Kesan yang muncul dalam beberapa kasus justru menunjukkan beliau begitu panic sehingga respon yang dilakukan terkesan berlebihan.
Misalnya dalam hal terorisme, ketika bom meledak di JW. Marriot dan Fritz Carlton, presiden langsung melakukan konferensi pers dan menyatakan bahwa beliau telah menjadi sasaran berikutnya dengan bukti memperlihatkan photo-photo yang disinyalir menjadi sasaran tembak latihan para teroris. Juga dalam hal menanggapi kasus kriminalisasi KPK, beliau membuat tim 8 yang merupakan respon dari adanya gelombang perlawanan dari berbagai tokoh nasional untuk membela Bibit-Chandra sebagai representasi KPK yang teraniaya. Namun setelah dibentuknya tim 8 dan menghasilkan rekomendasi yang sangat jelas dan tegas, kemudian presiden terkesan ragu dan mengambang dalam memberikan kepastian hukum. Dan yang terakhir adalah kasus bank Century. Dalam berbagai kesempatan SBY terus mengatakan hal yang relative sama, yaitu bantahan adanya keterlibatan diri dan timnya dengan kasus Bank Century dan diakhiri dengan pernyataannya tentang adanya gerakan yang ditunggangi oleh kepentingan diluar kasus yang berkembang yaitu kasus Bank Century.
Terlihat dari sisi menjaga stabilitas, SBY sangat terinspirasi oleh stabilitas politik orde baru. Dengan dominasi dalam pemilu, parlemen dan dukungan mayoritas dari koalisi telah membuat beliau mengharapkan sebuah kemapanan politik. Usaha itu juga nampak dari adanya kompromi dalam pemilihan MPR dengan mendukung Taufik Kiemas menjadi sasaran berikutnya.
Menjaga stabilitas tentunya tidak salah dan justru hal tersebut penting dalam mendukung keberlangsungan pembangunan, namun ketika hal tersebut dilakukan kepada seluruh aspek termasuk usaha untuk membungkam aspirasi rakyat, maka itu bukan kewaspadaan namun sikap paranoid, ketakutan yang berlebihan terhadap bayang-bayang sendiri.
Kewaspadaan lebih menjurus kepada antisipasi dan usaha menghindari berbagai keputusan yang bertentangan dengan kepentingan rakyat secara umum. Kewaspadaan adalah sebuah rencana dan tindakan sistematis yang terencana dan dapat diukur secara akal budi dalam mengatasi sebuah kejadian yang mungkin terjadi dan bukan usaha untuk memperkeruh suasana dengan membuat kebijakan yang justru melawan arus suara rakyat. Kalau tidak begitu maka tidak salah bila SBY sebenarnya phobia terhadap perbedaan dan keberanekaan namun syndrome terhadap stabilitas sehingga selalu terobsesi untuk mewujudkannya. Semoga anggapan itu tidak tepat. Semoga SBY dapat terus mengatasi masalah yang dihadapi bangsa ini dengan bijak sehingga mampu membuat keputusan yang elegan, tegas dan berpihak kepada kepentingan bangsa, bukan kelompok atau sesaat saja.
Ketika segala sesuatu ditanggapi secara berlebihan, maka setiap keputusannya pun akan lebih beresiko memiliki efek domino yang tidak ringan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai presiden beliau tentunya memiliki kapasitas untuk membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal fundamental dalam bernegara dan memiliki staff yang bisa beliau jadikan juru bicara untuk hal-hal lain yang beresiko menimbulkan respon negative. Ada kalanya seorang pemimpin untuk tidak berbicara ketika hal tersebut tidak bermanfaat, namun yang lebih penting adalah kejelasan dan ketegasan dalam bertindak, khususnya yang berhubungan dengan penegakan dan supremasi hukum sebagai pilar utama dalam demokrasi.
Dan sekarang, itulah yang sedang rakyat tunggu! Semoga berbagai kejadian selama ini mampu membuat bangsa ini bisa belajar banyak tentang kualitas pemimpinnya, masyarakatnya sendiri dan mampu menentukan langkah yang paling tepat untuk merubahnya sesegera mungkin demi kebelangsungan bangsa ini kearah yang lebih baik. Semoga!

Imam Wibawa Mukti,S.Pd
Guru SMP Taruna Bakti dan pengamat social pendidikan
085624098017

Rabu, 02 Desember 2009

KETIKA ISTERIKU MENIKAH LAGI


“Apa…….??????”
Serasa dirinya disambar truck tronton yang langsung menghantam tubuhku dan menghempaskan seluruh puing-puing tubuhnya jauh kedasar bumi paling dalam.
Dilihatnya sesosok wanita dihadapannya itu. Seraut wajah dingin namun cantik tengah menatap diriku dengan tajam. Seulas senyum tersungging dibibirnya dan aku sangat sulit menterjemahkannya saat ini.
Isteriku ingin menikah lagi?
“Ga usah berlebihan gitu deh pa…kan saya mencoba jujur sama papa. Mama ngga bisa bohongi papa tentang perasaan mama”
Aku tetap dalam posisiku. Bersandar ke tembok dengan posisi lutut tertekuk dan tertahan kedua telapak tangan. Kepalaku tertunduk dan menatap tajam seekor semut yang sedang berkeliling mengitari jempol kakiku. Aku berusaha menekan perasaanku yang tengah galau.
“Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?” pikirku. Baru saja kemarin aku mengambil keputusan untuk mengatakan hal yang sama kepada isteriku. Aku akan meminta ijinnya untuk menikahi teman SMA-ku dulu yang sekarang telah menjadi janda dengan satu orang anak.
Dan sekarang aku layaknya seorang prajurit yang kalah sebelum berperang. Segudang alasan yang sudah aku rancang dan aku persiapkan menjadi buyar.
“Mama bukan ngga sayang lagi ama papa. Mama kasihan melihat papa selama ini bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan mama dan anak-anak. Sekarang mama ingin membantu papa” Jelas isteriku yang tengah berjongkok di pojok ruang tamu.
“Menolongku? Membantuku? Puihhh…aku lelaki yang masih bisa mencari nafkah untuk keluargaku…” gerutuku dalam hati. Tak terasa mata menjadi berat dengan genangan air mata.
“Dia itu teman mama waktu kuliah. Dan kita bertemu dua bulan kemarin di acara reuni. Dia sudah menjadi pengusaha sukses dan sudah memiliki dua isteri. Ketika mama menceritakan kondisi keluarga kita yang sederhana ini dia mencoba menawarkan kepada mama untuk menjadi isterinya” Papar isteriku. Dimataku dia sama sekali tidak menunjukkan sebuah kecanggungan.
“Dia tahu kok mama sudah menikah. Dia ngga peduli mama udah menikah sama papa. Dia hanya meminta waktuku yang ada untuk mendampinginya diwaktu-waktu tertentu. Bagi dia, bisa mendapatkan sisa-sisa waktuku sudah cukup untuk menunjukkan rasa sayangnya pada mama. Dia ternyata sudah menyimpan perasaannya itu sejak lama”
Aku tak mendengarnya dengan jelas. Yang ada dalam pikiranku sekarang adalah, isteriku sudah gila! Aku bangkit dan meluruskan tubuhku seolah mampu menjadi pahlawan dari perang yang telah menghancurleburkanku.
“Baik…sekarang mama tinggal pilih! Tetap bersama papa dan anak-anak atau kita berpisah!” ucapku dengan gemetar.
“Pa…mama kan tidak minta cerai. Mama lakuin ini karena sayang ama papa. Biarlah papa bekerja dengan tenang dan tidak lagi perlu bekerja keras sampai malam seperti sekarang ini hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mama akan dapat memenuhi kebutuhan mama dari, bahkan mungkin bisa juga mendapatkan biaya untuk sekolah anak-anak kita. Masa depan mereka masih panjang pa…!”
Aku sudah tak berani lagi menatap isteriku. Aku yakin semua alasan itu hanyalah mengada-ada dan hanya dijadikan pembenaran bagi nafsunya yang tinggi sementara sekarang, karena factor kelelahan aku sering tidak bisa menunaikan kewajiban sebagai suami sampai tuntas.
Isteri memang tidak pernah mengeluh dengan kelemahanku ini, namun aku merasakannya. Isteriku tidak puas dengan pelayanku selama ini.
Tapi apakah bukan sebuah kegilaan kalau seorang isteri meminta ijin untuk menikah lagi. Budaya kita selama ini hanya memberi ruang kepada laki-laki untuk poligami dan tidak untuk poliandri!

Dan sekarang aku sudah ada di sebuah rumah mewah. Rumah yang hanya mampu aku mimpikan. Sebuah rumah berlantai tiga dengan 5 kamar besar. Bahkan aku sudah menjadi pemilik sebuah took yang menyediakan aksesoris kendaraan bermotor yang cukup besar. Anak-anakku tiap hari selalu dijemput mobil jemputan yang disewa isteriku. Rp. 250.000,00 perbulan untuk itu.
Untuk kerja aku sudah memakai sebuah sedan yang cukup bagus walaupun keluaran tahun 2000 awal. Kini kakiku tidak lagi perlu berlari mengejar bis kota yang penuh sesak, miring dan bau itu. Keuntungan yang aku dapatkan dari took itu tidak pernah sama sekali ditanyakan oleh isteriku. Tapi walaupun begitu, aku tidak pernah melihat lemari pendingin di rumahku kekurangan bahan makanan. Selalu saja ada makanan baru setiap hari. Bahkan sampai saat ini aku mengira anak-anakku sekolah di sekolah negeri yang gratis. Karena anak-anakku tidak pernah meminta uang untuk jajan dan SPP sekolah.
Derit pintu pagar terdengar diikuti dengan raungan mobil sedan mewah. Pasti isteriku! Aku bergegas keluar untuk menyambutnya dan bertanya kesannya liburan di Bali.
“Eh papa…tolong bawain kopornya ya pa….! capek nih… sekalian saja ambil oleh-oleh dari Mas Tresno buat papa” Sapanya sambil melewati tubuhku yang berdiri kaku. Terpaku dengan kecantikan isteriku yang luar biasa. Aku melihat cahaya kebahagiaan dari wajahnya yang tidak pernah aku lihat ketika dia menghabiskan waktu 13 tahun denganku.
Aku mengikutinya ke kamar tidur. Sebuah kamar yang selama ini aku lihat di sinetron-sinetron yang ditayangkan di layar kaca. Sebuah impian lainnya yang kini menjadi kenyataan.
“Capek ya….? tapi senang kan kamu bisa merasakan bulan madu yang sesungguhnya” sindirku. Aku berusaha mengatakan itu dengan nada yang sangat datar. Aku tidak ingin menunjukkan kecemburuanku yang menggemuruh selama ini.
Semenjak isteriku mengatakan ingin menikah lagi, aku menyimpan beban yang mungkin tidak akan pernah terpikirkan oleh semua lelaki didunia ini.

“Mama sayang sekali sama papa….! Bahkan pernikahan ku dengan Mas Tresno karena rasa sayang mama kepada papa. Mama selama ini melihat kerja keras papa sudah menguras kekuatan dan kesehatan papa. Mama bisa merasakannya walaupun papa tidak pernah mengatakannya. Papa lebih sering sakit dan tidak bisa menikmati pernikahan yang seharusnya menjadi hak papa. Mama tahu itu. Makanya mama tidak meminta cerai kepada papa. Kalau orang lain mungkin akan kabur dari suaminya ketika ada lelaki yang berani menjamin dirinya dengan harta. Tapi mama tidak…! Mama ingin papa juga bisa merasakan apa yang mama rasakan dengan jaminan kekayaan yang akan diberikan Mas Tresno”
Diam.
Hening.
Aku tidak pernah bisa membayangkan kalau isteriku yang selama ini juga bekerja di perusahaan kecil di kota ini bisa mengatakan semua itu dengan sangat jelas dan tegas. Sebuah niat yang mulia dan sekaligus gila.
Poliandri. Budaya kita akan menganggap wanita seperti itu sebagai wanita yang tidak bermoral, tuna susila, materialistis dan sundal. Tapi sekarang, aku mendengar alasan yang belum pernah aku bayangkan.
“Ma…papa selama ini berusaha untuk memenuhi kebutuhan mama dan anak-anak. Tapi begini kemampuan papa. Papa tidak bisa member lebih dari yang mama harapkan selama ini. jangan berdalih demi kepentingan papa, lantas mama merasa dibenarkan untuk melakukan poliandri. Papa ngga akan ikhlas kalau mama menikah lagi. Lebih baik papa menceraikan mama!” teriakku.
“Pa….! kalau papa menceraikan mama maka mama tidak akan pernah menikah dengannya! Alasan mama menikah dengan dia karena justru karena mama ingin merasakan hidup berkecukupan dengan papa. Dia sudah memiliki dua isteri dan tidak ada alasan lain yang membuat mama memikirkan tawaran dia kalau bukan karena papa dan anak-anak. Papa sudah cukup menunjukkan rasa sayang papa sama anak-anak!”
“Tapi bulan madu yang baru saja kamu lakukan….”
“Kenapa? Salah sepasang pengantin baru melakukan bulan madu?” Tanya isteriku menyambar kalimatku yang belum selesai.
Aku kembali terdiam. Aku sendiri tak habis piker mengapa aku sendiri mau mengijinkan isteriku menikah lagi. Mungkin karena beberapa hari setelah isteriku mengatakan akan menikah lagi, isteriku langsung mengajak pindah ke rumah ini. Rumah impian setiap keluarga yang memiliki cita-cita untuk membangun rumah tangga yang bahagia. Dan aku terkesima dengan segala kekayaan yang diberikan Tresno kepada isteriku, anak-anakku dan sekaligus kepadaku. Tresno jugalah yang memberikan modal kepadaku untuk membuka toko aksesoris kendaraan bermotorku kini.
Siapa yang sebenarnya materialistis? Isteriku atau aku?

Dua tahun sudah aku menjalani pernikahan di dalam sebuah pernikahan. Kehidupanku sekarang lebih dari cukup. Materi aku sudah melebihi kebutuhan keluargaku, sementara isteriku tidak pernah menuntut haknya dari harta yang aku peroleh.
Kini saatnya aku yang akan berbicara kepada isteriku.
Aku akan menikahi teman SMA ku yang sampai sekarang masih menungguku. Sebuah penantian tanpa kepastian bagi dia karena menungguku mengambil keputusan.

“Siapa orangnya pa…?” jawab isteriku datar.
Sebuah reaksi yang tidak aku bayangkan sebelumnya. Aku telah menyediakan diriku untuk menerima dampratan isteriku ketika aku akan mengatakan maksudku ini. aku semakin terheran-heran ketika isteriku tersenyum.
“Pa…pernikahanku dulu dengan Mas Tresno telah membuat keluarga kita berkecukupan. Sekarang mama mau Tanya sama papa…apakah pernikahan papa ama dia akan membuat keluarga kita akan menjadi lebih baik lagi?”
Sejuta kali aku terdiam. Aku menatap tajam isteriku. Siapa dia sekarang? Begitu pintarnya dia membalikkan logika atauu bahkan sangat termat sangat logis sehingga aku selalu kehabisan kata-kata untuk menjawabnya.
“Kalau pernikahan papa hanya akan menyedot kekayaan yang sudah kita kumpulkan selama ini…lebih baik papa memikirkannya lagi!”tegas, singkat dan jelas.
“Kalau pernikahan mama dimasa lalu untuk menolong papa dan keluarga supaya bisa menikmati kekayaan dan kebahagiaan, mama sekarang Tanya, apakah pernikahan papa itu untuk kebahagiaan mama dan anak-anak atau hanya untuk sekedar memuaskan nafsu dan fantasi papa dan dia dimasa lalu?” kembali pertanyaan isteriku menohok ulu hatiku. Langsung ke pokok masalah.
“itulah masalahnya pa…kalau seorang suami melakukan poligami, maka dia akan rela mengeluarkan uang yang sebenarnya hak isteri dan anak-anaknya. Sementara kalau seorang isteri menikah lagi, kemungkinan besar justru akan lebih banyak menerima kekayaan. Jadi mama rasa pernikahan papa tidak lebih dari kegiatan sambilan papa karena sekarang papa sudah merasa berkecukupan. Namun bayangkan kalau ternyata papa bangkrut, apakah dia akan mau menikah ama papa?”
“Ma…papa sudah akan mengatakan hal ini dua tahun yang lalu tepat ketika mama mengatakan hal yang sama” jawabku. “Dia sudah bersedia menikah dengan papa dan menunggu papa meminta ijin ke mama untuk menikahinya” Lanjutku. Suaraku bergetar karena khawatir pernyataan dan pertanyaan isteriku akan membuatku mati kutu.
“Dan mama minta papa membayangkan apa yang akan terjadi kalau dulu papa mengatakannya terlebih dahulu dari mama. Apakah kehidupan kita akan lebih baik dari sekarang atau justru akan lebih buruk dari kehidupan kita yang dulu?”

Sekarang aku tinggal di rumah kontrakan yang sempit. Hidup sendiri karena sudah setahun ditinggal isteriku dari pernikahan yang kedua. Dia meninggalkanku karena bayangannya tentang diriku jauh dari kenyataan. Dia kecewa dan memilih untuk kembali hidup sendiri.
Sementara itu isteri dan kedua anakku sudah pindah mengikuti suaminya yang sedang bertugas di luar negeri karena urusan bisnis. Sekarang aku lagi bingung dan bersembunyi karena harus membayar beberapa pinjaman yang belum mampu aku bayar.

Laman